Blog Milis #Pendaki Indonesia

"Persahabatan terjalin, persaudaraan terengkuh, bersama mengukir cinta kepada Alam"

April 11, 2006

pendaki dari masa ke masa

Filed under: Opini Kita - Administrator @ 7:31 am

satu hal menarik untuk dibahas :) hehehhehhe…dulu dijamanku, selalu ada carabiner tergantung di daypack…hahhahha bukti pencarian identitas diri..dan pertanyaannya, apakah pencarian identitas itu selesai? NOT YET!!! aku akan terus berusaha untuk mencari siapa aku sesungguhnya, hingga ketika aku bertemu dengan mati, sebagai jawaban dari pencarian yang selama ini kulakoni. tapi aku tidak mau mati sia-sia! aku mau mati dalam pelukan tuhan, dan belaian malaikat pencabut nyawa!
  
  selain caribiner (entah itu screw atau competition) masih banyak pernak pernik yang ku pake untuk jadi aksesoris, pembuktian eksistensi dan bukti jati diri. Bahkan aku yakin  sampai sekarang, DAYPACK/BACKPACK/RANSEL atau apalah itu namanya, masih tetap ada kemanapun aku pergi, bahkan ke toilet sekalipun, kecuali aku sedang berada di RUMAH. dan aku yakin hingga sekarang masih banyak yang memanggul daypack, walaupun gak ada isinya.
  
  satu hal yang paling aku inget, pertama kali aku punya sepatu, dompet, tas sekolah, sampai sendal dan kaos dan topi, bahkan celana STM ku merknya ALPINA. hehehhehhe….saat itu alpina menjadi simbol remaja di sekitarku. padahal ketika itu, dikampungku, sebenarnya belum terlalu familiar dengan barang begituan. satu merk lagi yang menjadi icon pada saat itu dan menjadi pesaing dari alpina cuma EIGER dan bertahan hingga kini hingga memiliki counter hampir ditiap daerah di indonesia. hebat tuh managementnya :)
  
  ah…mengenang masa lalu yang tak mungkin kembali, kadang hanya membuat hati iri, haru, dan sendu :) tapi kenanganku akan menjadi kenangan yang paling indah di muka planet ini, setidaknya untukku. huuuuuuuuu…basi!!!

INDRA QONYEK <jackraung@yahoo.com> 

SAVE THE F****G RIVER OF CILIWUNG

Filed under: Opini Kita - Administrator @ 7:29 am

ciliwung ?
  mmm….neeh gw punya dikit tulisan mengenai ciliwung..Dulu pernah investigasi juga ke sini…
  sayangnya gak bisa attach foto
  padahal ada beberapa yang sempet di jepret,,,,gak pa-pa deh baca dikit aja yah
  
  salam ciliwung
  
  SAVE THE F****G RIVER OF CILIWUNG
              Menelusuri sebagian dari sungai Ciliwung, ternyata memang menyenangkan. Perbandingan sangat kontras dapat tertangkap mata hanya dalam hitungan beberapa meter. Sisi lain kehidupan bantaran kali Ciliwung, yang menampakkan pesona sebuah penjelmaan masa lalu yang masih ada hingga sekarang. Riuhnya anak-anak kecil mandi pada sisi-sisinya, bergelayutan pada sebuah akar pohon yang menjuntai ke air, kemudian menceburkan diri kedalamnya, atau giatnya sang ibu mencuci baju dan keperluan keluarga lainnya, serta seorang bapak yang berwudhu di sana. Lalu, bagaimana sebenarnya wajah Ciliwung disana? Kami, menelusuri sebagian dari sisi lain kehidupan  bantaran sungai yang konon menjadi momok paling menakutkan kala musim penghujan datang oleh masyarakat Jakarta.
  
              Sungai Ciliwung merupakan salah satu sungai yang mengalir melintasi batas kota/ propinsi dan memiliki fungsi penting bagi masyarakat sekitar yaitu sebagai sumber air baku, penggelontoran, jalur transportasi, dan sebagainya. Namun demikian, sejalan dengan pertumbuhan kota yang terjadi, kondisi Sungai Ciliwung dan lingkungan sekitarnya semakin hari semakin memburuk. Banyaknya penduduk yang tinggal di pinggiran sungai menjadi permasalahan sungai Ciliwung menjadi semakin kompleks. Selain menimbulkan kekumuhan, perlakuan penduduk kepada Sungai Ciliwung juga kurang bertanggung jawab, karena anggapan Sungai Ciliwung sebagai bagian belakang rumah mereka.

Sungai Ciliwung merupakan bagian dari Satuan Wilayah Sungai (SWS) Ciliwung - Cisadane. Sebagai bagian dari SWS Ciliwung - Cisadane, Sungai Ciliwung mempunyai daerah tangkapan + 337 Km2 mengalir sepanjang 117 km bermata air di Gunung Pangrango (3.019 m) yang terletak di sebelah selatan Kota Bogor dan bermuara di Laut Jawa. Sungai Ciliwung mengairi sekitar 3.853 ha sawah dari Bendung Katulampa.

Daerah hulu Sungai Ciliwung yang berfungsi sebagai kawasan resapan air dan melindungi daerah di bawahnya sangat sensitif terhadap perubahan debit aliran sungai yang pada gilirannya memberikan implikasi terhadap resiko serius terhadap ker usakan lingkungan. Kawasan resapan air merupakan kawasan yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (akuifer) yang bermanfaat sebagai sumber air. Kawasan resapan air berarti dalam daerah terbuka, dimana air yang datang dari atas atau air hujan dapat leluasa tergenang dan meresap ke dalam tanah untuk mengisi rongga-rongga air dalam tanah. Kawasan resapan air sangat perlu dilindungi karena hal ini merupakan tindakan preventif dari suatu tindakan pelestarian sumber daya air tanah dan penanggulangan banjir.

