Blog Milis #Pendaki Indonesia

"Persahabatan terjalin, persaudaraan terengkuh, bersama mengukir cinta kepada Alam"

April 11, 2006

MENGUAK MISTERI, MENGURAI SEJARAH PERADABAN GUNUNG TAMBORA

Filed under: Umum - Administrator @ 7:36 am

No. : Ist/PSGT/FMI/02/2006
Hal : Undangan  

MENGUAK MISTERI,  MENGURAI SEJARAH PERADABAN 
GUNUNG TAMBORA 

Letusan Gunung Tambora (Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Indonesia) pada April 1815, merupakan letusan modern gunung api paling dahsyat hingga saat ini, dan berdampak sangat besar dalam sejarah peradaban manusia di dunia.  Gunung tipe strato vulkanik yang semula memiliki ketinggian 4.200 meter (13.000 ft) diatas permukaan laut (mdpl), akibat letusan itu ketinggiannya menjadi 2.851 meter dpl (9.350 ft). Sisa letusan membentuk mangkuk kaldera yang sangat besar (terbesar di Indonesia). Diameter kawah mencapai 7 kilometer (4 mil), serta panjang keliling 16 kilometer, dengan kedalamannya sekitar 1.500 meter. Letusan itu mengakibatkan debu membumbung tinggi menutupi stratosfir dan memengaruhi cuaca di bumi secara global. Sinar matahari ke bumi terhambat oleh debu. Benua Eropa dan Amerika mengalami musim dingin yang berkepanjangan, menyebabkan kegagalan panen, kelaparan, dan korban secara keseluruhan mencapai ratusan ribu nyawa manusia meninggal. Kekalahan Napoleon Bonaparte di Rusia
 diduga juga akibat  letusan Tambora.
Hingga 1816 masyarakat dunia mengalami tahun tanpa musim panas ("The Year Without Summer").  
Dalam skala lokal, sejumlah empat dari enam kerajaan yang ada di Pulau Sumbawa lenyap. Hujan air hitam dan debu melanda Surabaya, Madura, Bali, Sulawesi, dan Maluku. Sedangkan suara letusannya terdengar hingga Jakarta. Saat ini letusan yang hampir mencapai usia 200 tahun itu tercatat dalam Guinness Book of Record dan terkenal dengan sebutan "The Great Volcanic Eruption in History". 

Memasuki dua abad dari letusan Gunung Tambora (1815 - 2015) merupakan momentum yang tepat untuk menggali, mengungkap dan memperkenalkan potensi Gunung Tambora, Pulau Sumbawa dan Provinsi Nusa Tenggara Barat pada khususnya, serta Indonesia sebagai negara yang memiliki gunung api terbanyak di dunia. 
April 2006 adalah tahun ke 191 dari letusan bersejarah Gunung Tambora. Jelang 2 abad peristiwa itu maka Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) memprakarsai kegiatan "Penggalian Potensi Kawasan Gunung Tambora". Langkah awal dalam mengimplementasikan hal ini adalah dengan menyelenggarakan seminar yang bersifat ilmiah dan komprehensif. 

Secara umum seminar bertujuan untuk memperkenalkan keunikan Gunung Tambora sebagai kawasan yang memiliki kekayaan sumber daya hayati, geologi, vulkanologi, arkeologi, kehutanan, budaya, dan ekowisata.
Secara khusus, seminar bertujuan untuk memperkenalkan Gunung Tambora secara lebih dekat kepada kalangan masyarakat dunia mountaineering untuk dieksplorasi. 

NAMA KEGIATAN:
Seminar Sehari
Menguak Misteri, Mengurai Sejarah Peradaban Gunung Tambora.
Jelang 2 Abad Peringatan Letusan Gunung Tambora. 

WAKTU DAN TEMPAT:
Seminar diselenggarakan pada,
Hari/Tanggal : Sabtu, 22 April 2006
Waktu: 09.00  - 17.00 WIB
Tempat: Ruang Seminar Widya Graha, 
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
Jl. Jenderal Gatot Subroto Kav 10  Jakarta Selatan. 

