Menepis Sebuah Keinginan II (Catper Ceremai versi IPJ)
Suasana tak jauh berbeda saat pertama kali mengunjunginya. Ya…dua
tahun lalu kuinjakan kaki seorang diri didesa ini. Begitu juga saat
bertemu dengan sesepuh apuy, Abah Suljo (’bah Suljo). Seorang bapak
tua yang memancarkan rasa teduh dan arif yang siap menyambut
pengunjung dengan keramahan yang begitu tulus. Walau telah termakan
usia, namun tetaplah seorang manusia yang tegar
Saat kami mengunjungi beliau untuk ijin pendakian ke ceremai, Abah
Suljo seperti biasanya mempersilahkan kita masuk dan menyediakan
minuman dan makanan tanpa lagi berbasa-basi (melly nech kayaknya yg
ngabisin makanannya Abah Suljo hihihi), gerai tawa dan gurauan kerap
kali terdengar dari mulut mungil yg tak bisa berdiam diri. Arahan dan
nasihat tak luput dari kewajiban Abah Suljo untuk meredam gejolak
darah muda yang tak terkendali.
Pendakian pun dimulai sekitar pukul 10.30 siang sabtu itu, dengan
santai dan saling bercanda kami memulai pendakian ini. Terik matahari
tak luput ikut menyemarakan keceriaan kami.
Mulai memasuki pintu rimba, matahari tepat diatas kepala. Pendakianpun
lebih santai dengan suasana yang redup dan tenang. Menetramkan pikiran
dan rasa yang teracuni oleh hiruk-pikuk kehidupan kota.
Saat itu banyak keinginan dan rencana menuju puncak, sejuta harap
bergemuruh saling menampakkan kekuatan yang akan sirna. Seribu godaan
menghantui setiap langkah kaki yang menapaki jalan penuh liku.
Ego dan rasa ikut menyemarakan sebuah pertarungan jiwa, berharap dapat
menaklukan sang jiwa yang kerap terlena.
Kebimbangan terus saja menggelitik kalbu, menyuarakan egoisme dan rasa
jumawa yang beriringan mengikuti langkah ini. APa yang harus kulakukan?
Masih adakah sejuta keinginan dan gelora tanpa batas yang dulu begitu
dekat dengan diri ini.
Lalu tak terasa semua jejak-jejak langkah masa lalu terbentang
dipelupuk mata, berbagai kejadian kembali diputar. Seperti sebuah
lentera yang menampakan kembali sinarnya walau redup, tapi pelita itu
membuka hati dan rasa yang mulai tergoda.
Lalu emosi dan rasa ego mulai memudar, seiring keinginan untuk berbagi
dan berharap pelajaran dari Sang Alam.
Akhirnya harus ku-tepis sebuah keinginan yang selalu menghantui jiwa,
yang selalu ingin menurutkan ego, emosi dan rasa.
Lalu ku berharap, semoga akan lebih baik dari hari-hari yan pernah
kujalani.
Apuy, 7-9 April 2006.
"Aku sadari, suatu hari nanti mungkin tak kan seberuntung kisah-
kisahku yang lalu"
BY HIJJAU