Kriteria umum penetapan kawasan resapan adalah mempunyai curah hujan tinggi, struktur tanah yang mudah meresapkan air dan bentuk geomorfologi yang mampu meresapkan air dan bentuk geomorfologi yang mampu meresapkan air hujan secara besar-besaran.
Berdasarkan Rakeppres tentang Penantaan Ruang Kawasan Jabodetabek-Punjur (2003) menyebutkan pola pemanfaatan ruang DAS Ciliwung ditetapkan sebagai salah satu Kawasan Prioritas dengan fungsi utamanya adalah kawasan resapan air.
Beberapa permasalahan utama yang harus dimitigasi oleh berbagai kebijakan terkait dalam pengelolaan Sungai Ciliwung seperti RTRW DKI Jakarta, Jawa Barat, RTRW Kabupaten/Kota serta peraturan terkait lainnya akan diuraikan lebih rinci mulai dari daerah hulu - tengah - hilir. Pada bagian selanjutnya identifikasi permasalahan daerah hulu dan tengah dikelompokkan menjadi satu bagian mengingat memiliki keterkaitan yang kuat, dan bagian hilir secara khusus.
  
  Masih ada kehidupan lain di Ciliwung
              Nampaknya, gambaran sungai Ciliwung, akan jauh berbeda jika kita lihat dari sebelah kota Depok. Jika di Jakarta ia merupakan momok yang sangat menggemparkan, bahkan konon sang empunya Jakarta saat ini alias Bang Yos memusuhi habis-habisan Ciliwung, karena kerap kali menimbulkan masalah yang seruis. Masih Ingat banjir yang hampir menenggelamkan separuh Jakarta, pada beberapa tahun lalu, atau yang masih hangat dari ingatan kita pada Januari 2005, yang lalu? Belum lagi efek yang di timbulkan sesudahnya seperti penyakit dan lainnya.
              Tapi disini, suasana bersahabat bisa kita temui. Rimbunan poho-pohon perdu pada kedua sisinya, menyajika pemandangan indah yang menyejukkan mata. Apalagi, jika kita berjalan pada jembatan gantung setinggi hampir sepuluh meter, wih..serasa kita melayang pada pucuk-pucuk bamboo yang rimbun. Memandang dengan leluasa riak-riak air Ciliwung yang memang sedang bersahabat.  Ada alunan musik dari sebuah rumah dengan sound cukup keras, dan ruihnya anak-anak mandi dan mencemplungkan diri kesungai tanpa takut terbawa arus air. Sungai yang mendangkal pada musim ini, memang nampaknya tidak terlalu berbahaya, meski hal terburuk seperti banjir banding bisa saja terjadi. "Dulu kalau banjir, bisa setinggi itu, " ucap seorang anak sambil menunjuk sebuah jembatan berketinggian sekitar 10 meter. "Malah pernah sampe masuk rumah, semuanya banjir," tambahnya.
              Menuruk keterangannya pula, saya mendapat informasi, bahwa mereka memang setiap hari mandi di sungai ini.  Tidak menghiraukan bahaya hanyut, atau terbentur batuan. Tawa canda mereka membahana menghisai setiap lompatan keair. Laki-laki dan perempuan, semuanya berbaur. "Soalnya, dirumah nggak ada kamar mandi, jadi lebih baik mandi disini," ujarnya polos. Pada saat itu, seorang ibupun tengah asik mencuci baju dan pakaian keluarga serta beberapa peralatan dapur. Serta pada sisi yang lain seorang lelaki tangah berwudhu, karena memang saati itu adzan ashar sudah berkumandang.
              Kehidupan sepanjang bantaran ciliwung, memang sangat menarik di korek. Jika sekarang kita masih membuang sampah dan libah kesungai, nampaknya, hal tersebut harus segera di hentikan. Sebab, pada sisi yang lain, kehidupan mereka sangat bergantung dari kearifan kita.
              Menjelang sore, kami pulang dengan sejuta cerita dan "PR" yang masih tersisa di kepala. Kelak, apa yang bisa kami lakukan dengan keindahan Ciliwung.
  
  Boim Akar
  Juli 2005
  

http://www.anakabah.blogspot.com/

Gerakan AntiGlobalisasi untuk menghadang neoliberalisme dan perusakan lingkungan

Filed under: Opini Kita - Administrator @ 7:26 am

By agli@gramedia-majalah.com

Gerakan AntiGlobalisasi untuk menghadang neoliberalisme dan perusakan
lingkungan dan Privatisasi Air di Indonesia.

Anti-Globalisasi adalah suatu istilah yang umum digunakan untuk
memaparkan sikap politis orang-orang dan kelompok yang menentang
perjanjian dagang global dan lembaga-lembaga yang mengatur perdagangan
antar negara seperti Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

"Anti-Globalisasi" dianggap oleh sebagian orang sebagai gerakan
sosial, sementara yang lainnya menganggapnya sebagai istilah umum yang
mencakup sejumlah gerakan sosial yang berbeda-beda. Apapun juga
maksudnya, para peserta dipersatukan dalam perlawanan terhadap ekonomi
dan sistem perdagangan global saat ini, yang menurut mereka mengikis
lingkungan hidup, hak-hak buruh, kedaulatan nasional, dunia ketiga,
dan banyak lagi penyebab-penyebab lainnya.

