Blog Milis #Pendaki Indonesia

"Persahabatan terjalin, persaudaraan terengkuh, bersama mengukir cinta kepada Alam"

April 17, 2006

Catper Ciremai

Filed under: Catatan Perjalanan - Administrator @ 7:32 am

Jum’at malam tepatnya tgl. 7 April 2006, kami semua yg turut serta
dalam perjalanan Ciremai, sepakat berkumpul di rumah Epul yg berlokasi
di Cibiru, Bandung.
                     *  *  *
Kami berangkat pada sabtu pagi tgl. 8 April 2006, setelah semua yg
dari Jakarta positiv hadir. Seperti biasa kami mengumpulkan dana untuk
biaya kami selama perjalanan, setiap orang dikenakan biaya Rp 50rb, yg
kan digunakan untk keperluan transport, logistik, dll.
Kami berangkat dgn mobil sewaan menuju desa Apuy,Argamukti, desa
terakhir, pos tempat kami mendaftarkan diri untuk melakukan pendakian
di gunung ciremai. Disana kami bertemu dgn abah Suljo di kediamannya
yg sangat teduh.
                     *  *  *
Terlihat perekonomian penduduk setempat sangat baik, ini tercermin
dari keadaan para penghuni desa; bangunan; serta tata letak keadaan
desa yg bisa dibilang cukup modern, tidak terbelakang.
Dan sepertinya adat penduduk setempat masih terlihat kental & berbau
mistik. Mereka percaya adanya "Aum" / "macan" sebagai nenek moyang
mereka. Memang sampai saat ini masih banyak keturunan si "Aum" itu
sendiri yg tinggal di dalam & diluar desa sebagai masyarakat biasa. Di
gunung Ciremai itulah si "Aum" berada. (percaya ga percaya….?!?).
Tapi kita sebagai orang luar harus menghormati keadaan & tradisi
setempat, agar kita para pendaki selalu bisa diterima dimanapun kita
berada.
                      *  *  *
Sabtu siang, tepatnya pkl. 10:30, kami memulai pendakian. Hari sangat
terik, udara & matahari disana terasa sangat jodoh dengan kami.
Sesekali kami istirahat dan photo2…kami lelah..tp kami terlihat
sangat senang…. Kami melewati sawah milik penduduk setempat & sebuah
curug yg airnya telah mengering.

                      *  *  *
Akhirnya kami memasuki hutan…hutan yang sangat rapat dan teduh.
Sesekali kami jumpai sinar matahari yg masuk disela sela pohon nan
tinggi & rimbun.
                      *  *  *
Ditengah perjalanan pos 2, kami dihalau hujan lebat yg semula kami
kira adlh rintik-rintik kabut. Lalu kami sepakat menghentikan
perjalanan dan beristirahat di tanah yg agak lapang, agar kami bisa
berteduh sambil minum minuman hangat dan sedikit makan makanan
kecil…dengan harapan kami bisa melanjutkan perjalanan bila hujan
telah reda. Namun hujan tdk juga berhenti dan bahkan semakin deras,
haripun sudah gelap, akhirnya kami memutuskan tuk mendirikan tenda di
tempat itu juga.
                      *  *  *

Terdengar sayup-sayup suara Nyta, Melly, Epul, membangunkan kami yg
sudah terlelap dalam tenda untuk makan malam. Kebetulan salah satu
teman kami, Dera, berulang tahun tgl 7 April 2006 kemarin, sehingga
makan malam kali ini sangat special (nyam..nyam…slurp…).
Malam itu juga Budi hijjau mengingatkan kami untuk bangun pagi, agar
pendakian dilanjutkan esok hari, 9 April 2006 pd pkl.5 dini hari. Kami
smua mempersiapkan diri dgn menyeting alarm untuk bangun 1/2 jam
sebelumnya.
                      *  *  *

Tiba waktunya kami melanjutkan pendakian,…karena banyak diantara
kami yg belum pernah ke Ciremai,..maka kami sangat antusias skali
(dasar manusia bodoh…apa enaknya mendaki gunung?!??!). Tapi sayang
harus ada yg menjaga peralatan & tenda kami, maka Budi hijjau pun
mengalah, untuk tidak turut serta dalam pendakian ke puncak,..ia
memilih tuk tinggal & menjaga tenda…(bang Budi…ooh..bang Budi..)
Kami meneruskan pendakian…dengan sebelumnya di ingatkan oleh Budi
hijjau , agar mengikuti jalur kiri setelah menemukan pos 5, serta jgn
lupa tuk mampir ke Goa Wallet, guna mengangkut air secukupnya, karena
hannya disanalah kami bisa mndapatkan air (catet!!)

                      *  *  *

Perjalanan kami sangat menyenangkan skali, meskipun bbrp dr teman kami
sudah mulai merasakan effect dr sengatan sinar matahari yg telah
membakar kulitnya. Kami smua punya keinginan yg sama, dan kami kan
terus mendaki semampu kami, sampai kami bisa benar2 belajar banyak
dari pengalaman yg kami dapat dr pendakian.

                      *  *  *

Akhirnya kami sampai juga di puncak gunung Ciremai…semuanya terlihat
dari atas sana. Langit biru…awan putih yg berarak…hamparan hutan
bak’ karpet hijau, kawah gunung Ciremai, matahari dan sinarnya yg
tegak lurus….bbrp nisan para pendaki yg telah mendahului kami
(semoga arwah mereka ditempatkan ditempat yg tertinggi bersama udara
jernih, dgn keindahan dan kebebasan dan sayap sayap kalian…amin).
 
Indah sekali…suatu lukisan alam, sebuah ciptaan Tuhan, terjadi atas
kehendak-NYA.
                      *  *  *

Minggu malam, 9 April 2006, kami sepakat tuk menuruni gunung dan
pulang ke kota…hiks…
Dengan wajah penuh ekspresi, kami menyusuri dan meninggalkan hutan
dalam keadaan gelap ditemani rintik hujan dan lampu senter…Sesekali
diantara kami terpeleset dan terguling,…kepuasan kami telah
mengalahkan segalanya. Kami kembali ke peradaban, disana sudah ada
mobil sewaan yg siap mengangkut kami kembali menuju Bandung.

                       *  *  *

" Disudut manapun aku berdiri, tak dapat kunikmati keindahan
pemandangan dan keheningan suasana alam,….selain….disana"

"Budi hijjau; Deden; Epul; Dera; Rona; Raymond; Desmond; Faried; Nyta;
Melly; Coky; Gethuk; Putri…..Cermei 7-9 April 2006"

By freetblaster_here@yahoo.com

SAVE OUR PLANET
‘global thinking, local action’
- Komunitas Pendaki Indonesia -
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Pendaki/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    Pendaki-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

April 13, 2006

Menepis Sebuah Keinginan II (Catper Ceremai versi IPJ)

Filed under: Catatan Perjalanan - Administrator @ 6:06 am

Suasana tak jauh berbeda saat pertama kali mengunjunginya. Ya…dua
tahun lalu kuinjakan kaki seorang diri didesa ini. Begitu juga saat
bertemu dengan sesepuh apuy, Abah Suljo (’bah Suljo). Seorang bapak
tua yang memancarkan rasa teduh dan arif yang siap menyambut
pengunjung dengan keramahan yang begitu tulus. Walau telah termakan
usia, namun tetaplah seorang manusia yang tegar :)

Saat kami mengunjungi beliau untuk ijin pendakian ke ceremai, Abah
Suljo seperti biasanya mempersilahkan kita masuk dan menyediakan
minuman dan makanan tanpa lagi berbasa-basi (melly nech kayaknya yg
ngabisin makanannya Abah Suljo hihihi), gerai tawa dan gurauan kerap
kali terdengar dari mulut mungil yg tak bisa berdiam diri. Arahan dan
nasihat tak luput dari kewajiban Abah Suljo untuk meredam gejolak
darah muda yang tak terkendali.

Pendakian pun dimulai sekitar pukul 10.30 siang sabtu itu, dengan
santai dan saling bercanda kami memulai pendakian ini. Terik matahari
tak luput ikut menyemarakan keceriaan kami.

Mulai memasuki pintu rimba, matahari tepat diatas kepala. Pendakianpun
lebih santai dengan suasana yang redup dan tenang. Menetramkan pikiran
dan rasa yang teracuni oleh hiruk-pikuk kehidupan kota.

Saat itu banyak keinginan dan rencana menuju puncak, sejuta harap
bergemuruh saling menampakkan kekuatan yang akan sirna. Seribu godaan
menghantui setiap langkah kaki yang menapaki jalan penuh liku.
Ego dan rasa ikut menyemarakan sebuah pertarungan jiwa, berharap dapat
menaklukan sang jiwa yang kerap terlena.

Kebimbangan terus saja menggelitik kalbu, menyuarakan egoisme dan rasa
jumawa yang beriringan mengikuti langkah ini. APa yang harus kulakukan?
Masih adakah sejuta keinginan dan gelora tanpa batas yang dulu begitu
dekat dengan diri ini.

Lalu tak terasa semua jejak-jejak langkah masa lalu terbentang
dipelupuk mata, berbagai kejadian kembali diputar. Seperti sebuah
lentera yang menampakan kembali sinarnya walau redup, tapi pelita itu
membuka hati dan rasa yang mulai tergoda.

Lalu emosi dan rasa ego mulai memudar, seiring keinginan untuk berbagi
dan berharap pelajaran dari Sang Alam.

Akhirnya harus ku-tepis sebuah keinginan yang selalu menghantui jiwa,
yang selalu ingin menurutkan ego, emosi dan rasa.

Lalu ku berharap, semoga akan lebih baik dari hari-hari yan pernah
kujalani.

Apuy, 7-9 April 2006.

