Dieng & Jogja- 15 Januari 2005 22:24:11
Dieng & Jogja
15 Januari 2005 22:24:11
Tanggal 9 Januari 2005 pukul 20:11, akhirnya bus jalan
juga. Sinar Jaya kelas ekonomi, di mana di dalemnya
orang-orang ngisep rokoknya seenak jidat walaupun bus
lagi berenti, di mana di dalemnya seorang tukang apel
jualan apel dengan harga yang nukik dari atas ke
bawah, di mana di dalemnya selain bau rokok juga
bergentayangan bau keringet dan bau ketek plus bau
asep knalpot dari segala sumber; sebuah bus yang
sepanjang perjalanan berenti di tiga tempat: entah di
mana, Indramayu, dan di Brebes.
Harusnya naik bus ke Wonosobo, tapi karena satu dan
lain hal saya dan seorang temen kemaleman sampe di
terminal, jadi kita naik bus jurusan Purwokerto. Sampe
di Purwokerto tanggal 10 Januari 2005 pukul 04:56
subuh, nangkring sebentar di depan sebuah masjid,
nikmatin suasana Purwokerto yang tenang dan sejuk di
pagi hari. Ngga lama kemudian kita udah ada di atas
bus menuju Wonosobo.
Disupirin sama seorang supir "rocker" - karena
tampaknya yang menyerupai rocker (terutama, dari jauh
dari kaca spion tengah, tampak seperti vokalis
Jamrud), rambut gondrong, tampang dingin, dan kemeja
dengan 2 kancing atas terbuka; juga karena cara
nyetirnya yang memang seperti sedang "nge-rock". 05:25
melintasi Purbalingga, dan sekitar 06:30 tiba di
Wonosobo. Makan pagi soto nasi dan tempe goreng.
Sekitar pukul delapan naik minibus menuju ke Dataran
Tinggi Dieng.
Highland of Dieng: Negeri di Awan
10 Januari 2005
Tiba di Tanah Dieng, disambut suasana dan rutinitas
desa yang tenang, berdiri di pinggir seruas jalan di
tengah sebuah lembah yang amat besar. Dikelilingi
bukit-bukit, awan di lerengnya, ladang, dan
bangunan-bangunan beratap hitam. Pukul 09:25 ada di
dalem sebuah kamar hotel bernama "Hotel Asri". Kamar
yang menyerupai kamar di ‘hotel mesum’, dengan
jejak-jejak tulisan berbau cabul di dinding dan
plafonnya.
Ngga lama langsung pergi jalan, Candi Arjuna, Candi
Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi
Sembadra, Candi Bima, Kawah Sikidang, menyusuri
sepanjang tepi Telaga Warna sepanjang-panjangnya, dan
gua-gua di sekitarnya. Bertemu dengan
perempuan-perempuan tangguh yang bersepatu boot,
bertopi caping, berbaju tangan panjang, dan menyandang
cangkul di pundak.
Setelah istirahat sebentar di hotel, pergi lagi, kali
ini ke sebuah bukit yang tetep ditumbuhin pohon-pohon
tua, tinggi, dan rimbun di atasnya - ngga seperti
bukit-bukit lainnya yang udah gundul berubah jadi
ladang - yang berarti juga adalah kuburan. Di Dieng,
kalo ada bukit yang masih ditumbuhin pohon-pohon besar
di puncaknya, umumnya adalah kuburan. Di atas bukit
ini, pertama kali nyata bahwa saya bukan berada di
Jakarta lagi, tapi di sebuah tempat yang sama sekali
lain; di Dataran Tinggi Dieng: Negeri di Awan.
Dari bukit kuburan, dilanjutin ke puncak bukit di mana
di atasnya pertama kali saya dan temen bisa dapet
sinyal hp sejak pertama kali menjejakkan kaki di
Lembah Dieng. Saya dan temen sebut bukit ini bukit
"Sinyal". Dari bukit ini semakin jelas adanya, bahwa
di Tanah Dieng ini, awan begitu akrab mencumbui
bukit-bukit dan pegunungan dan langit terasa begitu
dekat.
Pulang lagi ke hotel, mandi pake air yang luar binasa
dinginnya, makan, bengong, dan kemudian hari itu
ditutup dengan dua botol bir bersama seorang temen
untuk kemudian mulai merelakan diri dipeluk alam tidur
sekitar pukul 20:42.
11 Januari 2005
Subuh hampir pukul lima saya mulai keluar sama temen,
jalan menuju bukit "Sinyal" untuk ngeliat matahari
terbit. Itulah dia matahari terbit pertama saya di
Tanah Dieng; matahari kuning yang perlahan-lahan
dengan penuh keagungan muncul dari balik gunung Prahu
di sebelah kiri gunung Sundoro. Seperti di Kahyangan,
seperti Dieng yang memang berarti Kahyangan; damai dan
tenang. Langit hitam di atas, membiru di tengah, dan
berpijar kuning dan oranye di cakrawala - di mana awan
begitu damai mengambang seperti lautan luas melatari
gunung Sundoro.