Namun, orang-orang yang dicap "anti-globalisasi" sering menolak
istilah itu, dan mereka lebih suka menyebut diri mereka sebagai
Gerakan Keadilan Global, Gerakan dari Semua Gerakan atau sejumlah
istilah lainnya.

Anti-Globalisasi sebagai Anti-Neoliberalisme

Banyak pihak melihat gerakan ini sebagai tanggapan kritis terhadap
pengembangan neoliberalisme, yang secara luas dianggap telah dimulai
oleh kebijakan Margaret Thatcher dan Ronald Reagan menuju kapitalisme
laissez faire pada tingkat global dengan mengembangkan privatisasi
ekonomi negara-negara dan melemahkan peraturan perdagangan dan bisnis.
Para penganjur neoliberal berpendapat bahwa peningkatan perdagangan
bebas dan pengurangan sektor publik akan membawa manfaat bagi
negara-negara miskin dan kepada orang-orang yang miskin di
negara-negara kaya. Kebanyakan pendukung anti-globalisasi sangat tidak
sependapat, dan menambahkan bahwa kebijakan neoliberal dapat
menyebabkan hilangnya kedaulatan lembaga-lembaga demokratis.

Neoliberalisme yang juga dikenal sebagai paham ekonomi neoliberal
mengacu pada filosofi ekonomi-politik yang mengurangi atau menolak
campur tangan pemerintah dalam ekonomi domestik. Paham ini memfokuskan
pada metide pasar bebas, pembatasan yang sedikit perilaku bisnis , and
hak-hak milik pribadi. Dalam kebijakan luar negeri, neoliberalisme
erat kaitannya dengan pembukaan pasar luar negeri melalui cara-cara
politis, menggunaka tekanan ekonomi, diplomasi, dan/atau intervensi
militer. Pembukaan pasar merujuk pada perdagangan bebas.

Neoliberalisme secara umum berkaitan dengan tekanan politis
multilateral, melalui berbagai kartel pengelolaan perdagangan seperti
WTO dan Bank Dunia. Ini mengakibatkan berkurangnya wewenang
pemerintahan sampai titik minimum. Neoliberalisme melalui ekonomi
pasar bebas berhasil menekan intervensi pemerintah (seperti paham
Keynesianisme), and melangkah sukses dalam pertumbuhan ekonomi
keseluruhan. Untuk meningkatkan efisiensi korporasi, neoliberalisme
berusaha keras untuk menolak atau mengurangi kebijakan buruh seperti
upah minimun, dan hak-hak daya tawar kolektif.

Neoliberalisme bertolakbelakang dengan sosialisme, proteksionisme, dan
environmentalisme. Secara domestik, ini tidak langsung berlawanan
secara prinsip dengan poteksionisme, tetapi terkadang menggunakan ini
sebagai alat tawar untuk membujuk negara lain untuk membuka pasarnya.
Neoliberalisme sering menjadi rintangan bagi perdagangan adil dan
gerakan lainnya yang mendukung hak-hak buruh dan keadilan sosial
seharusnya menjadi prioritas terbesar dalam hubungan internasional dan
ekonomi.

di Indonesia

Di Indonesia, walaupun sebenarnya pelaksanaan agenda-agenda ekonomi
neoliberal telah dimulai sejak pertengahan 1980-an, antara lain
melalui paket kebijakan deregulasi dan debirokratisasi, pelaksanaannya
secara massif menemukan momentumnya setelah Indonesia dilanda krisis
moneter pada pertengahan 1997.

Menyusul kemerosotan nilai rupiah, Pemerintah Indonesia kemudian
secara resmi mengundang IMF untuk memulihkan perekonomian Indonesia.
Sebagai syarat untuk mencairkan dana talangan yang disediakan IMF,
pemerintah Indonesia wajib melaksanakan paket kebijakan Konsensus
Washington melalui penanda-tanganan Letter Of Intent (LOI), yang salah
satu butir kesepakatannya adalah penghapusan subsidi untuk bahan bakar
minyak, yang sekaligus memberi peluang masuknya perusahaan
multinasional seperti Shell. Begitu juga dengan kebijakan privatisasi
beberapa BUMN, diantaranya Indosat, Telkom, BNI, PT. Tambang Timah dan
Aneka Tambang.

Kritik terhadap neoliberalisme terutama sekali berkaitan dengan
negara-negara berkembang yang aset-asetnya telah dimiliki oleh pihak
asing dan yang and yang institusi ekonomi dan politiknya belum
terbangun yang telah dikuras sebagai akibat tidak terlindungi dari
arus deras perdagangan dan modal. Bahkan dalam gerakan neoliberal
sendiri terdapat kritik terhadap berapa banyak negara maju telah
menuntut negara lain untuk meliberalisasi pasar mereka bagi
barang-barang hasil industri mereka, sementara mereka sendiri
melakukan proteksi terhadap pasar pertanian domestik mereka.

Pendukung antiglobalisasi adalah pihak yang paling lantang menentang
neoliberalisme, terutama sekali dalam implementasi "pembebasan arus
modal" tetapi tidak ada pembebasan arus tenaga kerja. Salah satu
pendapat mereka, kebijakan neoliberal hanya mendorong sebuah
"perlombaan menuju dasar" dalam arus modal menuju titik terendah untuk
standar lingkungan dan buruh.

daftar pustaka:

    * Scott Wallsten and Katrina Kosec. "Public or Private Drinking
Water? The Effects of Ownership and Benchmark Competition on U.S.
Water System Regulatory Compliance and Household Water Expenditures",
Brookings Institution Working Paper 05-05.

