Blog Milis #Pendaki Indonesia

"Persahabatan terjalin, persaudaraan terengkuh, bersama mengukir cinta kepada Alam"

April 11, 2006

Puncak Salak I #3

Filed under: Catatan Perjalanan - Administrator @ 6:37 am

02 April 2006 01:05:02

Perjalanan ke Puncak Salak I; seorang perempuan manis,
dan enam ekor laki-laki laknat.

28 Maret 2006
Beli barang-barang kebutuhan, sekalian ketemu dengan
dua orang temen yang mau ikut naik. Malemnya sempet
ada keragu-raguan dari dua orang temen tadi apakah
jadi ikut atau tidak. Mulai dari masalah hujan yang
tiba-tiba turun hingga masalah jumlah yang tujuh ekor
manusia. Tapi akhirnya pukul 00:45:24 diterima
keputusan bahwa besok mereka akan ikut.

29 Maret 2006
Tujuh orang bersiap-siap di kamar kosku. Sesudah
selesai kami jalan ke depan kantor Walikota lama,
nangkring di pinggir jalan nunggu ada bus jurusan
Sukabumi yang lewat. Hari udah mulai redup, udara
berdebu, dan cuaca cukup panas. Satu ekor bus berlalu,
tapi penuh sesak dan tidak memungkinkan kami bersama
gondolan masing-masing dari kami untuk menumpang.
Kemudian strategi diubah dengan cara menguber sang bus
keparat langsung ke sarangnya, yaitu terminal bus Kali
Deres. Jalan kaki sampe ke halte Busway, dan kelompok
tujuh ekor manusia sempat terpecah-pecah karena padat,
ramai, dan brengseknya antrian. Kami temukan sebongkah
bus Sukabumi - Kali Deres tengah nangkring sendiri di
tepi kebrutalan malam terminal. Barang-barang masuk ke
bagasi belakang, dan kami duduk manis di bagian
belakang bus.

Waktu berlalu dan kami tiba di pompa bensin Cicurug,
langsung disambut oleh panitia penyambutan yang lebih
mirip seperti preman bermotor. Tukang ojek menghendaki
kami menggunakan mereka, sementara dikarenakan faktor
harga dan faktor-faktor lainnya, kami lebih memilih
untuk mencarter angkot yang tergeletak layu di pinggir
jalan itu juga. Negosiasi tingkat tinggi dilakukan,
disertai dengan segala rupa ketidaksukaan dan tawaran,
setelah sedikit perundingan dan usaha pendekatan,
akhirnya terlahirlah kesepakatan di antara ketiga
pihak yang bertikai; yaitu kami, tukang ojek, dan
supir angkot.

Maka jadilah sang angkot melaju menembus gelap malam
dikemudikan oleh seorang supir dan ditumpangi oleh
tujuh ekor mahluk jahanam, menuju ke gerbang Wana
Wisata Cangkuang.

Setelah sampai, kami lakukan lagi sedikit usaha-usaha
persuasif terhadap petugas jaga, agar kami bisa
mendapatkan harga masuk yang lebih manusiawi. Kemudian
kami langsung mengadakan pendudukan terhadap selembar
bale kosong di samping warung yang tidak buka lagi.
Meletakkan barang-barang gondolan, dan kemudian pergi
makan secara bergantian dalam dua tim. Selanjutnya
adalah tidur.

30 Maret 2006
Bangun, makan, dan bersiap-siap, juga berdoa bagi yang
ingin berdoa. Sesudahnya adalah menapaki jalan aspal
yang berliku dan menanjak, hingga sebutir pos satpam
di kanan jalan. Karena menurut isu dan desas-desus
yang beredar, bahwa kami akan mendapatkan masalah jika
ternyata ada satpam di dalam pos tersebut, maka
setelah memastikan bahwa tidak ada seseorang pun di
dalamnya satu per satu kami menaikki merambati undakan
tangga batu kecil di samping sungai di seberang pos
satpam.