PENYELENGGARA:
Penyelenggara kegiatan adalah Federasi Mountaineering Indonesia (FMI), didukung oleh  Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan World Wildlife Fund (WWF). 

MATERI DAN PEMBICARA
a. Pembicara kunci
1. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata
2. Menteri Kehutanan
3. Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
4. Gubernur Nusa Tenggara Barat 

b. Panel 1, dengan tema: Menguak Potensi Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Hayati Gunung Tambora, dengan pembicara dari:
1. LIPI - Aspek Sumber Daya Hayati
2. ITB - Aspek Geologi/Vulkanologi
3. UI - Aspek Sosial-Budaya 

c. Panel 2, dengan tema: Mengurai Khazanah Alam dan Budaya Gunung Tambora Serta Peluang Pengembangannya, dengan pembicara dari:
1. Puslit Arkenas - Aspek Arkeologi
2. WWF - Aspek Kehutanan
3. Pendaki Gunung - Aspek Ekowisata 

PESERTA:
Peserta berasal dari kalangan; akademisi, peneliti, kalangan pariwisata, kehutanan, arkeologi, geologi, vulkanologi, peminat/penggiat kegiatan alam terbuka, pemerhati sosial dan budaya, dan kalangan umum. 

Biaya seminar:  Rp50.000/orang untuk kalangan mahasiswa, pecinta alam/pendaki gunung.
Rp100.000/orang untuk kalangan umum.
Peserta akan mendapatkan: bahan-bahan seminar (seminar kit), piagam, snack, makan. 

Pendaftaran peserta dapat menghubungi:  
Abas 0811889836, Connie 08161156818, Shima (021) 522 1687  
Fax: (021) 522 1687
E-mail: fmi_seminar_tambora@yahoo.co.id
Biaya dapat di transfer ke rekening:
a/n Dwi Bahari Astuti. No. 0060267138, BCA KCU Wisma GKBI
(tunjukkan bukti transfer saat datang menghadiri acara).

Pendaftaran sampai 10 April 2006, terbatas untuk 150 orang. 

Alamat Sekretariat Panitia:
Sasana Widya Sarwono LIPI, Lt. 5, atau 
Widya Graha LIPI, Lt. 3
Jl. Jenderal Gatot Subroto 10,  Jakarta Selatan 12720
Telp: (021) 522 1687   Fax: (021) 522 1687
E-mail: fmi_seminar_tambora@yahoo.co.id  

PANITIA SEMINAR
FEDERASI MOUNTAINEERING INDONESIA (FMI)
Didukung oleh: LIPI, Pemda NTB, WWF =======================================

pendaki dari masa ke masa

Filed under: Opini Kita - Administrator @ 7:31 am

satu hal menarik untuk dibahas :) hehehhehhe…dulu dijamanku, selalu ada carabiner tergantung di daypack…hahhahha bukti pencarian identitas diri..dan pertanyaannya, apakah pencarian identitas itu selesai? NOT YET!!! aku akan terus berusaha untuk mencari siapa aku sesungguhnya, hingga ketika aku bertemu dengan mati, sebagai jawaban dari pencarian yang selama ini kulakoni. tapi aku tidak mau mati sia-sia! aku mau mati dalam pelukan tuhan, dan belaian malaikat pencabut nyawa!
  
  selain caribiner (entah itu screw atau competition) masih banyak pernak pernik yang ku pake untuk jadi aksesoris, pembuktian eksistensi dan bukti jati diri. Bahkan aku yakin  sampai sekarang, DAYPACK/BACKPACK/RANSEL atau apalah itu namanya, masih tetap ada kemanapun aku pergi, bahkan ke toilet sekalipun, kecuali aku sedang berada di RUMAH. dan aku yakin hingga sekarang masih banyak yang memanggul daypack, walaupun gak ada isinya.
  