"Aku sadari, suatu hari nanti mungkin tak kan seberuntung kisah-
kisahku yang lalu"

BY HIJJAU

April 12, 2006

Dieng & Jogja- 15 Januari 2005 22:24:11

Filed under: Catatan Perjalanan - Administrator @ 3:43 am

Dieng & Jogja
15 Januari 2005 22:24:11

Tanggal 9 Januari 2005 pukul 20:11, akhirnya bus jalan
juga. Sinar Jaya kelas ekonomi, di mana di dalemnya
orang-orang ngisep rokoknya seenak jidat walaupun bus
lagi berenti, di mana di dalemnya seorang tukang apel
jualan apel dengan harga yang nukik dari atas ke
bawah, di mana di dalemnya selain bau rokok juga
bergentayangan bau keringet dan bau ketek plus bau
asep knalpot dari segala sumber; sebuah bus yang
sepanjang perjalanan berenti di tiga tempat: entah di
mana, Indramayu, dan di Brebes.

Harusnya naik bus ke Wonosobo, tapi karena satu dan
lain hal saya dan seorang temen kemaleman sampe di
terminal, jadi kita naik bus jurusan Purwokerto. Sampe
di Purwokerto tanggal 10 Januari 2005 pukul 04:56
subuh, nangkring sebentar di depan sebuah masjid,
nikmatin suasana Purwokerto yang tenang dan sejuk di
pagi hari. Ngga lama kemudian kita udah ada di atas
bus menuju Wonosobo.

Disupirin sama seorang supir "rocker" - karena
tampaknya yang menyerupai rocker (terutama, dari jauh
dari kaca spion tengah, tampak seperti vokalis
Jamrud), rambut gondrong, tampang dingin, dan kemeja
dengan 2 kancing atas terbuka; juga karena cara
nyetirnya yang memang seperti sedang "nge-rock". 05:25
melintasi Purbalingga, dan sekitar 06:30 tiba di
Wonosobo. Makan pagi soto nasi dan tempe goreng.

Sekitar pukul delapan naik minibus menuju ke Dataran
Tinggi Dieng.

Highland of Dieng: Negeri di Awan
10 Januari 2005
Tiba di Tanah Dieng, disambut suasana dan rutinitas
desa yang tenang, berdiri di pinggir seruas jalan di
tengah sebuah lembah yang amat besar. Dikelilingi
bukit-bukit, awan di lerengnya, ladang, dan
bangunan-bangunan beratap hitam. Pukul 09:25 ada di
dalem sebuah kamar hotel bernama "Hotel Asri". Kamar
yang menyerupai kamar di ‘hotel mesum’, dengan
jejak-jejak tulisan berbau cabul di dinding dan
plafonnya.

Ngga lama langsung pergi jalan, Candi Arjuna, Candi
Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi
Sembadra, Candi Bima, Kawah Sikidang, menyusuri
sepanjang tepi Telaga Warna sepanjang-panjangnya, dan
gua-gua di sekitarnya. Bertemu dengan
perempuan-perempuan tangguh yang bersepatu boot,
bertopi caping, berbaju tangan panjang, dan menyandang
cangkul di pundak.

Setelah istirahat sebentar di hotel, pergi lagi, kali
ini ke sebuah bukit yang tetep ditumbuhin pohon-pohon
tua, tinggi, dan rimbun di atasnya - ngga seperti
bukit-bukit lainnya yang udah gundul berubah jadi
ladang - yang berarti juga adalah kuburan. Di Dieng,
kalo ada bukit yang masih ditumbuhin pohon-pohon besar
di puncaknya, umumnya adalah kuburan. Di atas bukit
ini, pertama kali nyata bahwa saya bukan berada di
Jakarta lagi, tapi di sebuah tempat yang sama sekali
lain; di Dataran Tinggi Dieng: Negeri di Awan.

Dari bukit kuburan, dilanjutin ke puncak bukit di mana
di atasnya pertama kali saya dan temen bisa dapet
sinyal hp sejak pertama kali menjejakkan kaki di
Lembah Dieng. Saya dan temen sebut bukit ini bukit
"Sinyal". Dari bukit ini semakin jelas adanya, bahwa
di Tanah Dieng ini, awan begitu akrab mencumbui
bukit-bukit dan pegunungan dan langit terasa begitu
dekat.

Pulang lagi ke hotel, mandi pake air yang luar binasa
dinginnya, makan, bengong, dan kemudian hari itu
ditutup dengan dua botol bir bersama seorang temen
untuk kemudian mulai merelakan diri dipeluk alam tidur
sekitar pukul 20:42.

11 Januari 2005
Subuh hampir pukul lima saya mulai keluar sama temen,
jalan menuju bukit "Sinyal" untuk ngeliat matahari
terbit. Itulah dia matahari terbit pertama saya di
Tanah Dieng; matahari kuning yang perlahan-lahan
dengan penuh keagungan muncul dari balik gunung Prahu
di sebelah kiri gunung Sundoro. Seperti di Kahyangan,
seperti Dieng yang memang berarti Kahyangan; damai dan
tenang. Langit hitam di atas, membiru di tengah, dan
berpijar kuning dan oranye di cakrawala - di mana awan
begitu damai mengambang seperti lautan luas melatari
gunung Sundoro.

Kemudian bukit-bukit dan gunung pun ikut berpijar
diterpa cahaya kuning yang agung. Kabut tampak masih
mencumbui tanah, membelainya dengan sentuhan yang
lembut dan sejuk. Perlahan-lahan suara deru angin
mulai terdengar, sepertinya dari atas gunung Prahu di
seberang.

Kembali ke kamar, buang air besar dan kemudian makan
nasi goreng. Setelah pindah hotel untuk tau keadaan
hotel yang lain, saya dan temen kembali ada di atas
tanah ladang-ladang. Menyusuri jalan-jalan setapak
ladang, melintasi bukit-bukit dan lembah-lembah entah
apa, untuk menuju ke sebuah bukit berwarna hijau muda
yang sejak sehari lalu sudah menjadi cita-cita kami
untuk berada di atasnya. Ada sebuah lembah - setelah
melewati sebuah jalan setapak di antara dua bukit - di
mana pemandangan amat indah, ke arah lembah yang lebih
dalam, menghadapi bukit-bukit terjal hijau membiru,
ladang, dan segala lainnya. Lembah ini istimewa,
karena di lembah ini pun ternyata ada sinyal hp -
sehingga kami namakan "Lembah Sinyal".

Melintasi sebuah desa, kemudian setelah melewati
lapangan rumput yang luas dan seruas jalan
berbatu-batu, kami mulai mendaki lagi jalan setapak di
lereng bukit yang kami tuju - dari sisi belakangnya!
Ya, tanpa sengaja kami malah bikin jalan muter yang
jauh sekali. Tapi saya ngga ngerasa rugi, karena tidak
ada apapun yang tidak berharga untuk dilihat mata di
Tanah Dieng.

Maka di sanalah kami, di puncak sebuah bukit dengan
padang rumput menyelimuti puncak dan sebagian
lerengnya. Sebuah bukit yang cukup tinggi hingga kami
bisa membentangkan pandangan ke bukit-bukit dan
lembah-lembah, ladang, dan desa-desa di segala
penjuru. Awan tampak lebih rendah, dan tanah kahyangan
Dieng membentang amat-amat luas. Seorang penduduk desa
memberitahu, nama bukit itu adalah bukit Smandu.
Pemandangan sepanjang perjalanan pulang pun tidak
kurang berharga untuk dinikmati.

Setelah makan bakso dan istirahat di kamar, belum
bosan, kami sudah menapaki lagi kaki kami di
tanah-tanah ladang. Kali ini sebuah bukit memanjang di
belakang desa. Kami naiki bagian ujungnya, dan dari
atasnya bisa terlihat Telaga Warna, dan dari sana ia
tampak lebih cantik; dilatari bukit, gunung, dan awan
yang tengah (masih) mencumbuinya.

Mandi (yang masih amat sangat dingin), sate (yang
cukup mahal), dan dua botol bir lagi jadi penutup hari
itu.

12 Januari 2005
Sekitar pukul lima pagi bangun dari alam tidur. Kabut
putih pekat yang basah tumpah ruah di lembah, sinar
lampu kuning berpendar, dan jarak pandang pendek
sekali. Pagi yang indah. Tapi ini pagi dari hari
terakhir kami di tanah kahyangan Dieng.

Setelah sarapan pagi indomie "capcay" dan segelas kopi
hitam, saya harus ucapin selamat tinggal untuk Dieng.
Sebuah pengalaman indah di alam kahyangan. Tapi
walaupun ini yang pertama kali, bukan berarti ini yang
terakhir kali. Kita akan berjumpa lagi, kaki dan tubuh
ini bakal bersentuhan lagi dengan tanah ladang-ladang
subur di tanah Dieng - tempat awan dan kabut mencumbui
bukit dan lembah dengan mesra.

Sekitar pukul 07:30 naik bus ke Wonosobo. Dari
Wonosobo, pukul 09:15 dilanjutin ke Magelang, naik bus
yang menjerit dengan keras setiap kali pedal rem
diinjek sama sang sopir. Pukul 11:10 naik bus menuju
Jogja dari terminal Magelang. Bus dengan sopir (kalo
sebelumnya "rocker") "hardcore"; dia bakal semakin
napsu neken gas ketika di depannya ada polisi tidur
atau lobang besar. Luar biasa. Menegangkan pada
awalnya.

Setelah Satu Tahun: Jogja
12 - 14 Januari 2005
Ngga ada yang terlalu istimewa dari perjalanan Jogja
selama tiga hari. Jalan-jalan jauh sekali di malam
hari, nikmatin suasana malam, suasana hujan di kota
ini, neduh di emperan toko, roti bakar, bakso, sms
yang failed sepanjang segala abad, ngga bisa tidur di
malam hari, Malioboro, tawaran dari seorang pelacur di
sebuah gang kecil - "Mas sini mas, duduk dulu
sebentar… yee, ta’ kasih murah e…", bihun dan nasi
goreng anglo (luar biasa!!), dan sepotong pagi Jogja
yang manis di hari terakhir. Untuk kemudian packing
terakhir, dan pulang naik kereta.

Kembali di Kota Sesat: Jakarta
14 Januari 2005
Pukul 18:24 sampe di Jakarta, dan pukul 19:49 sampe di
Kost.