Jalan-jalan masih dalam keadaan seperti dua bulan
lalu, dan cuaca pun sangat bersahabat. Jalan-jalan
batu kami lewati hingga tiba di suatu tempat yang
bagiku menjadi batas awal mulai memasukki hutan gunung
Salak via Cidahu. Di tempat itu kami kehilangan jalan
karena banyaknya jalan-jalan tikus yang saling
silang-menyilang dengan jalur yang sebenarnya. Yang
terjadi ketika menyusuri sebuah jalan adalah,
tiba-tiba kami berhadapan dengan padang rumput luas
yang tampaknya cukup berlumpur jika dilalui. Kami
memutuskan untuk mundur sedikit kembali ke suatu titik
di jalur yang masih dianggap benar, kemudian dua orang
dari kami pergi mencari-cari jalan yang mungkin
merupakan jalur yang sejati. Secercah titik terang
ditemukan ketika sepotong simpangan kami coba lalui,
tampaklah ada secuil jalur yang cukup meyakinkan agak
jauh ke depan. Kembali lagi menuju tim, untuk segera
berangkat dan mengikuti jalur yang telah ditemukan
kembali.

Ternyata tidak salah, ternyata benar. Jalur-jalur
hutan gunung Salak mulai kami tapaki. Bertemu seruas
jalur yang tertutupi oleh pohon tumbang, sehingga kami
harus merambati tumbangan pohon-pohon itu perlahan.
Naik, naik, naik, dan naik. Beberapa kali bertemu
tanjakan yang cukup terjal, hingga akhirnya tiba di
satu titik di mana aku pernah mendirikan tenda dan
menginap semalam. Bukan merupakan pos, tapi cuma dua
petak tanah datar yang cukup acak-acakan dan akan
lebih acak-acakan lagi seandainya terjadi hujan.

Karena kondisi fisik yang dirasakan sudah mulai
kelelahan, maka dua orang lagi pergi terlebih dahulu
melihat-lihat kemungkinan adanya tanah lebih lapang di
depan. Tetapi belum sempat mereka kembali, tiba-tiba
dan sangat tiba-tiba hujan mulai turun, seakan berkata
"udah, di sini aja!" Jadilah kami terkaget-kaget dan
segera sibuk mengusahakan berdirinya dua keping tenda.
Sesudah tenda pertama berdiri dan flysheet-nya sudah
terpasang, seorang teman perempuan dipersilahkan untuk
masuk terlebih dahulu dan berganti pakaian.

Selanjutnya adalah mendirikan tenda kedua, memindahkan
tas, menguras isinya ke dalam tenda, memposisikan
barang-barang sesuai dengan zonasi yang telah
disepakati. Setelah pekerjaan teknis selesai, kami
para laki-laki keparat mulai berganti pakaian,
meneruskan sedikit beres-beres, dan masuk ke dalam
tenda. Menu malam ini mulai dibicarakan, dan mulai
diwujudnyatakan setelah tercapai pengertian antara
berbagai pihak yang berkepentingan untuk memasukkan
makanan ke dalam perutnya. Dua babak makanan
ditentukan sebagai santapan besar pertama hari ini.
Mie instant dengan tahu potong sebagai menu pembuka,
kemudian nasi putih plus tahu goreng sambel kecap
ditambah telur goreng sebagai babak utama.

Malam belum terlalu larut dan lampu minyak belum
terlalu lama dinyalakan ketika secara spontan
masing-masing dari kami masuk ke dalam tenda dan mulai
bergulung di dalam kantong tidur karena keadaan luar
yang cukup becek - sehingga tidak membuat kami
bernafsu untuk pergi ke luar tenda, tidak ada lagi
pekerjaan yang perlu dilakukan, dan badan yang lelah.
Hasilnya adalah tidur yang sulit diajak mendatangi
kepala kami, kecuali beberapa ekor manusia penggila
makan yang memilih untuk lagi-lagi mengisi perutnya
dengan makanan.

31 Maret 2006
Pagi yang redup menclok di tengah hutan belantara
gunung Salak. Matahari nangkring malu-malu kucing di
arah timur, sementara angin masih menderu-deru dari
arah Kawah Ratu seperti semalaman sebelumnya. Satu,
dan kemudian dua batang racun kuhabiskan sendirian di
luar tenda sementara yang lain masih terbujur kaku
seperti mayat dingin di dalam dua buah tenda membatu.