Kemudian bukit-bukit dan gunung pun ikut berpijar
diterpa cahaya kuning yang agung. Kabut tampak masih
mencumbui tanah, membelainya dengan sentuhan yang
lembut dan sejuk. Perlahan-lahan suara deru angin
mulai terdengar, sepertinya dari atas gunung Prahu di
seberang.
Kembali ke kamar, buang air besar dan kemudian makan
nasi goreng. Setelah pindah hotel untuk tau keadaan
hotel yang lain, saya dan temen kembali ada di atas
tanah ladang-ladang. Menyusuri jalan-jalan setapak
ladang, melintasi bukit-bukit dan lembah-lembah entah
apa, untuk menuju ke sebuah bukit berwarna hijau muda
yang sejak sehari lalu sudah menjadi cita-cita kami
untuk berada di atasnya. Ada sebuah lembah - setelah
melewati sebuah jalan setapak di antara dua bukit - di
mana pemandangan amat indah, ke arah lembah yang lebih
dalam, menghadapi bukit-bukit terjal hijau membiru,
ladang, dan segala lainnya. Lembah ini istimewa,
karena di lembah ini pun ternyata ada sinyal hp -
sehingga kami namakan "Lembah Sinyal".
Melintasi sebuah desa, kemudian setelah melewati
lapangan rumput yang luas dan seruas jalan
berbatu-batu, kami mulai mendaki lagi jalan setapak di
lereng bukit yang kami tuju - dari sisi belakangnya!
Ya, tanpa sengaja kami malah bikin jalan muter yang
jauh sekali. Tapi saya ngga ngerasa rugi, karena tidak
ada apapun yang tidak berharga untuk dilihat mata di
Tanah Dieng.
Maka di sanalah kami, di puncak sebuah bukit dengan
padang rumput menyelimuti puncak dan sebagian
lerengnya. Sebuah bukit yang cukup tinggi hingga kami
bisa membentangkan pandangan ke bukit-bukit dan
lembah-lembah, ladang, dan desa-desa di segala
penjuru. Awan tampak lebih rendah, dan tanah kahyangan
Dieng membentang amat-amat luas. Seorang penduduk desa
memberitahu, nama bukit itu adalah bukit Smandu.
Pemandangan sepanjang perjalanan pulang pun tidak
kurang berharga untuk dinikmati.
Setelah makan bakso dan istirahat di kamar, belum
bosan, kami sudah menapaki lagi kaki kami di
tanah-tanah ladang. Kali ini sebuah bukit memanjang di
belakang desa. Kami naiki bagian ujungnya, dan dari
atasnya bisa terlihat Telaga Warna, dan dari sana ia
tampak lebih cantik; dilatari bukit, gunung, dan awan
yang tengah (masih) mencumbuinya.
Mandi (yang masih amat sangat dingin), sate (yang
cukup mahal), dan dua botol bir lagi jadi penutup hari
itu.
12 Januari 2005
Sekitar pukul lima pagi bangun dari alam tidur. Kabut
putih pekat yang basah tumpah ruah di lembah, sinar
lampu kuning berpendar, dan jarak pandang pendek
sekali. Pagi yang indah. Tapi ini pagi dari hari
terakhir kami di tanah kahyangan Dieng.
Setelah sarapan pagi indomie "capcay" dan segelas kopi
hitam, saya harus ucapin selamat tinggal untuk Dieng.
Sebuah pengalaman indah di alam kahyangan. Tapi
walaupun ini yang pertama kali, bukan berarti ini yang
terakhir kali. Kita akan berjumpa lagi, kaki dan tubuh
ini bakal bersentuhan lagi dengan tanah ladang-ladang
subur di tanah Dieng - tempat awan dan kabut mencumbui
bukit dan lembah dengan mesra.
Sekitar pukul 07:30 naik bus ke Wonosobo. Dari
Wonosobo, pukul 09:15 dilanjutin ke Magelang, naik bus
yang menjerit dengan keras setiap kali pedal rem
diinjek sama sang sopir. Pukul 11:10 naik bus menuju
Jogja dari terminal Magelang. Bus dengan sopir (kalo
sebelumnya "rocker") "hardcore"; dia bakal semakin
napsu neken gas ketika di depannya ada polisi tidur
atau lobang besar. Luar biasa. Menegangkan pada
awalnya.
Setelah Satu Tahun: Jogja
12 - 14 Januari 2005
Ngga ada yang terlalu istimewa dari perjalanan Jogja
selama tiga hari. Jalan-jalan jauh sekali di malam
hari, nikmatin suasana malam, suasana hujan di kota
ini, neduh di emperan toko, roti bakar, bakso, sms
yang failed sepanjang segala abad, ngga bisa tidur di
malam hari, Malioboro, tawaran dari seorang pelacur di
sebuah gang kecil - "Mas sini mas, duduk dulu
sebentar… yee, ta’ kasih murah e…", bihun dan nasi
goreng anglo (luar biasa!!), dan sepotong pagi Jogja
yang manis di hari terakhir. Untuk kemudian packing
terakhir, dan pulang naik kereta.
Kembali di Kota Sesat: Jakarta
14 Januari 2005
Pukul 18:24 sampe di Jakarta, dan pukul 19:49 sampe di
Kost.
***
Whatatrip!!
setan