***

Whatatrip!!

setan

April 11, 2006

Smilling Gede 3078 Mdpl 22-23 Mei ‘94

Filed under: Catatan Perjalanan - Administrator @ 6:45 am

Pendakian ke puncak Gunung Gede yang dimotori oleh MAPA (Mahasiswa
Pecinta Alam) GUNADARMA, merupakan pendakian resmi pertamaku yang
melelahkan. Gunung Gede pula yang merupakan gunung pertama yang Aku
daki. Pendakian ini Aku jadikan sebagai pelajaran pertama serta
pembangkit semangat untuk memantapkan diri dan sebagai motivasi yang
positif untuk melakukan petualangan sendiri.

Di sini Aku banyak mendapat pelajaran yang sangat berarti dan
pengalaman yang menarik serta membanggakan. Pendakian ini diikuti
sekitar 100 orang. Mereka terdiri dari anak-anak tingkat I, II,
maupun anak-anak yang lebih senior. Acara ini sebagai ajang
perkenalan bagi mahasiswa-mahasiswa baru dengan MAPA GUNADARMA.

Aku salah satu mahasiswa baru yang yang tertarik untuk ikut acara
tersebut. Maka Aku pun mengajak dua orang teman sekelasku (Doni dan
Ami). Kami pun mendaftarkan diri ke sekretariat MAPA GUNADARMA. Di
sana Aku bertemu dengan Endit (teman satu SMA) dan Ira.

Sore itu tanggal 22 Mei 1993 jam 17.00, tampak dua buah truk TNI
beriringan dari kampus GUNADARMA Pondok Cina menuju Cibodas
(Cianjur). Kedua truk melaju dengan cepat menelusuri jalan raya
puncak yang menyuguhkan pemandangan yang indah.

Malam itu jam 21.00, para peserta Smilling Gede tampak bergerak
menuju Pos Penjagaan untuk melapor. Satu jam berikutnya pendakian
Gunung Gede dimulai. Aku mendapat regu 11, sedang Ami, Doni, Endit
dan Ira bergabung dengan regu 9. Semua mendaki dengan santai sambil
bersenda gurau, membuat pendakian ini begitu menyenangkan. Setiap 1-
2 jam perjalanan kami selingi dengan istirahat. Selama perjalanan
banyak ditemui pos/selter yang sengaja didirikan untuk tempat
beristirahat para pendaki. Pos-pos itu diberi nama yang unik.
Ada ‘Kandang Badak’ ada ‘Pemandangan’, ada ‘Kandang Batu’ dll.
Selama pendakian Aku bergabung dengan regu Endit. Ketika sampai di
Kandang Badak, sebagian pendaki beristirahat untuk tidur atau masak,
tetapi ada juga yang terus mendaki. Di sini Aku terpisah dengan regu
Endit, Aku mencari kemana-mana tapi tak ku temui mereka.

  Aku berpikir mereka meneruskan pendakian tanpa terlihat olehku.
Maka Aku pun menyusulnya seorang diri. Aku berjalan dengan cepat,
harapanku dapat segera menyusul meraka. Tetapi setelah sekian lama
Aku berjalan, mereka tak kunjung terlihatt. Aku bingung…. dan tiba-
tiba Aku sadar bahwa Aku telah cukup jauh berjalan seorang diri.
Waktu itu sekitar jam 2.00 pagi, Aku begitu ketakutan. Aku mencoba
menunggu beberapa saat dengan harapan bertemu dengan regu lainnya.
Semakin lama Aku menunggu, semakin menjadi ketakutanku. Ingin
rasanya Aku berteriak dan menangis. Akhirnya dengan perasaan yang
tak menentu Aku putuskan untuk terus mendaki. Aku terus mendaki
dengan sejuta rasa takut yang terus menghantuiku. Selama perjalanan
sering kali Aku dibuat terkejut oleh binatang-binatang malam. Aku
terus berdoa semoga tidak akan terjadi sesuatu yang buruk yang
menimpaku.

Hari hampir menjelang pagi, akhirnya stelah sekian lama berjalan aku
bertemu dengan regu lain yang berada di depanku. Aku mengucapkan
syukur pada Allah SWT karena telah mempertemukan dengan regu lain.
Aku merasa lega, dan ternyata Puncak Gunung Gede semakin dekat.
Track atau jalur terakhir yang harus kulalui adalah jalur yang
paling menanjak. Track ini dinamakan ‘Tanjakan Setan’ atau ‘Tanjakan
Rante’ dengan kemiringan hampir 90 derajat. Dengan sisa-sisa tenaga
aku kuatkan untuk terus mandaki. Sampai
akhirnya…."Alhamdulillah…!!!", teriakku tak kala kugapai Puncak
Gunung Gede. Saat itu jam menunjukkan pukul 5.30 pagi. Aku begitu
terpesona melihat pemandangan yang ada disekelilingku. Ternyata saat
itu Sunrise di Gunung Gede sedang berlangsung. Warna awan yang
keemasan menyelimuti seluruh permukaan puncak Gunung Gede. Suatu
pemandangan yang menakjubkan yang belum pernah Aku lihat sebelumnya.
Aku bagaikan berada di Negeri Awan yang hanya ada di dongeng-dongeng
klasik. Ingin Aku mengabadikan kejadian yang mempesona itu, namun
Aku lupa kalau kamera dibawa oleh Endit.

Sekitar jam 7.00 barulah regu Endit sampai di puncak. Kami pun
berphoto bersama. Lalu aku bertanya kepada mereka mengapa mereka
terlambat sampai di puncak…?

By Hijjau  

Hey…hey….siapa dia ??

