SAVE THE F****G RIVER OF CILIWUNG
ciliwung ?
mmm….neeh gw punya dikit tulisan mengenai ciliwung..Dulu pernah investigasi juga ke sini…
sayangnya gak bisa attach foto
padahal ada beberapa yang sempet di jepret,,,,gak pa-pa deh baca dikit aja yah
salam ciliwung
SAVE THE F****G RIVER OF CILIWUNG
Menelusuri sebagian dari sungai Ciliwung, ternyata memang menyenangkan. Perbandingan sangat kontras dapat tertangkap mata hanya dalam hitungan beberapa meter. Sisi lain kehidupan bantaran kali Ciliwung, yang menampakkan pesona sebuah penjelmaan masa lalu yang masih ada hingga sekarang. Riuhnya anak-anak kecil mandi pada sisi-sisinya, bergelayutan pada sebuah akar pohon yang menjuntai ke air, kemudian menceburkan diri kedalamnya, atau giatnya sang ibu mencuci baju dan keperluan keluarga lainnya, serta seorang bapak yang berwudhu di sana. Lalu, bagaimana sebenarnya wajah Ciliwung disana? Kami, menelusuri sebagian dari sisi lain kehidupan bantaran sungai yang konon menjadi momok paling menakutkan kala musim penghujan datang oleh masyarakat Jakarta.
Sungai Ciliwung merupakan salah satu sungai yang mengalir melintasi batas kota/ propinsi dan memiliki fungsi penting bagi masyarakat sekitar yaitu sebagai sumber air baku, penggelontoran, jalur transportasi, dan sebagainya. Namun demikian, sejalan dengan pertumbuhan kota yang terjadi, kondisi Sungai Ciliwung dan lingkungan sekitarnya semakin hari semakin memburuk. Banyaknya penduduk yang tinggal di pinggiran sungai menjadi permasalahan sungai Ciliwung menjadi semakin kompleks. Selain menimbulkan kekumuhan, perlakuan penduduk kepada Sungai Ciliwung juga kurang bertanggung jawab, karena anggapan Sungai Ciliwung sebagai bagian belakang rumah mereka.
Sungai Ciliwung merupakan bagian dari Satuan Wilayah Sungai (SWS) Ciliwung - Cisadane. Sebagai bagian dari SWS Ciliwung - Cisadane, Sungai Ciliwung mempunyai daerah tangkapan + 337 Km2 mengalir sepanjang 117 km bermata air di Gunung Pangrango (3.019 m) yang terletak di sebelah selatan Kota Bogor dan bermuara di Laut Jawa. Sungai Ciliwung mengairi sekitar 3.853 ha sawah dari Bendung Katulampa.
Daerah hulu Sungai Ciliwung yang berfungsi sebagai kawasan resapan air dan melindungi daerah di bawahnya sangat sensitif terhadap perubahan debit aliran sungai yang pada gilirannya memberikan implikasi terhadap resiko serius terhadap ker usakan lingkungan. Kawasan resapan air merupakan kawasan yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (akuifer) yang bermanfaat sebagai sumber air. Kawasan resapan air berarti dalam daerah terbuka, dimana air yang datang dari atas atau air hujan dapat leluasa tergenang dan meresap ke dalam tanah untuk mengisi rongga-rongga air dalam tanah. Kawasan resapan air sangat perlu dilindungi karena hal ini merupakan tindakan preventif dari suatu tindakan pelestarian sumber daya air tanah dan penanggulangan banjir.
Kriteria umum penetapan kawasan resapan adalah mempunyai curah hujan tinggi, struktur tanah yang mudah meresapkan air dan bentuk geomorfologi yang mampu meresapkan air dan bentuk geomorfologi yang mampu meresapkan air hujan secara besar-besaran.
Berdasarkan Rakeppres tentang Penantaan Ruang Kawasan Jabodetabek-Punjur (2003) menyebutkan pola pemanfaatan ruang DAS Ciliwung ditetapkan sebagai salah satu Kawasan Prioritas dengan fungsi utamanya adalah kawasan resapan air.
Beberapa permasalahan utama yang harus dimitigasi oleh berbagai kebijakan terkait dalam pengelolaan Sungai Ciliwung seperti RTRW DKI Jakarta, Jawa Barat, RTRW Kabupaten/Kota serta peraturan terkait lainnya akan diuraikan lebih rinci mulai dari daerah hulu - tengah - hilir. Pada bagian selanjutnya identifikasi permasalahan daerah hulu dan tengah dikelompokkan menjadi satu bagian mengingat memiliki keterkaitan yang kuat, dan bagian hilir secara khusus.
Masih ada kehidupan lain di Ciliwung
Nampaknya, gambaran sungai Ciliwung, akan jauh berbeda jika kita lihat dari sebelah kota Depok. Jika di Jakarta ia merupakan momok yang sangat menggemparkan, bahkan konon sang empunya Jakarta saat ini alias Bang Yos memusuhi habis-habisan Ciliwung, karena kerap kali menimbulkan masalah yang seruis. Masih Ingat banjir yang hampir menenggelamkan separuh Jakarta, pada beberapa tahun lalu, atau yang masih hangat dari ingatan kita pada Januari 2005, yang lalu? Belum lagi efek yang di timbulkan sesudahnya seperti penyakit dan lainnya.
Tapi disini, suasana bersahabat bisa kita temui. Rimbunan poho-pohon perdu pada kedua sisinya, menyajika pemandangan indah yang menyejukkan mata. Apalagi, jika kita berjalan pada jembatan gantung setinggi hampir sepuluh meter, wih..serasa kita melayang pada pucuk-pucuk bamboo yang rimbun. Memandang dengan leluasa riak-riak air Ciliwung yang memang sedang bersahabat. Ada alunan musik dari sebuah rumah dengan sound cukup keras, dan ruihnya anak-anak mandi dan mencemplungkan diri kesungai tanpa takut terbawa arus air. Sungai yang mendangkal pada musim ini, memang nampaknya tidak terlalu berbahaya, meski hal terburuk seperti banjir banding bisa saja terjadi. "Dulu kalau banjir, bisa setinggi itu, " ucap seorang anak sambil menunjuk sebuah jembatan berketinggian sekitar 10 meter. "Malah pernah sampe masuk rumah, semuanya banjir," tambahnya.
Menuruk keterangannya pula, saya mendapat informasi, bahwa mereka memang setiap hari mandi di sungai ini. Tidak menghiraukan bahaya hanyut, atau terbentur batuan. Tawa canda mereka membahana menghisai setiap lompatan keair. Laki-laki dan perempuan, semuanya berbaur. "Soalnya, dirumah nggak ada kamar mandi, jadi lebih baik mandi disini," ujarnya polos. Pada saat itu, seorang ibupun tengah asik mencuci baju dan pakaian keluarga serta beberapa peralatan dapur. Serta pada sisi yang lain seorang lelaki tangah berwudhu, karena memang saati itu adzan ashar sudah berkumandang.
Kehidupan sepanjang bantaran ciliwung, memang sangat menarik di korek. Jika sekarang kita masih membuang sampah dan libah kesungai, nampaknya, hal tersebut harus segera di hentikan. Sebab, pada sisi yang lain, kehidupan mereka sangat bergantung dari kearifan kita.
Menjelang sore, kami pulang dengan sejuta cerita dan "PR" yang masih tersisa di kepala. Kelak, apa yang bisa kami lakukan dengan keindahan Ciliwung.
Boim Akar
Juli 2005