Gembira hati ini ketika kurasakan mulai ada provokasi
dan agitasi dari pihak perut untuk segera melakukan
survey lapangan. Maka kulihat-lihat daerah lebih
rendah di balik semak-semak di belakang tenda sana, di
dekat sebuah bivak yang rusak berantakan, tertutup
glondongan kayu dan pohon-pohon di sekitarnya. Hasil
survey yang cukup memuaskan kulanjutkan dengan kembali
ke tenda, mengambil tissue, dan selanjutnya adalah
mengadakan tindakan nyata berupa pengosongan isi perut
yang dirasakan sudah tidak selayaknya lagi berada pada
tempatnya.

Kemudian satu per satu manusia keparat yang
menyelipkan diri di dalam hutan hari itu terbangun
dari tidurnya. Sebagian menggulung kantong tidur,
sebagian lagi menjemur pakaian masing-masing, yang
lain mulai mengisi kembali keriernya dengan segala
rupa barang, dan kemudian satu per satu berganti
pakaian. Kami sudah siap tempur.

Perjalanan dimulai kembali setelah segalanya berada di
punggung dan tidak ada sesuatu apapun yang tertinggal
di sekitar bekas tempat kami mendirikan tempat
bermalam. Tanjakan pertama kami naiki, diikuti yang
kedua, ketiga, dan seterusnya. Perlahan-lahan semakin
tinggi dan tinggi, dengan diiringi aroma belerang
Kawah Ratu pada beberapa tempat. Sejak awal
keberangkatan hari ini kami menjaga jarak yang selalu
berdekatan satu sama lain, untuk bersiap-siap
menghadapi jalan sempit yang dengan cuek dan culun
serta tengilnya nangkring di gigir kawah.

Kawah Ratu menampakkan dirinya pada sisi kiri jalan.
Kemudian setelah terus berjalan dan berjalan, akhirnya
tiba juga apa yang dinanti-nantikan. Jalur sempit
dengan jurang di kiri dan kanannya. Kami berjalan
perlahan-lahan, yang satu menunggu yang lain, saling
memperhatikan dan mengawasi, hingga semua sudah
melewatinya. Beberapa jarak ke depan, kami dapati
kembali apa yang juga kami nanti-nantikan. Tanjakan
terjal berupa tebing hampir vertikal, dengan beberapa
bonus-bonus tanjakan serupa lain setelahnya.

Dengan keyakinan dan kepercayaanku bahwa laki-laki dan
perempuan adalah setara, serta penolakanku terhadap
dongeng-dongeng sesat surgawi yang merendahkan jenis
manusia yang satu dibanding yang lainnya, maka
satu-satunya kaum hawa di antara tujuh mahluk jahanam
ini berhasil melewati tanjakan-tanjakan tersebut tanpa
bantuan yang berarti dariku yang berada di depannya.
Tidak terlalu lama waktu yang kami butuhkan untuk
melewati tanjakan demi tanjakan nan sombong.

Tenaga cukup terkuras untuk melewati jalur-jalur
menuju puncak, beberapa kali kami sempat istirahat
untuk minum dan makan makanan kecil seperti biskuit,
coklat, dan gula jawa. Badan semakin lelah ketika ia
dipaksa untuk bergerak semakin jauh, tetapi angin
dingin yang berhembus dari sela-sela semak yang
terbuka memberikan hiburan dan dorongan untuk terus
maju dan maju.

Beberapa tanjakan yang tidak terlalu curam kami lewati
sebelum jalur menjadi semakin datar dan mulai tampak
semak-semak di antara pohon-pohon tinggi. Satu
kubangan lumpur terakhir kami lewati ketika kemudian
kami sampai di sebuah lapangan kecil, di mana tampak
sebongkah pondok kayu beratapkan seng di bagian kanan,
papan penanda Puncak Salak I di kiri, kubangan air di
antara keduanya, dan selembar makam berlapis keramik
putih agak ke bawah di balik pondok. Inilah Puncak
Salak I.