Filed under: Catatan Perjalanan - Administrator @ 6:40 am

Hey…hey….siapa dia ?? kaya lagu yang biasa dinyanyiin waktu saat
kuis siapa dia, kami berdua terus mencoba untuk terus bertanya……….
Pagi ini, casio baru hadiah ulang tahun kemaren terlihat angka 6.30 WIB,
21 Juli 1994. Kaki-kaki masih terasa agak bengkak setelah sebelumnya
dihajar beberapa bukit dan beberapa kali nyasar menembus kaki-kaki
Merbabu. Udara Selo pagi itu cerah dan dingin sekali maklum memang lagi
hot-hotnya musim kemarau dan saat itu gw paksakan untuk bangkit dari
kantung yang anget itu. Weks si Bravo, satu-satunye temen gw ini masih
kenceng banget ngoroknye laksana habis macul tanah berhektar-hektar tapi
ga digaji …….jadi bisa ngebalesnye lewat tidur doangan.
Mmmhhhh segar bener nih udara ngebantu menyegarkan betis yang dari tadi
malem mo mledak aje, ya…malam itu kita bedua nginep dirumah pak
Ruslan….salah seorang warga yang kebetulan ketemu kita kemaren siang
waktu mo nyari tempat istirahat emang dasar rezeki ada aja jalannya
selain tempat nginep juga dikasih makan n minuman hangat pula (matur
nuwun sanget pak).
Pagi ini rencananya kita mo jalan-jalan seputaran selo dan nanti malam
baru berangkat ke Merapi, setelah sarapan tumis kangkung plus tempe
menjes yang suueweger ala Ibu Ruslan, kita berdua berjalan-jalan bak
Juragan ama Mandor tanah yang lagi ngecek Aktiva Tetapnya. Rencananya
kita mo daftar buat pendakian nanti malam, buset dah daftar dimane nih??
Kok kaga ada pos sama sekali..?? "mo mendaki merapi ya mas ??" tiba-tiba
ada suara lembut yang ternyata seorang gadis desa, "
hheehhee……..biar masih banyak jigong klo dah ketemu yang beginian
mah semua pasang aksi "tapi emang gw akuin lo hebat kawan" batin gw
sambil berpaling ke temen gw itu yang udah ngobrol bak temen lama
……….tinggal gw aja yang slanang-slonong nyari orang buat nanya
dimana klo daftar………jawaban yang gw dapet selalu langsung naik aja
mas asal hati-hati…..weks….asyikk….
Setelah gw yakin beneran tinggal naek aja, kembalilah gw menuju sebuah
rumah dipinggir jalan arah ke jalur merapi via selo dimana Si Bravo
masih ngobrol sama gades yang terakhir gw kenal namanya Ayu…yah se ayu
orangya memang. Setelah puas ngalor ngidul ngobrol tibalah satu kalimat
kunci dari si Ayu " Emang ga takut Cuma berduaan doang ??" "ahhh kamu
bisa aja, nanti juga banyak temen" kilah gw. " loh mas, nanti malam kan
malam jumat ……….mana ada yang mo naek merapi??" gubraxxx,
seumur-umur yang namanya jumat cuman gw tau di kalenderan eyang kakung
gw tapi ga pernah geder klo ngadapinnye tapi yang ini kenape terasa
banget yak ??? dalam hati …setelah kenyang angin gara2 ngobrol kita
pun pamit balik ke tempat pak Ruslan yang justru "Aneh" karena dia
katanya ga kenal……..alamakkkk……..
Sore ini udara cukup anyep, kita bedua sepakat klo naek sore aja karena
Cuma punya buku sebagai referensi dan guide…..maklum
rookie……..tepat pukul 16.00 kita berangkat.
Jalan makadam menuju jalur tanah merapi memang lebih dekat dibandingkan
dengan merbabu, tetapi dengan terus-menerus naik bikin betis cepet
banget mekar kaya jagung yang dijadiin pop corn………..hampir +/- 20
Menit sampe juga disebuah pos kanan jalur batas tanah dengan bebatuan,
cepet2 ambil posisi nyaman buat nyandarkan badan ini. Setelah beberapa
lama datang beberapa penduduk sekitar dari ladang
mereka….."alhamdullilah"…akhirnya kita berbicara mengenai jalur yang
akan dihadapi lumayan buat pegangan. Setelah cukup kita pun pamit
berangkat dengan sebuah pesan yang cukup bikin kuping ini panas "
hati-hati ya dijalan…..ini malam jumat lohh"……..shit !! kenapa sih
???
Jam menunjukan pukul 18.00 dan kumandang adzan dari radio muntilan pun
terdengar lantang, terpaksa perjalanan kita hentikan disebuah belokan
penuh batu yang cukup besar. Sengaja kita memilih berlindung dibelakang
sebuah batu besar dari serangan angin yang sore menjelang malam itu
bikin gemeteran tangan. Lepas sholat maghrib, tiba2 gw ngeliat sebuah
sosok "sepertinya" wanita duduk diatas batu yang disender si
Bravo……….alaammmaakkkkk……….apaan tuhhhhhh…..baju putih
panjang rambut terurai kebawah dengan sedikit senyuman dan lingkaran
mata agak menghitam………….buset kena terrorist lagi nih
gw……..!! buru2 gw ajak bravo buat jalan lagi saat itu n jalan
terus…….jalan terus…..sampe nafas bener2 ambrol….minum dikit n
jalan lagi…….pokoke gw ga mao diikutin apa lagi diisengin ama
"mereka" bisa-bisa suwe nih !! sampe akhirnya disebuah tanah lapang
banyak batu dengan sebuah susunan batu didepannya sekitar jam
9an………ohh ini mungkin pasar bubrah …..
Setelah nyari yang tempat buat ngedom, baru dah bikin makan n minum
sambil ngobrol sana-sini sampe suatu saat ada bayangan lewat dibelakang
tenda….kamprett !! die ngikutin kayanye nih………huh …antara
berani dan takut belom lagi mitos kerajaan jin dll dah….bikin ngeper
juga nihh…..sial mana bener2 ga ada Pendaki laen lagi………
Aahh cuekin aja dah…….sampe selesai makan n minum si Bravo ngajak
keluar kandang nikmatin bintang yang malam itu memang lagi saling
nunjukin cahaya masing2. gw tolak ajakannye dengan alasan badan
pegel-pegel n jaga stamina buat ke Lawu besoknya…kami pun akhirnya
tertidur setelah Djarum Super terakhir habis.
Badan ini kok rasanya bergerak …….kenapa yak ?? cepet2 gw bangun
dari kantong dan coba ambil sentolop buat ngeliat kondisi diluar
…….masyaallah……..ternyata kita udah pindah sejauh 2 meter dari
tempat kita menancapkan jangkar doom…..wah kayanye udah ga bener
nih…..ahh sa bodo teuing …….turu maneh wae…….setelah membaca
sedikit amalan dari H. Idris tetangga rumah gw kembali ke kantong dan
pulas hingga subuh……….
Shubuh udah berlalu dan perut dah terisi yang hangat2 tapi kita belum
juga berani melangkah karena keadaan masih gelap sedangkan jalur belum
juga terlihat….
Jam 6 pagi baru mulai terlihat semuanya………wah
cantiknya………indah bener…….tetangga juga kayanya baru bangun
tuh si Merbabu…..well good morning every body n things……….
Pendakian ke puncak pun dirintis sedikit demi sedikit ….dan kurang
lebih 30 Menit sampe juga kita dipuncak sang garuda……..setelah
beristirahat dan puas berfoto kita pun kembali turun mengingat
runtuhan-runtuhan batu mulai terjadi bikin ketakutan ini makin
menjadi-jadi………
Setelah makan secukupnya kita pun kembali turun ke desa mengingat masih
ada 1 journey lagi dalam agenda………ahh ngayal aja…..dalam hati,
cukup dah…..turun aja dulu biar selamet sampai dibawah baru kita
bicarakan selanjutnya itu selalu jadi target of target gw kemanapun !!
setelah beberapa lama berjalan sampe juga kami di pos peristirahatan
menjelang desa, disitu baru gw ceritaiin semua ke temen gw……..dan
ternyata dia tau…….bahkan waktu gw lagi sholat magrib (kebetulan
temen gw beda iman) dia bilang si terrorist duduk manis disebelahnya
cuman dia ga ambil pusing…….bahkan waktu didalam tenda dia juga
melihat hal yang sama yang pada intinya dia juga ikut jadi saksi
semuanya ………" lo ngeliat keseluruhan tampangnye ga ?? tanya
dia….."iye…" …….."mirip siapa hayo??" katanya kembali
bertanya………" auahhh serem, boro2 sempet mirip2in !!" jawab gw. "
menurut lo mirip ga sama si Ayu??" katanya……."hah !!….mampus lo !!
lo kemaren ngomong apa?? Janji apa sama tu perempuan ??" tanya gw, emang
dia lebih banyak tau karena ngobrol beduaan lumayan lama sedang gw cari
informasi. " gw ga janji apa2….justru dia bilang ntar ketemuan lagi
yaakkk" katanya….."kambing loh…….ya udah ntar kita ketempat
ketemuan kemaren ama dia………gw ga mao kejadian si Victor (temen ini
kesurupan dari Puncak Slamet sampe Jakarta gara-gara nemu sepatu bagus
di vegetasi dan ga mo dibalikin lagi">>next story aja ok) terulang."
Sahut gw.
Turunlah kita menemui tempat kemaren yang ternyata hanya sebuah semi pos
kamling yang ada dideket perumahan warga. Setelah tanya sana-sini
ternyata ga ada yang kenal sama Ayu……….ya amplop…….."trus
gimana dong ried ??" ya udah kita bersih-bersih, makan trus langsung
pulang aja ke Jakarta lagi……..lawu kita batalin aja……mental ama
fisik gw udah drop, ga pa pa kan!!"
 
Akhirnya jumat itu kita kembali juga ke Jakarta dengan seribu tanda
tanya dan mengarungi perjalanan dengan seribu doa………..
 
"jangan kau sekali-kali melawan alam baik gaib maupun nyata"
 
salam

FARIED 

Puncak Salak I #3

Filed under: Catatan Perjalanan - Administrator @ 6:37 am

02 April 2006 01:05:02

Perjalanan ke Puncak Salak I; seorang perempuan manis,
dan enam ekor laki-laki laknat.

28 Maret 2006
Beli barang-barang kebutuhan, sekalian ketemu dengan
dua orang temen yang mau ikut naik. Malemnya sempet
ada keragu-raguan dari dua orang temen tadi apakah
jadi ikut atau tidak. Mulai dari masalah hujan yang
tiba-tiba turun hingga masalah jumlah yang tujuh ekor
manusia. Tapi akhirnya pukul 00:45:24 diterima
keputusan bahwa besok mereka akan ikut.

29 Maret 2006
Tujuh orang bersiap-siap di kamar kosku. Sesudah
selesai kami jalan ke depan kantor Walikota lama,
nangkring di pinggir jalan nunggu ada bus jurusan
Sukabumi yang lewat. Hari udah mulai redup, udara
berdebu, dan cuaca cukup panas. Satu ekor bus berlalu,
tapi penuh sesak dan tidak memungkinkan kami bersama
gondolan masing-masing dari kami untuk menumpang.
Kemudian strategi diubah dengan cara menguber sang bus
keparat langsung ke sarangnya, yaitu terminal bus Kali
Deres. Jalan kaki sampe ke halte Busway, dan kelompok
tujuh ekor manusia sempat terpecah-pecah karena padat,
ramai, dan brengseknya antrian. Kami temukan sebongkah
bus Sukabumi - Kali Deres tengah nangkring sendiri di
tepi kebrutalan malam terminal. Barang-barang masuk ke
bagasi belakang, dan kami duduk manis di bagian
belakang bus.

Waktu berlalu dan kami tiba di pompa bensin Cicurug,
langsung disambut oleh panitia penyambutan yang lebih
mirip seperti preman bermotor. Tukang ojek menghendaki
kami menggunakan mereka, sementara dikarenakan faktor
harga dan faktor-faktor lainnya, kami lebih memilih
untuk mencarter angkot yang tergeletak layu di pinggir
jalan itu juga. Negosiasi tingkat tinggi dilakukan,
disertai dengan segala rupa ketidaksukaan dan tawaran,
setelah sedikit perundingan dan usaha pendekatan,
akhirnya terlahirlah kesepakatan di antara ketiga
pihak yang bertikai; yaitu kami, tukang ojek, dan
supir angkot.

Maka jadilah sang angkot melaju menembus gelap malam
dikemudikan oleh seorang supir dan ditumpangi oleh
tujuh ekor mahluk jahanam, menuju ke gerbang Wana
Wisata Cangkuang.

Setelah sampai, kami lakukan lagi sedikit usaha-usaha
persuasif terhadap petugas jaga, agar kami bisa
mendapatkan harga masuk yang lebih manusiawi. Kemudian
kami langsung mengadakan pendudukan terhadap selembar
bale kosong di samping warung yang tidak buka lagi.
Meletakkan barang-barang gondolan, dan kemudian pergi
makan secara bergantian dalam dua tim. Selanjutnya
adalah tidur.

30 Maret 2006
Bangun, makan, dan bersiap-siap, juga berdoa bagi yang
ingin berdoa. Sesudahnya adalah menapaki jalan aspal
yang berliku dan menanjak, hingga sebutir pos satpam
di kanan jalan. Karena menurut isu dan desas-desus
yang beredar, bahwa kami akan mendapatkan masalah jika
ternyata ada satpam di dalam pos tersebut, maka
setelah memastikan bahwa tidak ada seseorang pun di
dalamnya satu per satu kami menaikki merambati undakan
tangga batu kecil di samping sungai di seberang pos
satpam.

Jalan-jalan masih dalam keadaan seperti dua bulan
lalu, dan cuaca pun sangat bersahabat. Jalan-jalan
batu kami lewati hingga tiba di suatu tempat yang
bagiku menjadi batas awal mulai memasukki hutan gunung
Salak via Cidahu. Di tempat itu kami kehilangan jalan
karena banyaknya jalan-jalan tikus yang saling
silang-menyilang dengan jalur yang sebenarnya. Yang
terjadi ketika menyusuri sebuah jalan adalah,
tiba-tiba kami berhadapan dengan padang rumput luas
yang tampaknya cukup berlumpur jika dilalui. Kami
memutuskan untuk mundur sedikit kembali ke suatu titik
di jalur yang masih dianggap benar, kemudian dua orang
dari kami pergi mencari-cari jalan yang mungkin
merupakan jalur yang sejati. Secercah titik terang
ditemukan ketika sepotong simpangan kami coba lalui,
tampaklah ada secuil jalur yang cukup meyakinkan agak
jauh ke depan. Kembali lagi menuju tim, untuk segera
berangkat dan mengikuti jalur yang telah ditemukan
kembali.