    * A. Estache, S. Perelman, L. Trujillo (2005), "Infrastructure
performance and reform in developing and transition economies:
evidence from a survey of productivity measures", World Bank Policy
Research Working Paper 3514, February 2005.

    * Clare Joy and Peter Hardstaff (2005), "Dirty aid, dirty water:
The UK Government’s push to privatise water and sanitation in poor
countries", World Development Movement, February 2005

    * Belén Balanyá, Brid Brennan, Olivier Hoedeman, Satoko Kishimoto
and Philipp Terhorst (eds), Reclaiming Public Water: Achievements,
Struggles and Visions from Around the World, Transnational Institute
and Corporate Europe Observatory, January 2005. ISBN 90-71007-10-3.

    * Greenhill, Romilly, and Wekiya, Irene (2004), Turning off the
taps: donor conditionality and water privatisation in Dar es Salaam,
Tanzania, London, UK, ActionAid.

    * David Hall and Robin de la Motte, Dogmatic Development:
Privatisation and conditionalities in six countries, War on Want.
    * Emanuele Lobina and David Hall, Problems with private water
concessions: a review of experience, PSIRU, University of Greenwich
    * Steven Renzetti and Diane Dupont (2003), "Ownership and
Performance of Water Utilities", Greener Management International 42,
Summer 2003

Hari Air Sedunia 2006 “Air dan Kebudayaan”

Filed under: Opini Kita - Administrator @ 7:24 am

Hari Air Sedunia 2006 "Air dan Kebudayaan"

Hari tepatnya tanggal 22 Maret 2006 diperingati sebagai hari air sedunia dan tema yang diambil tahun ini "Air dan Kebudayaan". Tanggal 22 Maret sejak dicetuskan sebagai hari air sedunia tidak lepas dari penyelenggaraan KTT Bumi di Rio de Janero, 1992. Yang kemudia ditetap oleh PBB melalui resolusinya yang sekaligus menetapkan tanggal 22 Maret sebagai hari air sedunia terhitung sejak tahun 1993. Dan sejak ditetapkannya hingga saat ini setiap tahunnya mengusung tema2 yang berbeda-beda namun tetap berkesinambungan.
 
  Hari Air Sedunia (World Water Day) diperingati setiap 22 Maret. Peringatan ini sebagai wahana untuk memperbarui tekad kita untuk melaksanakan Agenda 21 yang dicetuskan pada tahun 1992 dalam United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) yang diselenggarakan di Rio de Janeiro, atau secara populer disebut sebagai Earth Summit (KTT Bumi).
 
  Pada Sidang Umum PBB ke 47 tanggal 22 Desember 1992 melalui Resolusi Nomor 147/1993, usulan Agenda 21 diterima dan sekaligus ditetapkan pelaksanaan Hari Air Dunia pada setiap tanggal 22 Maret mulai tahun 1993 di setiap anggota PBB. Tema-tema yang dipilih tiap tahun sejak tahun 1994 meliputi Peduli Akan Sumber daya Air adalah Urusan Setiap Orang (1994), Wanita dan Air (1995), Air untuk Kota-kota yang Haus (1996), Air Dunia Cukupkah? (1997), Air Tanah-Sumber Daya yang tak Kelihatan (1998), Setiap Orang Tinggal di Bagian Hilir (1999), Air untuk Abad 21 (2000), Air untuk Kesehatan (2001), Air untuk Pembangunan (2002), Air untuk Masa Depan (2003), dan Air dan Bencana (2004), "WATER FOR LIFE" atau air untuk kehidupan. Itulah tema peringatan Hari Air Sedunia (HAS) 2005.
 
  Sesuai dengan temanya tahun ini "air dan kebudayaan". Tentu kita menyadari betapa air memang sudah menjadi sumber kehidupan dan budaya masyarakat dunia. Berbagai upacara kebudayaan termasuk yang bermuatan religius menggunakan air. Bahkan di beberapa negara sungai menjadi tempat yang disucikan seperti, air sungai gangga. Air bisa dikatakan harta karun yang sangat bernilai harganya dibanding harta apapun di dunia karena seluruh makhluk hidup sangat memerlukannya.
 
  Menurut Lembaga Ilmu Pengatahuan Indonesia (LIPI), Indonesia memiliki 6% potensi air dunia atau 21% potensi air di Asia Pasifik. Namun dari waktu ke waktu Indonesia mengalami krisis air bersih, baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya.
 
  Berikut berita tentang hari air sedunia yang saya kutip dari harian pikitan rakyat pada peringatan hari air sedunia tahun 2005.
 
  "SEPERTI juga yang berlaku bagi banyak suku bangsa di dunia, air bagi masyarakat Sunda memiliki kedekatan tersendiri. Air tidak dipandang sebatas fungsi dan kegunaan. Tetapi air dalam filosofi kesundaan menurut sejarawan Dr. Nina Lubis adalah kristalisasi nilai-nilai yang pesan dan amanatnya akan selalu aktual sepanjang masa.
 
  "Seperti yang dapat disimak pada peribahasa-peribahasa yang berbunyi, ka cai jadi saleuwi ka darat jadi salebak. Caina herang beunang laukna, Pindah cai pindah tampian, dan masih banyak lagi," kata Nina.
 