Segala persiapan mulai kami lakukan. Membangun tenda,
membuat penampungan air hujan (karena air di bak depan
pondok terasa agak berbau dan rasanya agak seperti
sabun karena ulah entah bajingan mana), satu orang
menyaring air, yang lain menguras isi kerier, ada yang
memunguti sampah, dan segala hal lainnya. Hasilnya
adalah dua tenda yang berdiri berdampingan, dengan dua
titik lampu minyak yang digantung di dua batang kayu
di samping depan masing-masing tenda, sepetak kecil
tempat yang dipersiapkan menjadi perapian, dan
manusia-manusia konyol yang tengah mempersiapkan
makanan besar pertama untuk hari itu.

Kacang panjang dan buncis yang bonyok-bonyok bahkan
sedikit membusuk kupisahkan dari yang masih segar. Dua
orang memasak nasi dan dua orang lainnya
memotong-motong kacang panjang menjadi pendek. Menu
yang disepakati oleh dewan diktator hari itu adalah
tumis kacang panjang yang ditingkahi dengan telur
goreng, juga diimbuhi dengan sosis goreng. Semua menu
yang tampak indah dan menarik itu pada akhirnya
tinggal menjadi mangsa bagi perut-perut tujuh ekor
binatang jalang yang tengah mengamuk.

Angin mulai bertiup-tiup kencang seperti babi hutan
yang tengah linglung sejak hari mulai redup dan lampu
minyak dinyalakan. Dingin menerpa pipi dan sekujur
badan. Secuil pemandangan matahari yang tengah
terbenam tampak terhalang pohon dan semak di kejauhan.
Langit barat menguning menyala terbakar matahari.

Sebagian mendekam di dalam tenda yang dipenuhi kentut
demi kentut bersahutan tanpa henti, sebagian lain di
tenda yang aman tenteram, aku dan kadang bersama satu
orang yang lain duduk di luar beralaskan ponco menjadi
penghubung antar kedua tenda konyol. Becandaan satu
demi satu mengalir dari mulut-mulut terkutuk di puncak
gunung Salak.

Beberapa orang dari kami menyempatkan diri untuk pergi
ke ujung jalan setapak di balik kubangan air, menatap
di mana biasanya kutemukan pemandangan lampu-lampu
kota Bogor dan Jakarta. Tetapi tidak ada apapun malam
ini, kecuali kabut tebal yang menggenangi lautan luas
hamparan peradaban di bawah sana. Sesekali angin
bertiup kencang menyapu kabut, namun segera
tergantikan dengan kabut lain yang sudah mengantri
sejak sebelumnya. Hanya sekilas-sekilas saja dapat
kutemukan sebersit pemandangan petir menyambar-nyambar
di bawah sana di sebelah kiri kota Bogor.

Dengan modal kayu-kayu kering yang siangnya sempat
dikumpulkan dan sedikit minyak tanah, ada perapian
kecil yang menyala malam itu. Api dengan cukup mudah
menyala dan terpelihara karena kami cukup beruntung
bisa mendapatkan serpih-serpih dan potongan-potongan
kayu sisa pekerjaan orang lain entah siapa. Tetapi
kemudian api mati karena penopang bagian bawahnya
ambruk. Aku yang sudah mulai lelah dan ingin tidur
saja kemudian menyiram bara yang tersisa, dan
meninggalkan sang (bekas) api sendirian di luar, masuk
ke dalam tenda, dan mulai menyelipkan diriku ke dalam
kantong tidur.

Misteri ilahi tidak henti-hentinya terjadi pada
kantong tidurku. Kakiku selalu saja kedinginan di
dalamnya. Mungkin karena aku selalu mengenakan celana
pendek sewaktu tidur di dalam kantong suci itu.
Sementara itu para penggila makan kembali mulai
grasak-grusuk, lagi-lagi memasak makanan untuk perut
mereka.

Angin yang berdesir-desir perlahan berubah menjadi
angin yang menderu-deru menerpa melabrak semak dan
pohon. Seciprat dua ciprat gerimis kadang turun
menerpa tenda. Semakin malam angin datang semakin
kencang. Suaranya membuatku sedikit khawatir akan
kemungkinan datangnya badai.