Ternyata tidak salah, ternyata benar. Jalur-jalur
hutan gunung Salak mulai kami tapaki. Bertemu seruas
jalur yang tertutupi oleh pohon tumbang, sehingga kami
harus merambati tumbangan pohon-pohon itu perlahan.
Naik, naik, naik, dan naik. Beberapa kali bertemu
tanjakan yang cukup terjal, hingga akhirnya tiba di
satu titik di mana aku pernah mendirikan tenda dan
menginap semalam. Bukan merupakan pos, tapi cuma dua
petak tanah datar yang cukup acak-acakan dan akan
lebih acak-acakan lagi seandainya terjadi hujan.

Karena kondisi fisik yang dirasakan sudah mulai
kelelahan, maka dua orang lagi pergi terlebih dahulu
melihat-lihat kemungkinan adanya tanah lebih lapang di
depan. Tetapi belum sempat mereka kembali, tiba-tiba
dan sangat tiba-tiba hujan mulai turun, seakan berkata
"udah, di sini aja!" Jadilah kami terkaget-kaget dan
segera sibuk mengusahakan berdirinya dua keping tenda.
Sesudah tenda pertama berdiri dan flysheet-nya sudah
terpasang, seorang teman perempuan dipersilahkan untuk
masuk terlebih dahulu dan berganti pakaian.

Selanjutnya adalah mendirikan tenda kedua, memindahkan
tas, menguras isinya ke dalam tenda, memposisikan
barang-barang sesuai dengan zonasi yang telah
disepakati. Setelah pekerjaan teknis selesai, kami
para laki-laki keparat mulai berganti pakaian,
meneruskan sedikit beres-beres, dan masuk ke dalam
tenda. Menu malam ini mulai dibicarakan, dan mulai
diwujudnyatakan setelah tercapai pengertian antara
berbagai pihak yang berkepentingan untuk memasukkan
makanan ke dalam perutnya. Dua babak makanan
ditentukan sebagai santapan besar pertama hari ini.
Mie instant dengan tahu potong sebagai menu pembuka,
kemudian nasi putih plus tahu goreng sambel kecap
ditambah telur goreng sebagai babak utama.

Malam belum terlalu larut dan lampu minyak belum
terlalu lama dinyalakan ketika secara spontan
masing-masing dari kami masuk ke dalam tenda dan mulai
bergulung di dalam kantong tidur karena keadaan luar
yang cukup becek - sehingga tidak membuat kami
bernafsu untuk pergi ke luar tenda, tidak ada lagi
pekerjaan yang perlu dilakukan, dan badan yang lelah.
Hasilnya adalah tidur yang sulit diajak mendatangi
kepala kami, kecuali beberapa ekor manusia penggila
makan yang memilih untuk lagi-lagi mengisi perutnya
dengan makanan.

31 Maret 2006
Pagi yang redup menclok di tengah hutan belantara
gunung Salak. Matahari nangkring malu-malu kucing di
arah timur, sementara angin masih menderu-deru dari
arah Kawah Ratu seperti semalaman sebelumnya. Satu,
dan kemudian dua batang racun kuhabiskan sendirian di
luar tenda sementara yang lain masih terbujur kaku
seperti mayat dingin di dalam dua buah tenda membatu.

Gembira hati ini ketika kurasakan mulai ada provokasi
dan agitasi dari pihak perut untuk segera melakukan
survey lapangan. Maka kulihat-lihat daerah lebih
rendah di balik semak-semak di belakang tenda sana, di
dekat sebuah bivak yang rusak berantakan, tertutup
glondongan kayu dan pohon-pohon di sekitarnya. Hasil
survey yang cukup memuaskan kulanjutkan dengan kembali
ke tenda, mengambil tissue, dan selanjutnya adalah
mengadakan tindakan nyata berupa pengosongan isi perut
yang dirasakan sudah tidak selayaknya lagi berada pada
tempatnya.

Kemudian satu per satu manusia keparat yang
menyelipkan diri di dalam hutan hari itu terbangun
dari tidurnya. Sebagian menggulung kantong tidur,
sebagian lagi menjemur pakaian masing-masing, yang
lain mulai mengisi kembali keriernya dengan segala
rupa barang, dan kemudian satu per satu berganti
pakaian. Kami sudah siap tempur.

Perjalanan dimulai kembali setelah segalanya berada di
punggung dan tidak ada sesuatu apapun yang tertinggal
di sekitar bekas tempat kami mendirikan tempat
bermalam. Tanjakan pertama kami naiki, diikuti yang
kedua, ketiga, dan seterusnya. Perlahan-lahan semakin
tinggi dan tinggi, dengan diiringi aroma belerang
Kawah Ratu pada beberapa tempat. Sejak awal
keberangkatan hari ini kami menjaga jarak yang selalu
berdekatan satu sama lain, untuk bersiap-siap
menghadapi jalan sempit yang dengan cuek dan culun
serta tengilnya nangkring di gigir kawah.

Kawah Ratu menampakkan dirinya pada sisi kiri jalan.
Kemudian setelah terus berjalan dan berjalan, akhirnya
tiba juga apa yang dinanti-nantikan. Jalur sempit
dengan jurang di kiri dan kanannya. Kami berjalan
perlahan-lahan, yang satu menunggu yang lain, saling
memperhatikan dan mengawasi, hingga semua sudah
melewatinya. Beberapa jarak ke depan, kami dapati
kembali apa yang juga kami nanti-nantikan. Tanjakan
terjal berupa tebing hampir vertikal, dengan beberapa
bonus-bonus tanjakan serupa lain setelahnya.

Dengan keyakinan dan kepercayaanku bahwa laki-laki dan
perempuan adalah setara, serta penolakanku terhadap
dongeng-dongeng sesat surgawi yang merendahkan jenis
manusia yang satu dibanding yang lainnya, maka
satu-satunya kaum hawa di antara tujuh mahluk jahanam
ini berhasil melewati tanjakan-tanjakan tersebut tanpa
bantuan yang berarti dariku yang berada di depannya.
Tidak terlalu lama waktu yang kami butuhkan untuk
melewati tanjakan demi tanjakan nan sombong.

Tenaga cukup terkuras untuk melewati jalur-jalur
menuju puncak, beberapa kali kami sempat istirahat
untuk minum dan makan makanan kecil seperti biskuit,
coklat, dan gula jawa. Badan semakin lelah ketika ia
dipaksa untuk bergerak semakin jauh, tetapi angin
dingin yang berhembus dari sela-sela semak yang
terbuka memberikan hiburan dan dorongan untuk terus
maju dan maju.

Beberapa tanjakan yang tidak terlalu curam kami lewati
sebelum jalur menjadi semakin datar dan mulai tampak
semak-semak di antara pohon-pohon tinggi. Satu
kubangan lumpur terakhir kami lewati ketika kemudian
kami sampai di sebuah lapangan kecil, di mana tampak
sebongkah pondok kayu beratapkan seng di bagian kanan,
papan penanda Puncak Salak I di kiri, kubangan air di
antara keduanya, dan selembar makam berlapis keramik
putih agak ke bawah di balik pondok. Inilah Puncak
Salak I.

Segala persiapan mulai kami lakukan. Membangun tenda,
membuat penampungan air hujan (karena air di bak depan
pondok terasa agak berbau dan rasanya agak seperti
sabun karena ulah entah bajingan mana), satu orang
menyaring air, yang lain menguras isi kerier, ada yang
memunguti sampah, dan segala hal lainnya. Hasilnya
adalah dua tenda yang berdiri berdampingan, dengan dua
titik lampu minyak yang digantung di dua batang kayu
di samping depan masing-masing tenda, sepetak kecil
tempat yang dipersiapkan menjadi perapian, dan
manusia-manusia konyol yang tengah mempersiapkan
makanan besar pertama untuk hari itu.

Kacang panjang dan buncis yang bonyok-bonyok bahkan
sedikit membusuk kupisahkan dari yang masih segar. Dua
orang memasak nasi dan dua orang lainnya
memotong-motong kacang panjang menjadi pendek. Menu
yang disepakati oleh dewan diktator hari itu adalah
tumis kacang panjang yang ditingkahi dengan telur
goreng, juga diimbuhi dengan sosis goreng. Semua menu
yang tampak indah dan menarik itu pada akhirnya
tinggal menjadi mangsa bagi perut-perut tujuh ekor
binatang jalang yang tengah mengamuk.

Angin mulai bertiup-tiup kencang seperti babi hutan
yang tengah linglung sejak hari mulai redup dan lampu
minyak dinyalakan. Dingin menerpa pipi dan sekujur
badan. Secuil pemandangan matahari yang tengah
terbenam tampak terhalang pohon dan semak di kejauhan.
Langit barat menguning menyala terbakar matahari.

Sebagian mendekam di dalam tenda yang dipenuhi kentut
demi kentut bersahutan tanpa henti, sebagian lain di
tenda yang aman tenteram, aku dan kadang bersama satu
orang yang lain duduk di luar beralaskan ponco menjadi
penghubung antar kedua tenda konyol. Becandaan satu
demi satu mengalir dari mulut-mulut terkutuk di puncak
gunung Salak.

Beberapa orang dari kami menyempatkan diri untuk pergi
ke ujung jalan setapak di balik kubangan air, menatap
di mana biasanya kutemukan pemandangan lampu-lampu
kota Bogor dan Jakarta. Tetapi tidak ada apapun malam
ini, kecuali kabut tebal yang menggenangi lautan luas
hamparan peradaban di bawah sana. Sesekali angin
bertiup kencang menyapu kabut, namun segera
tergantikan dengan kabut lain yang sudah mengantri
sejak sebelumnya. Hanya sekilas-sekilas saja dapat
kutemukan sebersit pemandangan petir menyambar-nyambar
di bawah sana di sebelah kiri kota Bogor.