  satu hal yang paling aku inget, pertama kali aku punya sepatu, dompet, tas sekolah, sampai sendal dan kaos dan topi, bahkan celana STM ku merknya ALPINA. hehehhehhe….saat itu alpina menjadi simbol remaja di sekitarku. padahal ketika itu, dikampungku, sebenarnya belum terlalu familiar dengan barang begituan. satu merk lagi yang menjadi icon pada saat itu dan menjadi pesaing dari alpina cuma EIGER dan bertahan hingga kini hingga memiliki counter hampir ditiap daerah di indonesia. hebat tuh managementnya :)
  
  ah…mengenang masa lalu yang tak mungkin kembali, kadang hanya membuat hati iri, haru, dan sendu :) tapi kenanganku akan menjadi kenangan yang paling indah di muka planet ini, setidaknya untukku. huuuuuuuuu…basi!!!

INDRA QONYEK <jackraung@yahoo.com> 

SAVE THE F****G RIVER OF CILIWUNG

Filed under: Opini Kita - Administrator @ 7:29 am

ciliwung ?
  mmm….neeh gw punya dikit tulisan mengenai ciliwung..Dulu pernah investigasi juga ke sini…
  sayangnya gak bisa attach foto
  padahal ada beberapa yang sempet di jepret,,,,gak pa-pa deh baca dikit aja yah
  
  salam ciliwung
  
  SAVE THE F****G RIVER OF CILIWUNG
              Menelusuri sebagian dari sungai Ciliwung, ternyata memang menyenangkan. Perbandingan sangat kontras dapat tertangkap mata hanya dalam hitungan beberapa meter. Sisi lain kehidupan bantaran kali Ciliwung, yang menampakkan pesona sebuah penjelmaan masa lalu yang masih ada hingga sekarang. Riuhnya anak-anak kecil mandi pada sisi-sisinya, bergelayutan pada sebuah akar pohon yang menjuntai ke air, kemudian menceburkan diri kedalamnya, atau giatnya sang ibu mencuci baju dan keperluan keluarga lainnya, serta seorang bapak yang berwudhu di sana. Lalu, bagaimana sebenarnya wajah Ciliwung disana? Kami, menelusuri sebagian dari sisi lain kehidupan  bantaran sungai yang konon menjadi momok paling menakutkan kala musim penghujan datang oleh masyarakat Jakarta.
  
              Sungai Ciliwung merupakan salah satu sungai yang mengalir melintasi batas kota/ propinsi dan memiliki fungsi penting bagi masyarakat sekitar yaitu sebagai sumber air baku, penggelontoran, jalur transportasi, dan sebagainya. Namun demikian, sejalan dengan pertumbuhan kota yang terjadi, kondisi Sungai Ciliwung dan lingkungan sekitarnya semakin hari semakin memburuk. Banyaknya penduduk yang tinggal di pinggiran sungai menjadi permasalahan sungai Ciliwung menjadi semakin kompleks. Selain menimbulkan kekumuhan, perlakuan penduduk kepada Sungai Ciliwung juga kurang bertanggung jawab, karena anggapan Sungai Ciliwung sebagai bagian belakang rumah mereka.

Sungai Ciliwung merupakan bagian dari Satuan Wilayah Sungai (SWS) Ciliwung - Cisadane. Sebagai bagian dari SWS Ciliwung - Cisadane, Sungai Ciliwung mempunyai daerah tangkapan + 337 Km2 mengalir sepanjang 117 km bermata air di Gunung Pangrango (3.019 m) yang terletak di sebelah selatan Kota Bogor dan bermuara di Laut Jawa. Sungai Ciliwung mengairi sekitar 3.853 ha sawah dari Bendung Katulampa.