  Dalam peribahasa itu tercermin kearifan lokal (local wisdom) bagaimana urang Sunda yang merupakan bagian dari masyarakat dunia, merasa begitu dekat dan bergantung pada air. "Bahkan dalam penyebutan lemah cai, air menjadi semacam pengikat. Jika di Belanda dikenal vaderland, maka di Sunda dikenal sebutan lemah cai (tanah air)."
 
  Dalam kehidupan keseharian, air bagi orang Sunda juga dikenal sebagai tempat-tempat yang disakralkan. Sebutan sirah cai mengisyaratkan sebuah tempat yang angker. Bila dilihat sepintas, penamaan tersebut terkesan berbau animisme. Padahal justru di balik penamaan itu tersimpan pesan-pesan lingkungan agar tempat tersebut tetap terjaga kelestariannya.
 
  Kedekatan lain masyarakat Sunda dengan air, dapat dilihat dalam penamaan tempat secara legendaris. Seperti penamaan suatu daerah/wilayah yang mengacu pada nama sungai. Bukan sebaliknya, penamaan sungai berdasarkan tempat. Seperti dalam penamaan Kota Cimahi. Disebut Cimahi karena dulunya di kawasan tersebut terdapat sungai (ci dari cai) Cimahi. Berbeda dengan yang berlaku di Jawa, meski esensinya sama penamaan digunakan kali seperti Kali Opak, dst.
 
  Begitu juga dalam aspek politis masyarakat Sunda. Air sering dipergunakan sebagai batas wilayah administratif. Bahkan kebiasaan ini menurut Nina Lubis, diadopsi pula oleh Belanda seperti pada Perjanjian No.05. Dalam perjanjian yang berisi penyerahan wilayah Priangan dari Mataram ke VOC itu disebutkan, bahwa wilayah yang diserahkan dibatasi Citanduy di bagian barat dan Cimanuk di timur sampai ke selatan dibatasi Cidonan.
 
  Bukan itu saja, kedekatan orang Sunda dengan air juga tampak letak-letak ibu kota kerajaan yang berlokasi selalu berada di tepi sungai. Di mana air bukan saja menjadi sumber kehidupan tetapi juga menjadi sumber transformasi yang membawa perubahan bagi kerajaan tersebut.
 
  **
 
  SAYANGNYA, kearifan lokal yang terbukti menjadi pengikat harmoni antara alam dan lingkungannya, kini hanya sebatas manuskrip masa lalu yang tidak pernah menjadi uswah atau refleksi masa kini. Cara pandang pengelolaan lingkungan yang terjebak pada "antroposentrisme" yang sekadar memandang manusia sebagai pusat dunia, terbukti telah mendegradasi kualitas lingkungan pada titik nadirnya. Termasuk air.
 
  Anggota Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) Ir. S. Sobirin menguraikan data yang semakin membuat kita prihatin tentang kondisi air di provinsi ini. "Neraca air memang telah hancur. Sebagai contoh, Provinsi Jawa Barat sebetulnya memiliki potensi air sampai 80 miliar m3/tahun. Namun, kenyataannya yang dapat dimanfaatkan hanya 8 miliar m3/tahun. Padahal, kebutuhan air masyarakat Jabar adalah 17 miliar m3/tahun," urai Sobirin.
 
  Berarti, setiap tahun potensi air Jabar terbuang percuma (run off) sebanyak 70 miliar m3! "Potensi air sebesar 81 miliar meter kubik itu pada musim hujan tidak tertahan dan tersimpan di hutan dan kawasan hutan. Penyebabnya tak lain karena kawasan hutan di Jabar mengalami degradasi parah, sehingga tidak mampu lagi menahan limpasan air. Dampak nyata lainnya adalah banjir di musim penghujan dan sebaliknya kering kerontang kekurangan air ketika kemarau," paparnya.
 
  Sobirin mengungkapkan erosi kolosal sebagai dampak gundulnya hutan juga telah mencapai 33 juta ton per tahun. "Angka tersebut setara dengan 1 juta truk tronton berkapasitas 30 ton. Erosi mengangkut lapisan tanah subur di gunung-gunung, di hulu lalu terbawa ke daratan rendah hingga ke laut. Akibatnya potensi sumber daya laut pun terancam karena pelumpuran," jelas Sobirin.
 
  Bagaimana kondisi pada musim kemarau? Pada musim ini potensi air yang bisa dinikmati masyarakat Jabar hanya sisa 8 miliar meter kubik (10 persen). Penyebabnya, cadangan dan simpanan air tidak ada lagi, sehingga terjadi defisit kebutuhan air.
 
  Ironisnya di tengah gejala alam yang semakin tidak bersahabat bagi manusia penghuninya itu, praktik-praktik perusakan alam atas nama keuntungan material tetap saja dilakukan. Kawasan Bandung Utara (KBU) yang sejatinya telah ditetapkan sebagai wilayah konservasi, misalnya, selalu saja menimbulkan kontroversi karena lemahnya konsistensi penegakan aturan. Seribu kilah bisa dikedepankan hanya demi kuasa modal.
 
  Akankah semua praktik perusakan alam itu terus dilakukan, hingga alam menebarkan "azab"-nya sendiri? Semoga, momen Hari Air Sedunia tidak sekadar berlalu sebatas seremoni belaka. Kuasa modal sungguh tidak sebanding dengan risiko kerusakan dan bencana alam yang kian hari kian menggayuti pelupuk mata."
 