Dengan modal kayu-kayu kering yang siangnya sempat
dikumpulkan dan sedikit minyak tanah, ada perapian
kecil yang menyala malam itu. Api dengan cukup mudah
menyala dan terpelihara karena kami cukup beruntung
bisa mendapatkan serpih-serpih dan potongan-potongan
kayu sisa pekerjaan orang lain entah siapa. Tetapi
kemudian api mati karena penopang bagian bawahnya
ambruk. Aku yang sudah mulai lelah dan ingin tidur
saja kemudian menyiram bara yang tersisa, dan
meninggalkan sang (bekas) api sendirian di luar, masuk
ke dalam tenda, dan mulai menyelipkan diriku ke dalam
kantong tidur.

Misteri ilahi tidak henti-hentinya terjadi pada
kantong tidurku. Kakiku selalu saja kedinginan di
dalamnya. Mungkin karena aku selalu mengenakan celana
pendek sewaktu tidur di dalam kantong suci itu.
Sementara itu para penggila makan kembali mulai
grasak-grusuk, lagi-lagi memasak makanan untuk perut
mereka.

Angin yang berdesir-desir perlahan berubah menjadi
angin yang menderu-deru menerpa melabrak semak dan
pohon. Seciprat dua ciprat gerimis kadang turun
menerpa tenda. Semakin malam angin datang semakin
kencang. Suaranya membuatku sedikit khawatir akan
kemungkinan datangnya badai.

1 April 2006
Pagi datang sambil bermalas-malasan, langit tidak
terang benderang, dan angin masih saja menderu-deru.
Pagi hari itu sangat basah, hujan sesekali turun
membasuh bumi, dan hingga setengah perjalanan waktu
menuju tengah hari angin belum sudi untuk berhenti
melakukan parade-nya.

Perlahan manusia-manusia sontoloyo terbangun dari
mimpinya dan mulai berkeliaran. Aktivitas pagi
dilakukan, mengambil tampungan air hujan, kencing,
mengabadikan pemandangan langit pagi hari,
mempersiapkan panci-panci untuk makan. Tumis buncis
dan kacang panjang, telor kuah, baso-sosis goreng, dan
seonggok nasi hangat yang sempurna menjadi menu pagi
hari, dilengkapi dengan kripik kentang dan saos sambel
di tangan masing-masing.

Maka berputarlah panci nasi itu dari tangan orang yang
satu ke tangan orang yang lain yang tengah
mengelilingi panci-panci lain berisi lauk.
Perlahan-lahan nasi dan kawan-kawannya berpindah
tempat dari panci ke dalam perut kami.

Ketika putaran panci pertama belum selesai, datang
seseorang dari antara dua orang yang malam itu
mendirikan tendanya di dalam pondok. Mereka bertanya
tentang jalur Cimelati, dan mengajak kami turun
bersama. Hasilnya adalah, kami mendapatkan teman untuk
turun bersama-sama siang nanti.

Makan telah selesai, dan panci telah dicuci. Satu per
satu mulai berganti kostum dengan pakaian dan alas
kaki untuk jalan, segala rupa barang-barang mulai
dibereskan kembali ke dalam kerier. Sampah dibakar dan
tenda digulung kembali, terakhir adalah memeriksa
apakah ada barang atau sampah yang tertinggal. Tidak
ada, tampaknya semua telah dibereskan dan
sampah-sampah sudah dipindahkan menuju tempat
pembakaran sampah.

Yang cukup mengganjal adalah keadaan tempat
tenda-tenda lain berdiri di malam sebelumnya, di mana
beberapa orang dari organisasi entah apa bermalam di
sana dan (sepertinya) tengah melakukan pendidikan
untuk seorang (atau entah berapa orang) calon
anggotanya. Pagi hari itu setelah mereka dan segala
barang-barang mereka meninggalkan tempat itu,
tampaklah bagi kami bahwa di sana tertinggal sekeping
kulit telur, beberapa plastik bungkus luar dan bungkus
bumbu mie instant, dan beberapa macam sampah lain.
Menjadi ironi bahwa mereka, dengan segala embel-embel
"pecinta alam" atau apapun namanya, masih tega
meningggalkan sampah di tempat itu.

Setelah sekejap waktu untuk berdoa bagi yang ingin
berdoa, kami mulai berjalan turun lewat jalur
Cimelati, menyusul dua orang yang sebelumnya sudah
berjanji untuk turun bersama-sama. Banyak lumpur yang
kami dapatkan di awal perjalanan turun ini. Tetapi
perlahan-lahan lumpur menghilang dan berubah menjadi
tanah berbatu dan akar yang tidak terlalu merepotkan.

Di suatu tempat akhirnya kami bertemu dengan dua orang
yang dimaksud. Mereka tengah duduk santai mendengarkan
radio dan minum kopi. Setelah beristirahat sejenak,
kami turun bersama-sama. Beristirahat lagi di tempat
yang lain, dan kembali turun lagi hingga tiba-tiba
ciprat-ciprat air pertama turun diikuti ciprat-ciprat
air yang lain yang tanpa tanggung-tanggung
menghasilkan sebuah hujan.

Ketika hujan mulai turun, seseorang yang berjalan di
belakangku sempat berkata "mati deh." Yang bisa
kulakukan hanya meyakinkannya bahwa hujan di tengah
gunung tidak akan mematikan, yang mana sesungguhnya
lebih dari itu adalah, buatku pribadi kehujanan di
hutan adalah sesuatu yang sangat menyenangkan -
terlebih lagi jika hujan turun dengan deras tanpa
tanggung-tanggung.

Ketika kami sampai di jalur yang dilalui pipa air,
hujan masih belum berhenti. Kami sempat mengisi botol
air dan minum sepuas-puasnya di tempat itu sebelum
perjalanan dilanjutkan kembali. Hujan perlahan-lahan
berhenti ketika kami mulai memasukki jalur yang
membelah bekas perkebunan. Tanah keras yang baru
diguyur air hujan membuat jalur menjadi sangat licin,
bahkan sepatu larsku pun beberapa kali terperdayai
olehnya. Maka hasilnya adalah, dengan paduan antara
tanah keras yang licin dan sepatu yang mulai botak
serta kaki yang sudah mulai lelah, seseorang sempat
terpeleset belasan kali sepanjang perjalanan turun
kali itu.

Jalur kemudian membelah perkebunan, meniti puncak
punggungan di mana kami mendapatkan pemandangan
hamparan pohon-pohon pinus (atau cemara) di kejauhan,
gunung Gede dan Pangrango yang bertumpukan di sebelah
timur, dan puncak 1 gunung Salak yang baru kami turuni
di belakang. Terlalu indah hingga kami harus berhenti
berjalan dan menikmatinya sebentar.

Memasukki kembali sepetak hutan yang tersisa hingga
ujung jalan setapak akhirnya kami kembali kepada
peradaban modern manusia. Satu orang pergi menemani
sang perempuan untuk menumpang ganti pakaian di
banguan yang tampak tidak jauh di bawah sana,
sementara yang lainnya dalam tempo yang
sesingkat-singkatnya melepas kaos, sepatu, dan kaos
kaki, diikuti celana, kemudian celana dalam, dan
berganti dengan pakaian kering. Setelah semuanya telah
masuk kembali ke dalam tas, kami segera menyusul dua
orang teman yang telah berada di bawah.

Sedikit berjalan ke bawah, membelah lautan padang
ilalang di tepi perkebunan untuk berpindah ke jalan
yang lain, akhirnya kami bertemu dengan seseorang yang
bersedia untuk memanggilkan ojek di bawah sana.
Setelah melakukan negosiasi, dicapai kesepakatan
harga, dan kami satu per satu bertangkringan di atas
sepeda motor yang segera meluncur menuju pertigaan
Cimelati. Kami pun berpisah dengan dua orang teman
yang baru bertemu di puncak Salak dan turun
bersama-sama dengan jabat erat dari kami.

Jalan yang panjang dilalui sebelum kami tiba di
pertigaan, membayar ongkos, mengucap terimakasih, dan
mencari keputusan apakah hendak langsung ke Jakarta
atau hendak makan terlebih dahulu. Keputusan berpihak
kepada langsung pulang ke Jakarta, maka kutitip
request kepada "petugas pertigaan" untuk
memberhentikan bus jurusan Sukabumi-Kali Deres atau
Sukabumi-UKI yang lewat.

Sore hari itu kami duduk terpisah-pisah di dalam bus
yang melaju menuju UKI. Tidak ada kemacetan berarti
yang harus kami hadapi sehingga dengan cepat bus telah
tiba di Ciawi, selanjutnya ke Jakarta, dan sampai di
UKI. Dilanjutkan dengan bus jurusan Kali Deres, dua
orang teman turun di Palmerah, sementara aku dan yang
lain meneruskan hingga Grogol.

Setelah menaiki jembatan penyeberangan, sedikit
berjalan kaki, tibalah kami di kamar kosku untuk
menaruh barang-barang. Selanjutnya adalah makan
bersama.

***

Maka berakhir sudah perjalanan bersama ke puncak Salak
I. Senang dan gembira, karena sudah bersama-sama
mengunjungi kembali puncak I Salak, dan semuanya sudah
pulang dengan selamat.

Terimakasih untuk:
1. Teman-teman seperjalanan; seorang perempuan manis,
dan lima ekor laki-laki laknat.
2. Gunung Salak itu sendiri.
3. Segala pihak yang telah membantu dan mendukung.

setan

Pendakian Milis #pendaki ke Merapi 25-26 Dsember 2004

Filed under: Catatan Perjalanan - Administrator @ 6:36 am

Pendakian ini adalah pendakian yang dimotori oleh rekan-rekan milis pendaki Indonesia, diikuti oleh 24 peserta dari 4 kota, antara lain Jakarta, Yogja, surabaya dan solo. Dari Jakarta di bagi 2 kloter perjalanan antara lain “kloter Senen” yaitu Bang Nanda, Nhanha, Ryan(M_zikir), Rina, Dini dan Dody. “Kloter Jatinegara” terdiri atas Arinowo, mhama, Barak, Semi, Setia, Ipul, Gethuk, Baba, dan Yanweka.