1 April 2006
Pagi datang sambil bermalas-malasan, langit tidak
terang benderang, dan angin masih saja menderu-deru.
Pagi hari itu sangat basah, hujan sesekali turun
membasuh bumi, dan hingga setengah perjalanan waktu
menuju tengah hari angin belum sudi untuk berhenti
melakukan parade-nya.

Perlahan manusia-manusia sontoloyo terbangun dari
mimpinya dan mulai berkeliaran. Aktivitas pagi
dilakukan, mengambil tampungan air hujan, kencing,
mengabadikan pemandangan langit pagi hari,
mempersiapkan panci-panci untuk makan. Tumis buncis
dan kacang panjang, telor kuah, baso-sosis goreng, dan
seonggok nasi hangat yang sempurna menjadi menu pagi
hari, dilengkapi dengan kripik kentang dan saos sambel
di tangan masing-masing.

Maka berputarlah panci nasi itu dari tangan orang yang
satu ke tangan orang yang lain yang tengah
mengelilingi panci-panci lain berisi lauk.
Perlahan-lahan nasi dan kawan-kawannya berpindah
tempat dari panci ke dalam perut kami.

Ketika putaran panci pertama belum selesai, datang
seseorang dari antara dua orang yang malam itu
mendirikan tendanya di dalam pondok. Mereka bertanya
tentang jalur Cimelati, dan mengajak kami turun
bersama. Hasilnya adalah, kami mendapatkan teman untuk
turun bersama-sama siang nanti.

Makan telah selesai, dan panci telah dicuci. Satu per
satu mulai berganti kostum dengan pakaian dan alas
kaki untuk jalan, segala rupa barang-barang mulai
dibereskan kembali ke dalam kerier. Sampah dibakar dan
tenda digulung kembali, terakhir adalah memeriksa
apakah ada barang atau sampah yang tertinggal. Tidak
ada, tampaknya semua telah dibereskan dan
sampah-sampah sudah dipindahkan menuju tempat
pembakaran sampah.

Yang cukup mengganjal adalah keadaan tempat
tenda-tenda lain berdiri di malam sebelumnya, di mana
beberapa orang dari organisasi entah apa bermalam di
sana dan (sepertinya) tengah melakukan pendidikan
untuk seorang (atau entah berapa orang) calon
anggotanya. Pagi hari itu setelah mereka dan segala
barang-barang mereka meninggalkan tempat itu,
tampaklah bagi kami bahwa di sana tertinggal sekeping
kulit telur, beberapa plastik bungkus luar dan bungkus
bumbu mie instant, dan beberapa macam sampah lain.
Menjadi ironi bahwa mereka, dengan segala embel-embel
"pecinta alam" atau apapun namanya, masih tega
meningggalkan sampah di tempat itu.

Setelah sekejap waktu untuk berdoa bagi yang ingin
berdoa, kami mulai berjalan turun lewat jalur
Cimelati, menyusul dua orang yang sebelumnya sudah
berjanji untuk turun bersama-sama. Banyak lumpur yang
kami dapatkan di awal perjalanan turun ini. Tetapi
perlahan-lahan lumpur menghilang dan berubah menjadi
tanah berbatu dan akar yang tidak terlalu merepotkan.

Di suatu tempat akhirnya kami bertemu dengan dua orang
yang dimaksud. Mereka tengah duduk santai mendengarkan
radio dan minum kopi. Setelah beristirahat sejenak,
kami turun bersama-sama. Beristirahat lagi di tempat
yang lain, dan kembali turun lagi hingga tiba-tiba
ciprat-ciprat air pertama turun diikuti ciprat-ciprat
air yang lain yang tanpa tanggung-tanggung
menghasilkan sebuah hujan.

Ketika hujan mulai turun, seseorang yang berjalan di
belakangku sempat berkata "mati deh." Yang bisa
kulakukan hanya meyakinkannya bahwa hujan di tengah
gunung tidak akan mematikan, yang mana sesungguhnya
lebih dari itu adalah, buatku pribadi kehujanan di
hutan adalah sesuatu yang sangat menyenangkan -
terlebih lagi jika hujan turun dengan deras tanpa
tanggung-tanggung.