  Mudah2-an kita para penggiat alam bisa lebih menyadari akan arti pentingnya air. Dan bisa menggunakannya seefisiesn dan seekonomis mungkin dan juga turut serta menjaga kelestarian sumbernya terutama gunung-gunung sebagai menara air alami yang perlua dijaga. Semoga
 
  Salam,
 
  Harley

Dunia berputar dengan cepat

Filed under: Opini Kita - Administrator @ 7:11 am

Dunia berputar dengan cepat…… secepat kita mengedipkan
mata…….secepat kita membalikkan telapak tangan…..
 
Wanderlei Luxemburgo palatih cerdas, ahli strategi, sangat disanjung
pada awal kedatangannya ke Real madrid……tak disangka-sangka enam
bulan kemudian dipecat dengan caci maki….. pulang ke Brasil hanya
membawa satu tas….baju kotor…. karena tak mampu bayar binatu di
Madrid……
 
Titus…… Pangeran Romawi yang gagah berani, thn. 70 masehi dia
hancurkan kebudayaan yahudi…. enam bulan kemudian mati oleh sipilis
karena seleranya tak hanya pada wanita??……
 
John Barxton…… Akhirnya mengemis pada Bill Gates mohon pekerjaan
bagi anaknya……. Bill Gates orang yang dia pecat enam tahun lalu
dari perusahaannya saat Bill Gates tak sengaja menyenggol dengan
tongkat mobil dinasnya (Bill Gates saat itu memakai tongkat untuk
berjalan) …..
 
Marie Goretti kepala biara karmel prancis merasa tak percaya kalau
Claudia Suzzane diminta untuk memimpin Ordo Biarawati tersebut di
seluruh dunia termasuk Prancis…… Claudia Suzzane enam tahun lalu
adalah biarawati muda yang dia rekomendasikan untuk di"buang" ke
Mesir dan melewati hidupnya di biara gurun pasir dengan iklim yang
keras karena bertentangan dengan dirinya….. Marie Goretti, tadi
pagi dalam Misa Pelantikan Claudia, mencium tangan Claudia sebagai
tanda hormat pada pimpinan tertinggi Ordo tersebut…. Claudia masih
tetap tersenyum dengan murah hati seperti saat dia meninggalkan
Prancis dan meminta Marie Goretti untuk tidak mencium tangannya…..
Marie Gorretti hanya bisa menitikkan airmata haru..
 
Willy sangat berterimakasih pada Sarno, pagi tadi Sarno menyelamatkan
nyawa anaknya Caecil dengan membawanya ke Rumah Sakit Mitra Keluarga
Bekasi, anaknya ditabrak lari sepeda motor saat akan menyebrang dekat
TK tempatnya bersekolah, saat itu Sarno kebetulan melintas dan segera
menolongnya, jika terlambat saja, maka Caecil akan lumpuh dan
kehilangan daya ingatnya, atau bahkan meninggal…… Sarno, mantan
Office Boy di Kantor Willy, saat itu sebagai Kepala Bagian Umum Willy
meminta Sarno "keluar dengan Hormat" karena Sarno menjalin kasih
dengan Ully resepsionis pada kantor tersebut dan berencana menikah,
akhirnya Sarno dan Ully memutuskan untuk keluar dan membangun usaha
kecil-kecilan…. "No, apa yang bisa saya bantu untuk membalas
jasamu? engkau sudah bekerja? dimana? bagaimana kabar Ully?’ demikian
Willy mencecar Sarno dengan pertanyaan….. Sarno hanya tersenyum dan
menitikkan airmata, ia tidak ingin menyakiti hati Willy…… Saat
ini, atas nama almahumah Ully yang meninggal saat melahirkan, Sarno
dan kedua anak kembarnya yang masih kecil adalah pemegang 93.5% saham
perusahaan tempat Willy bekerja dan beberapa grup perusahaan karena
usaha kerasnya….. dan dia tetap tersenyum seperti saat ia
berpamitan dengan Willy enam tahun lalu………..
 
Manusia bisa berkehendak dan bertindak, tapi Tuhan punya rencanaNYA
 
Enam tahun? Enam bulan? Enam pekan? Enam hari? Enam Jam? Enam menit?
Enam detik? ……….. secepat apakah DIA akan membalikkan anda jika
anda tak tahu diri?
 
"Semoga kita termasuk orang - orang yang bersyukur atas nikmat yang
diberikanNya….." 
 
By melly Gempita

Kampanye Menolak Privatisasi dan Komersialisasi Sumberdaya Air

Filed under: Opini Kita - Administrator @ 7:09 am

Kampanye Menolak Privatisasi dan Komersialisasi Sumberdaya Air

Hak terhadap air yang setara merupakan hak  asasi setiap manusia. UUD
1945 pasal 33 ayat 2 menjamin hak dasar tersebut.  Pasal 33 ayat 2
tersebut menyatakan, "Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung
didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat ". Kalimat tersebut mengandung
makna tanggung jawab negara untuk menjamin dan menyelengarakan
penyediaan air yang menjangkau setiap individu warga negara.   Pada
tingkat internasional, hak atas air yang setara juga diteguhkan dalam
Ecosoc Declaration (Deklarasi Ekonomi, Sosial, dan Budaya) PBB pada
bulan November 2002.

Namun, hingga kini, hak atas air bagi setiap individu terancam dengan
adanya agenda privatisasi dan komersialisasi air di Indonesia.  Agenda
ini didorong oleh lembaga keuangan (World Bank, ADB, dan IMF) di
sejumlah negara sebagai persyaratan pinjaman. Ini merupakan bagian
dari kepentingan kapitalis global sektor air untuk menguasai
sumber-sumber air dan badan penyedia air bersih (PDAM) milik
pemerintah.  Undang-undang Sumberdaya Air yang baru ini merupakan
bagian dari persyaratan pencairan pinjaman program WATSAL dari World Bank.