Kloter hanya sebutan kami, untuk menyebut groups yang bergabung di dalam team merapi saat itu.

Meeting point yang telah ditentukan adalah Stasiun Tugu Jogjakarta. Tepat pukul 9 pagi kami berkumpul disana, ditambah seorang kawan dari milis Jejak Petualang yaitu Yusup Irfan yang turut bergabung dengan kami sekaligus menjadi guet kami selama perjalanan.

Setalah sarapan pagi lesehan di sebuah warung, kami langsung menlanjutkan perjalanan menuju kota selo, tidak kurang 2.5 jam sampai di kota yang sejuk ini dengan mobil carteran, dan hujan pun menyapa kami dengan lembut.

Di basecamp ini kloter dari solo dan surabaya belum terlihat, menurut kabar sms mereka masih dalam perjalan menuju selo. Kloter solo ini terdiri atas beberapa rekan Palimka dan satu dari surabaya yaitu kiskie.

Terdengar kabar via sms bahwa team yogja yaitu kabul dan badug yang mendaki melalui jalur bebeng sudah mendekati pos 4.

Bila kita simak sedikit tentang gunung merapi ini maka Gunung Merapi (2914 meter) hingga saat ini masih dianggap sebagai gunung berapi aktif dan paling berbahaya di Indonesia, namun menawarkan panorama dan atraksi alam yang indah dan menakjubkan. Secara geografis terletak di perbatasan Kabupaten Sleman (DIY), Kabupaten Magelang (Jateng), Kabupaten Boyolali (Jateng) dan Kabupaten Klaten (Jateng). Berjarak 30 Km ke arah utara Kota Yogyakarta, 27 Km ke arah Timur dari Kota Magelang, 20 Km ke arah barat dari Kota Boyolali dan 25 Km ke arah utara dari Kota Klaten.

Bilamana gunung ini menunjukan kedahsyatan erupsinya, masyarakat Yogyakarta dapat menyaksikan gumpalan asapnya yang berwarna putih kelabu atau kehitaman-hitaman mengepul keatas yang dari kejauhan nampak seperti timbunan bulu domba. Akan tetapi bilaman gunung itu dalam keadaan “tenang”, pesonanya demikian memukau, sehingga merangsang para remajayang ingin berpetualang mendaki gunung dan para pecinta olahraga mendaki gunung untuk menaklukan puncaknya.

Mendaki Gunung Merapi merupakan object wisata petualangan yang sangat menantang bagi para petualang yang ingin merasakan keindahannya. Untuk berpetualang disana anda dapat melalui beberapa jalur pendakian dari tingkat kesulitan yang tinggi hingga melalui jalur yang mudah, jalur pendakian tersebut antara lain melalui jalur pendakian bebeng (sebelah selatan) dan melalui Selo (sebelah utara).

Bagi yang kurang berminat melakukan pendakian sampai ke puncak masih dapat memuaskan hasrat hatinya untuk mengagumi kedahsyatan yang indah dari gunung Merapi ini, dari daerah Bebeng yang terletak lebih kurang 2 kilometer disebelah tenggara daerah Kaliurang, atau bisa juga melihat dari daerah Turi, lebih kurang 5 km disebelah barat daerah Kaliurang, jika ingin menyaksikan puncak Merapi dari kejauhan secara jelas, dapat digunakan teropong pengamat dari Pos Pengamatan Gunung Merapi di Plawangan.

Untuk mendaki gunung ini kita dapat melalui jalur pendakian yang paling mudah yaitu melalui jalur pendakian selo. Selo adalah sebuah kota kecil yang masuk ke dalam kabupaten boyolali. Dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat baik dari arah magelang maupun dari kota boyolali. Kota ini memikili kekhasan tersendiri karena udaranya yang sejuk dan dari sini kita dapat melihat dua buah gunung yang mengapit kota ini yaitu gunung merbabu dan gunung merapi.

kedua gunung tersebut dapat kita daki melalui kota ini dengan catatan untuk mendaki gunung merbabu lebih sulit dari selo karena jaurnya yang terjal, dan berbeda sekali dengan gunung merapi yang dapat kita tempuh hanya memakan waktu 5-6 jam menuju puncak.
Sebelum mendaki alangkah baiknya anda melaporkan rencanan perjalanan anda ke basecamp pendakian yang letaknya tepat di pinggir jalan.

Selain itu di basecamp ini anda dapat menyiapkan segala perlengkapan yangakan dibawa, bila butuh pemandu anda juga dapat menemui banyak sekali pemanda yang siap mengantarkan anda.

3 jam perjalanan kita akan merasakan hutan yang sudah mulai gundul di kawasan ini, dengan jalan tanah bercampur akar-akar pohon, namum keindahan sekelilingnya sudah bisa kita nikmati yaitu sajian kota boyolali dan kota magelang dari kejauhan. setalah itu kita tidak akan menemui pohon yang tinggi dan angin mulai berhembus kencang, anda dapat melihat pemandangan yang sangat menakjupkan yaitu berupa hamparan batu hingga mencapai puncak garuda.

Hambaran batu dikenal dengan pasar bubrah atau pasarnya lelembut, untuk mencapai puncak kita dapat menempuh kurang lebih 1 jam melewati batu sediment bekas letusan gunung tersebut. Puncak Gunung merapi pada ketinggian 2914 Mdpl dengan pesona kawah yang masih aktif dan disana pula anda dapat melihat dan naik ke atas puncak garuda, tanah tertinggi di yogjakarta.

Ngecamp di Watu Gajah
4 Jam perjalanan dari basecamp sampailah kami di watu gajah, di sini kami mendirikan tenda dengan terpaan angin yang cukup kencang. Dipilihnya watu gajah karena kondisi cuaca yang kurang mendukung untuk melanjutkan perjalan ke pasar bubrah, apalagi team solo dan surabaya masih jauh dibawah sana.

Tepat pukul 10 malam team solo dan surabaya sampai di camp, dan meraka langsung mendirikan tenda dan langsung bobo.

Pagi Muncak
Setalah berfoto-foto ria dan sarapan pagi, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju puncak, seluruh team kecuali bang ryan saja yang tetap tinggal di tenda untuk menyediakan makan siang.

Sejak di pasar bubrah saya dan barak melihat jalur yang lumayan terjal
maka itulah saya sengaja informasikan ke kawan barak untuk mengawasi rekan-rekan khususnya cewek, terutama kiskie, dini, dan setia (nhanha juga dech).

Bertemu dengan kabul cs
Sebuah tenda biru tidak jauh dari puncak disanalah team yogja mas kabul dan badung ngecamp tadi malam, Sedangkan posisi saya nggak jauh - jauh dari bang nanda, hanya saja sewaktu ketemu dengan mas kabul …, posisi saya sudah ada di atas sayap kiri…., dan saya sempet jabat tangan dengan kalian…., dan aku
langsung ngeloyor krn melihat setia ….semakin ke kanan …(salah jalur) dan barak teriak-teriak “kiri-kiri”

diPuncak
1 Jam berjalan santai sampailah di puncak garuda dengan asap belerang yang mengepul dari sela-sela batu membuat sesak nafas, namun tak menghalangi kami untuk berfoto-foto. Dan tentunya yang utama adalah mengucapkan rasa syukur krn masih bisa diberikan kenikmatan menikmati puncak garuda Gunung Merapi.

Selepas berfoto-foto di puncak saya, barak dan ipul sengaja menjadi juru
kunci alias paling buncit…krn jempol kaki kanan terasa nyeri akibat
keseleo…, di temani barak dan ipul kita sempet mandi uap SPA dari uap
yang keluar dari sela-sela batu dikawasan puncak merapi ini.

Sampai di basecamp tenda barulah saya bisa berbincang-bincang dengan mas
kabul dan mas badun9, sambil mendengarkan cerita kalian yang agak
menyeramkan itu…, waktu jualah yang tidak menyempatkan kita untuk
ngobrol-ngobrol lebih lama…, krn kitapun harus mengejar kereta api
sore ini juga…, krn sebagian teman2 harus bekerja pagi harinya.

Terima kasih atas cerita pengalaman kalian, walaupun pertemuan kita
hanya sesaat semoga tali persahabatan ini semakin erat…, dan mohon
maaf bila kami memiliki ke alfaan yang kurang berkenan sewaktu disana.

Terima kasih atas persabatan dan perjalanan yang indah ini. (yanwk/gappala14/milispendaki).

Dan bagaimana kabul dan badung melewati jalur bebeng yang agak terjal dibawah ini kabul akan menceritakan untuk anda.
From: keranda mayat baloengnom16@yahoo.com

Yogyakarta akhir akhir ini sepanjang hari hujan, deras. Jalanan sekitarku kerap
digenangi air setinggi lutut yang sering buat motor mogok. Siang yang mendung
itu, usai hujan dibawah guyuran gerimis kami mencari 4 dirigen 2,5 liter. Saat
ditanyakan oleh ibu penjual dirigen, kami bilang, “Mau buat perjalanan bu, ke
Merapi”.

Lantas ibu itu bilang, Merapi lagi status siaga dik, liat aja di koran
Merapi kemarin, waktu kita cari, ternyata korannya gak ada. Aku tertegun, kaget,
dan bertanya tanya, kalaupun iya, kami harus membatalkan perjalanan. Melihat
kondisi sekarang ini, puncak yang sering diguyur hujan akan meningkatkan
aktifitas kawah yang semakin mengepulkan asap pekat dan tebal.