Ketika kami sampai di jalur yang dilalui pipa air,
hujan masih belum berhenti. Kami sempat mengisi botol
air dan minum sepuas-puasnya di tempat itu sebelum
perjalanan dilanjutkan kembali. Hujan perlahan-lahan
berhenti ketika kami mulai memasukki jalur yang
membelah bekas perkebunan. Tanah keras yang baru
diguyur air hujan membuat jalur menjadi sangat licin,
bahkan sepatu larsku pun beberapa kali terperdayai
olehnya. Maka hasilnya adalah, dengan paduan antara
tanah keras yang licin dan sepatu yang mulai botak
serta kaki yang sudah mulai lelah, seseorang sempat
terpeleset belasan kali sepanjang perjalanan turun
kali itu.

Jalur kemudian membelah perkebunan, meniti puncak
punggungan di mana kami mendapatkan pemandangan
hamparan pohon-pohon pinus (atau cemara) di kejauhan,
gunung Gede dan Pangrango yang bertumpukan di sebelah
timur, dan puncak 1 gunung Salak yang baru kami turuni
di belakang. Terlalu indah hingga kami harus berhenti
berjalan dan menikmatinya sebentar.

Memasukki kembali sepetak hutan yang tersisa hingga
ujung jalan setapak akhirnya kami kembali kepada
peradaban modern manusia. Satu orang pergi menemani
sang perempuan untuk menumpang ganti pakaian di
banguan yang tampak tidak jauh di bawah sana,
sementara yang lainnya dalam tempo yang
sesingkat-singkatnya melepas kaos, sepatu, dan kaos
kaki, diikuti celana, kemudian celana dalam, dan
berganti dengan pakaian kering. Setelah semuanya telah
masuk kembali ke dalam tas, kami segera menyusul dua
orang teman yang telah berada di bawah.

Sedikit berjalan ke bawah, membelah lautan padang
ilalang di tepi perkebunan untuk berpindah ke jalan
yang lain, akhirnya kami bertemu dengan seseorang yang
bersedia untuk memanggilkan ojek di bawah sana.
Setelah melakukan negosiasi, dicapai kesepakatan
harga, dan kami satu per satu bertangkringan di atas
sepeda motor yang segera meluncur menuju pertigaan
Cimelati. Kami pun berpisah dengan dua orang teman
yang baru bertemu di puncak Salak dan turun
bersama-sama dengan jabat erat dari kami.

Jalan yang panjang dilalui sebelum kami tiba di
pertigaan, membayar ongkos, mengucap terimakasih, dan
mencari keputusan apakah hendak langsung ke Jakarta
atau hendak makan terlebih dahulu. Keputusan berpihak
kepada langsung pulang ke Jakarta, maka kutitip
request kepada "petugas pertigaan" untuk
memberhentikan bus jurusan Sukabumi-Kali Deres atau
Sukabumi-UKI yang lewat.

Sore hari itu kami duduk terpisah-pisah di dalam bus
yang melaju menuju UKI. Tidak ada kemacetan berarti
yang harus kami hadapi sehingga dengan cepat bus telah
tiba di Ciawi, selanjutnya ke Jakarta, dan sampai di
UKI. Dilanjutkan dengan bus jurusan Kali Deres, dua
orang teman turun di Palmerah, sementara aku dan yang
lain meneruskan hingga Grogol.

Setelah menaiki jembatan penyeberangan, sedikit
berjalan kaki, tibalah kami di kamar kosku untuk
menaruh barang-barang. Selanjutnya adalah makan
bersama.

***

Maka berakhir sudah perjalanan bersama ke puncak Salak
I. Senang dan gembira, karena sudah bersama-sama
mengunjungi kembali puncak I Salak, dan semuanya sudah
pulang dengan selamat.

Terimakasih untuk:
1. Teman-teman seperjalanan; seorang perempuan manis,
dan lima ekor laki-laki laknat.
2. Gunung Salak itu sendiri.
3. Segala pihak yang telah membantu dan mendukung.

setan

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://pendaki.blogsome.com/2006/04/11/puncak-salak-i-3/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Pendaki

Cintailah Alam ini agar lestari
Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Janis Joseph