Pada tanggal 19 Februari 2004, DPR telah mengesahkan UU Sumberdaya Air
yang baru.  Dalam Undang-undang yang baru ini beberapa pasal
memberikan peluang privatisasi sektor penyediaan air minum, dan
penguasaan sumber-sumber air (air tanah, air permukaan, dan sebagian
badan sungai) oleh badan usaha dan individu.

Melalui privatisasi ini, maka jaminan pelayanan hak dasar bagi rakyat
banyak tersebut akhirnya ditentukan oleh swasta dengan mekanisme
pasar"siapa ingin membeli /siapa ingin menjual".

World Bank menyatakan " Manajemen sumberdaya air yang efektif haruslah
memperlakukan air sebagai "komoditas ekonomis" dan " partisipasi
swasta dalam penyediaan air umumnya menghasilkan hasil yang efisien,
peningkatan pelayanan, dan mempercepat investasi bagi perluasan jasa
penyediaan".   (World Bank, 1992).  Privatisasi air akan meliputi jasa
penyediaan air di perkotaan, maupun pengelolaan sumber-sumber air di
pedesaan oleh swasta.

Menurut World Bank, air yang diperoleh masyarakat saat ini masih
berada di bawah "harga pasar" dan perlu dinaikkan.  Baik World Bank
dan ADB dalam "Kebijakan Air"-nya mendorong diterapkannya mekanisme
harga yang mengadopsi apa yang disebut sebagai Full Cost Recovery.
Secara singkat, Full Cost Recovery berarti konsumen membayar harga
yang meliputi seluruh biaya. Dengan demikian privatisasi, sebagaimana
yang telah terjadi di sejumlah negara, identik dengan kenaikan harga
tarif air.  Pada kenyataanya, justru kelompok masyarakat miskin yang
akan semakin jauh dari akses terhadap air dengan meningkatnya tarif air.

Agenda kedaulatan pangan akan menjadi mengalami ancaman ke depan.
Jika air, sebagaimana yang diinginkan oleh World Bank dan ADB,
diperlakukan sebagai komoditas ekonomis dan pihak yang mendapatkan air
ditentukan atas dasar keuntungan ekonomis semata.  Salah satu contoh,
Pemerintah Daerah Jawa Barat pada tahun 2002 telah mengeluarkan
Peraturan Daerah (Perda) mengenai Irigasi yang baru, dimana salah satu
instrumen yang diadopsi adalah penerapan "cost recovery"  kepada
petani atas penggunaan air irigasi. Sektor pertanian akan semakin
mahal bagi petani dengan diterapkannya tarif atas air irigasi.

 

Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi:

P. Raja Siregar
Manajer Kampanye dan Pengkampanye Isu Air, Pangan dan Keberlanjutan
Telepon kantor: +62-(0)21-791 93 363
Fax: +62-(0)21-794 1673

Fakta:

Pengalaman: Privatisasi Air Jakarta
Dari sisi pelayanan, paska privatisasi kepada kedua mitra asing, tidak
mengalami perbaikan dan peningkatan yang berarti.  Ini terlihat dari
sejumlah indikator utama kualitas pelayanan air minum. Target
pertambahan pelanggan dari tahun 1998-2000 tidak mencapai ketentuan
kontrak, dan lebih rendah dibanding pertumbuhan sebelumnya oleh PAM
Jaya.  Target teknis pemakaian air tidak tercapai, tetap dibawah
kinerja PAM Jaya.
 
Tingkat kebocoran pipa juga tidak sesuai dengan klausul dalam kontrak
dan harapan masyarakat. Tingkat kebocoran pada saat dikelola PAM Jaya
sebesar 53 %, kini berkisar pada angka 48%.  Namun, untuk menekan
tingkat kebocoran (non revenue water) kedua mitra asing hanya
melakukan pembatasan pengoperasian mesin pompa yang terdapat disetiap
instalasi. Dampaknya sejumlah daerah dalam jangkauan pelayanannya
malah mengalami kekurangan air (Komparta, 2005).

Pelanggan Air Minum
Sebelum terjadi privatisasi pertambahan pelanggan baru periode
1988-awal 1998 mencapai antara 9.698-63.934 pelanggan per tahun.(tabe
9l). Sedangkan setelah privatisasi, pertambahan jumlah pelanggan
justru merosot drastis. Pada 1998, antara Februari-Desember, dua mitra
swasta meraup pelanggan baru sebanyak 21.533 pelanggan.  Jumlah ini
jauh lebih kecil dari perolehan pelanggan baru yang digaet PAM Jaya
pada 1997 sebelum terjasi privatisasi yaitu 63.934 pelanggan baru.

Bahkan, pada 1999 (semester pertama) perolehan pelanggan baru dua
mitra swasta asing merosot tajam menjadi hanya 4.879. Bandingkan
dengan perolehan PAM Jaya sebelum terjadi privatisasi pada Januari
1998 (Perolehan pelanggan baru untuk satu bulan) sebesar 5.804. 
Sedangkan dari sisi rasio warga yang terjangkau sebelum dan sesudah
privatisasi tidak berubah signifikan. Pada 1997 sebelum privatisasi
dilakukan, sebanyak 52% warga Jakarta terjangkau PAM Jaya. Sedangkan
setelah privatisasi menjadi 59% (2002).