Ibu itu bercerita panjang lebar, tentang Merapi, tentang mistis Jogja, tentang
aktifitas gaib yang sedang “marah”, kata ibu, “Saat ini alam lagi panas dik,
alam yang nggak keliatan dan yang keliatan, tapi kebanyakan orang nggak
percaya”, cuaca lagi nggak ramah, dan gaib lagi marah karena tempat tempat
mereka diganggu, liat sendirikan, acara acara di TV yang banyak menampilkan
pencarian penampakan, dsb, dsb.” “Adik dari mana? Semarang bu, klo Smg atau dari
Jogja insyaAllah dilindungi,” he he.

Aku bilang, sudah pernah ketemu mbah
Marijan kok bu, juru kunci Merapi, ntar kita juga ijin dulu kesana. Ibu itu
terus bercerita, sementara kita sudah ingin pulang ke kos :( , akhirnya kami
minta restu dan doa dari ibu ibu yang berumur sekitar 60-an, di doakan euy,
lumayan dapat petuah bijak.

Seharian itu hujan, belanja logistik, terus packing buat perjalanan besok, saat
cari logistik, aku lihat di koran KR, status Merapi aktif normal, angin di
sekitaran puncak tenang, bertiup dari selatan ke barat daya. Cukup aman, kurasa.

Hari Jumat, kliwon, kita sampai di desa Kinahreja, ntah, hari hari mendekati
perjalanan kami selalu bertemu dengan orang tua, dan kebanyakan dari mereka
memberi senyum yang sangat ramah, membuat perjalanan yang menegangkan ini terasa
jelas kutatap, meski cuaca sebenarnya disinipun tak pernah lepas dari hari
gelap, mendung, dan hujan,

ketemu mbah Marijan, mbah sempat khawatir juga, tapi
dengan gaya bicaranya yang khas, tenang dan menyejukkan, senyum lagi, “Adik
sudah pernah kesini? mbah percaya aja sama kalian, asal.. “, sebelum selesai
bicaranya aku ngomong sama mbah, ntar kalo cuacanya nggak memungkinkan kami
nggak meneruskan kok mbah, paling nggak itu bisa membuat beliau tenang.

Lepas dari jam satu siang, setelah hujan deras, sisa sisa gerimis, kami mulai
perjalanan menuju campIV, camp tertinggi di lereng selatan. 1 jam pertama menuju
CampI sempat sinar matahari muncul, menuju campII, dst keadaan gelap, turun
hujan lagi, basah.. basah.. , sampai di CampIV, pukul 17.30. Buka tenda di lahan
yang sempit dan miring, carrier dijadikan alas untuk mengurangi kemiringan
tenda.

Sabtu pagi, pukul 08.00 kita lanjutkan perjalanan ke arah Puncak Utara (Garuda).
Langsung mendaki dan menyisir ke timur. Setiap tikungan dan tanjakan kami beri
marker merah, setiap jarak yang hilang jangkauan pandangan karena kabut, kira
kira 5 meter. Di tempat yang tak terjangkau karena tebing, agar tak kehilangan
jejak, seandainya terjadi hal hal yang memaksa kita turun.

Perjalanan kita dibelah jurang tebing, naik lagi ke atas ke hulu lembah,
melintas di slab berkemiringan 70 derajat, dengan carrier 90liter di pundak,
enak tenan. Kami tak mungkin memanjat tebing setinggi 20meter itu, agak turun ke
bawah, carrier ditanggalkan, kemudian memanjat memasang anchor(tambatan tali) di
batu tebing. Dengan berpegangan pada webbing(tali pita) kita melewati suatu
bentuk patahan tipis dan retak.

Cuaca saat itu kabut namun kadang jarak pandang bisa mencapai puluhan meter ke
sekitar lereng. Membuat perjalanan ini terasa lancar lancar saja, dan kitapun
tertawa.. haa haa. Sampai di tepi batas punggungan mulai mendaki ke Puncak.
Terjal, batu batuan semakin rapuh dan mudah longsor, langit di atas cuman
setinggi kepala, gelap bagai malam, kabut menyergap dari segala penjuru,
diliputi asap belerang yang tebal. Tak terasa di depanku sebuah tebing
menjulang, ketika melongok ke kiri, disamping tebing itu lereng berwarna kuning
kehijauan mengepulkan asap pekat berbau menyengat.

Sejenak kami di balik tebing, bertanya tanya pada kabut dan cuaca, akankah kita
melewatinya? Pandangan tak mungkin tersingkap, maksimal satu dua meter. Ternyata
tak ada pilihan lain, sebelum kami terjebak lebih lama di balik tebing ini, air
bekal kami gunakan untuk membasahi kain untuk masker pernafasan. Aku bilang ke
rekanku, “Kamu cepat ikuti aku,

jangan berhenti dan terus mendaki, tak berpikir
panjang, langkahku dimentahkan belerang rapuh itu, panas, beberapa kali pijakan
hancur karena rapuhnya medan terjal itu, akhirnya usaha yang kulakukan berhasil
juga, diikuti badun9, nafas terlanjur dipenuhi asap sesak dan menyakitkan di
paru paru. Akhirnya aku berdiri di puncak tebing, lahan bebatuan disamping
ladang belerang. Helipad lebar. Tampak beberapa seismograf yang menunjukkan
posisi kami sudah dekat ke arah puncak, namun tak terlihat apapun, kecuali tanah
yang kita pijak. Kemana arah kawah mati? Kabut semakin dingin, gelap gulita, aku
putuskan menunggu beberapa detik menunggu jarak
pandang melebar.

Sampai akhirnya, kami coba melangkah satu dua meter meraba kondisi medan. Aku
ingat jalan ke bibir kawah mati cenderung menurun. Masih ragu ragu, kita hanya
berhenti memandang kegelapan kabut, kulemparkan dua batu besar untuk mengetahui
mana jurang kawah mati. Dalam kekacauan ini terlihat setumpukan batu, kemudian
bendera orange pendakian anak anak TWKM kemarin, kami bisa menentukan arah
perjalanan. Jurang kawah mati di depan mata,

tapi kami tak sanggup melangkah
kecuali hanya menahan dingin dan menahan nafas akibat asap kawah.
Terjebak ntah berapa menit, samar samar tampak sebuah kabel hitam, aku ingat,
pendakianku dulu mengikuti kabel karet ini, “Ini jalannya,” tanpa ragu lagi kita
menyisir bibir kawah selebar satu meter yang mendaki, melewati sumur uap yang
tampak mengerikan, dihantam kabut dan angin kencang.

Sampai di jalur lereng puncak dari arah utara. Istirahat sebentar, hampir pukul
14.30. Carrier kami tinggal dan segera mendaki 5menit ke puncak Utara, cuaca
semakin tdk menentu, gerimis, ambil dua foto, dan langsung turun ke arah
carrier.
Segera memakai raincoat kemungkinan akan terjadi hujan badai. Kami melanjutkan
perjalanan turun ke arah pasar Bubrah, tapi diguyur hujan deras, disertai petir.
Segera lereng ini menjadi aliran air yang mengalir deras, pemandangan yang
sangat indah, bagai di tengah riak jeram, namun keadaan tak memungkinkan untuk
mengambil kamera.

Kami tetap berjalan ditengah guyuran hujan, sesekali merunduk sejenak saat
kilatan petir menyambar. Kami berjalan menepi ke tebing tebing yang sepintas
seperti air terjun yang mengucurkan air melimpah. Tanpa sengaja kutemukan
cerukan tebing menjorok ke dalam, disana kami cukup mendapatkan perlindungan
dari hujan deras. Menunggu hujan reda, akhirnya kami putuskan flycamp di atas
batuan tebing ini.

Hari mulai sore, cuaca semakin membaik, namun kabut masih menyelimuti.
Melewatkan malam minggu di lahan sempit miring di lereng bawah puncak. Menunggu
kabar teman dari Jakarta, esp. Gethuk “Truwelu”. Paginya, meski matahari tak
bersinar secerah dan sepanas yang kami inginkan, bekal basah kami keringkan di
atas bebatuan, sambil menunggu sms dari Geth, sesaat kemudian Hp berdering, Geth
mengabarkan, teman teman dalam perjalanan ke Puncak dari bawah pasar Bubrah,
“Ok, tak tunggu pak, Selamat Mangkat” jawabku singkat.:)~

Pukul berapa, aku lupa, melewati kami dua orang ke puncak, kemudian beberapa
saat lagi, lewat tiga orang, aku tanya salah satu dari mereka, “Dari mana mas?”,
dia jawab, “Pathuk, ngantar teman dari Jakarta”, Kemudian aku tanya lagi ce di
belakangnya, “Dari Jakarta mbak, yah, ada yang namanya Gethuk??” Dia melewati
kami terus berhenti di depan, “Oh ini khabul yah”, perkenalan dengan mbak

Nhanha, disusul rombongan di belakangnya dari anak anak Gappala, teman teman
Palimka, andri, agus, dst, dan ketemu dengan abang kita, bang Nandha :) ,
kemudian ntah urutan mana yang benar, Arief Gethuk, Rina, Dodi, Kiskie, oh iya,
Dini, terus.. dst, perkenalan, salam salaman kemudian mereka ke puncak.
Beberapa saat setelahnya suasana kabut kemudian gerimis, sebentar kemudian kita
selamatkan barang barang terus packing Carrier.
Kita sama sama turun ke pasar Bubrah, dan seterusnya ke Basecamp Selo.
Tak terasa kaki kami melangkah menjauh tebing yang beberapa hari ini menemani
dan menjadi naungan kami, jauh dari getaran getaran kaki manusia di Puncak yang
sunyi.

thx to: mbah Marijan, mbah mbah yang telah memeberi kami nasehat dan restunya,
dan terutama kepada Allah Swt yang memberikan langit-Nya untuk dinikmati, dan
teman teman semua, haa haa ,.,

Team Jakarta mengucapkan terima kasih kepada seluruh team Palimka, Team Jakarta, team Jogja. Semoga perjalan ini menjadikan kita lebih arif dan bijak, persaudaraan dan persahabatan adalah ikatan murni yang tertuang di dalam jejak-jejak langkah yang tertinggal di puncak sana.

Yanweka(gappala14-milisPendaki)

Pendaki

Cintailah Alam ini agar lestari
Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Janis Joseph