 Air Minum
Hanya sekitar 40 % warga di perkotaan dan kurang dari 30 % warga
pedesaaan. yang tersambung dengan jaringan air minum (PAM).   Air
minum langsung (potabel water) tidak dibangun di Indonesia sehingga
air dari keran harus dimasak terlebih dahulu. Bagi warga perkotaan
yang tidak terlayani oleh jaringan pipa air minum, sumber air  minum
berasal dari air tanah, air kemasan, atau dari penjual air keliling.

Dari 306 Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang ada di Indonesia,
hanya 10 % yang dalam keadaan sehat.  Selebihnya (90%) dalam keadaaan
kurang baik dan beberapa diantaranya kondisi kritis.  Pemerintah
merencanakan untuk memberikan  bantuan likuiditas kepada PDAM yang
kolaps. Langkah tersebut merupakan bagian dari restrukturisasi PDAM
yang dimulai tahun depan. 

. Krisis Air
Sekitar 65 persen penduduk Indonesia atau sekitar 125 juta jiwa
menetap di Pulau Jawa yang luasnya hanya tujuh persen dari seluruh
luas daratan Indonesia.  Sementara dari sudut potensi air hanyalah 4,5
persen dari total potensi air di Indonesia sehingga menimbulkan
benturan kepentingan.  Dipandang dari segi pengembangan sumber daya
air, permasalahan air di Jawa termasuk kategori kritis.

SAVE OUR PLANET
‘global thinking, local action’
- Komunitas Pendaki Indonesia -
Yahoo! Groups Links

Milist = Arena jitu utk bersatu

Filed under: Opini Kita - Administrator @ 7:07 am

From: hijjau [mailto:hijjau@yahoo.com]

Betapa dasyat kekuatan milist2 yang ada di cyber, bila memang betul2
kita manfaatkan secara optimal dan terkendali.
Salah satu contohnya mungkin Cyber camp 2005 dan yg paling hot adalah
masalah MOGE.

Dalam hitungan waktu yg singkat permasalahan itu menyebar kemana-
mana, lebih efective bukan? Hingga hampir seluruh indonesia atau
bahkan luar negeri pun tahu permasalahnnya. Padahal masalah ini hanya
di publikasikan oleh orang biasa-biasa saja, bukan pejabat ataupun
konglomerat.

Bila kita bisa berkaca dan mengambil hikmah dari semua itu, harusnya
kita juga bisa berbuat yg lebih baik lagi dlm mengoptimalkan
komunitas kita yang mengatas-namakan petualang alam, pecinta alam
ataupun penikmat alam (apalah namanya yg pasti mungkin satu tujuan).
Dimana kita bisa memberikan kontribusi yang lebih positif dalam
rangka ikut memelihara lingkungan dan alam yg indah ini, serta bisa
juga menjadi kontrol dalam setiap usaha2 pemerintah ataupun orang2
yang semena-mena merusak alam ini.

Bayangkan bila semua bisa bergabung menyamakan misi dan visi yang
jelas dan meninggalkan ego-ego yang kadang lebih mengedepan. Saya
yakin pasti suara kita akan terasa lebih lantang dan lebih didengar
oleh mereka.

tapi…..bisakah????????

Seputar Lingkungan : Menneg LH: Kerusakan Akibat Freeport Parah

Filed under: Opini Kita - Administrator @ 6:46 am

Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar menyatakan
kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh PT Freeport saat ini telah
parah.    "Sudah parah kerusakan yang ditimbulkan akibat PT
Freeport, tapi datanya tidak saya bawa," kata Rachmat di sela-sela
lokakarya sosialisasi Clean Development Mechanism (CDM), di Jakarta,
Rabu (25/1).    Rachmat kembali mengatakan pihaknya telah membentuk
tim penilai untuk mengukur dan meneliti kerusakan lingkungan yang
disebabkan oleh PT Freeport. "Sekarang tim kita bisa melakukan
penelitian, setelah sejak dulu Freeport menolak diteliti, dan
sekarang tim masih bekerja," katanya.    Rachmat menegaskan,
penilaian KLH akan mengacu pada standar yang ada seperti penilaian
yang diterapkan pada perusahaan-perusahaan lainnya. "Lebih dari dua
orang, mungkin ada sampai enam atau tujuh orang dalam satu tim
penilai yang mengukur tingkat kerusakaan di Papua yang diakibatkan
PT Freeport," katanya.    Penelitian yang dilakukan KLH di antaranya
adanya dugaan perusakan dan pencemaran lingkungan di sepanjang
Sungai Ajkwa dari hulu sungai hingga mencapai pesisir laut. Limbah
yang ditumpahkan Freeport berupa pembuangan tailing limbah bahan
beracun berbahaya (B3) telah mencapai pesisir laut Arafura. Tailing
yang dibuang melampaui baku mutu total suspended solid (TSS) yang
diperbolehkan menurut hukum di Indonesia.    Sementara, audit
lingkungan yang dilakukan oleh Parametrix, menemukan bahwa tailing
dan batuan limbah Freeport merupakan bahan yang mampu menghasilkan
cairan asam yang berbahaya bagi kehidupan akuatik. Sejumlah spesies
akuatik sensitif di Sungai Ajkwa telah punah akibat tailing dan
batuan limbah Freeport.    Freeport adalah salah satu perusahaan
yang memiliki tambang emas terbesar di dunia. Di Provinsi Papua
Barat, Freeport mulai beroperasi sejak 1967 atas izin pemerintah
semasa Orde Baru.

By Hijjau 

Pendaki

Cintailah Alam ini agar lestari
Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Janis Joseph