Daerah hulu Sungai Ciliwung yang berfungsi sebagai kawasan resapan air dan melindungi daerah di bawahnya sangat sensitif terhadap perubahan debit aliran sungai yang pada gilirannya memberikan implikasi terhadap resiko serius terhadap ker usakan lingkungan. Kawasan resapan air merupakan kawasan yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (akuifer) yang bermanfaat sebagai sumber air. Kawasan resapan air berarti dalam daerah terbuka, dimana air yang datang dari atas atau air hujan dapat leluasa tergenang dan meresap ke dalam tanah untuk mengisi rongga-rongga air dalam tanah. Kawasan resapan air sangat perlu dilindungi karena hal ini merupakan tindakan preventif dari suatu tindakan pelestarian sumber daya air tanah dan penanggulangan banjir.

Kriteria umum penetapan kawasan resapan adalah mempunyai curah hujan tinggi, struktur tanah yang mudah meresapkan air dan bentuk geomorfologi yang mampu meresapkan air dan bentuk geomorfologi yang mampu meresapkan air hujan secara besar-besaran.
Berdasarkan Rakeppres tentang Penantaan Ruang Kawasan Jabodetabek-Punjur (2003) menyebutkan pola pemanfaatan ruang DAS Ciliwung ditetapkan sebagai salah satu Kawasan Prioritas dengan fungsi utamanya adalah kawasan resapan air.
Beberapa permasalahan utama yang harus dimitigasi oleh berbagai kebijakan terkait dalam pengelolaan Sungai Ciliwung seperti RTRW DKI Jakarta, Jawa Barat, RTRW Kabupaten/Kota serta peraturan terkait lainnya akan diuraikan lebih rinci mulai dari daerah hulu - tengah - hilir. Pada bagian selanjutnya identifikasi permasalahan daerah hulu dan tengah dikelompokkan menjadi satu bagian mengingat memiliki keterkaitan yang kuat, dan bagian hilir secara khusus.
  
  Masih ada kehidupan lain di Ciliwung
              Nampaknya, gambaran sungai Ciliwung, akan jauh berbeda jika kita lihat dari sebelah kota Depok. Jika di Jakarta ia merupakan momok yang sangat menggemparkan, bahkan konon sang empunya Jakarta saat ini alias Bang Yos memusuhi habis-habisan Ciliwung, karena kerap kali menimbulkan masalah yang seruis. Masih Ingat banjir yang hampir menenggelamkan separuh Jakarta, pada beberapa tahun lalu, atau yang masih hangat dari ingatan kita pada Januari 2005, yang lalu? Belum lagi efek yang di timbulkan sesudahnya seperti penyakit dan lainnya.
              Tapi disini, suasana bersahabat bisa kita temui. Rimbunan poho-pohon perdu pada kedua sisinya, menyajika pemandangan indah yang menyejukkan mata. Apalagi, jika kita berjalan pada jembatan gantung setinggi hampir sepuluh meter, wih..serasa kita melayang pada pucuk-pucuk bamboo yang rimbun. Memandang dengan leluasa riak-riak air Ciliwung yang memang sedang bersahabat.  Ada alunan musik dari sebuah rumah dengan sound cukup keras, dan ruihnya anak-anak mandi dan mencemplungkan diri kesungai tanpa takut terbawa arus air. Sungai yang mendangkal pada musim ini, memang nampaknya tidak terlalu berbahaya, meski hal terburuk seperti banjir banding bisa saja terjadi. "Dulu kalau banjir, bisa setinggi itu, " ucap seorang anak sambil menunjuk sebuah jembatan berketinggian sekitar 10 meter. "Malah pernah sampe masuk rumah, semuanya banjir," tambahnya.
              Menuruk keterangannya pula, saya mendapat informasi, bahwa mereka memang setiap hari mandi di sungai ini.  Tidak menghiraukan bahaya hanyut, atau terbentur batuan. Tawa canda mereka membahana menghisai setiap lompatan keair. Laki-laki dan perempuan, semuanya berbaur. "Soalnya, dirumah nggak ada kamar mandi, jadi lebih baik mandi disini," ujarnya polos. Pada saat itu, seorang ibupun tengah asik mencuci baju dan pakaian keluarga serta beberapa peralatan dapur. Serta pada sisi yang lain seorang lelaki tangah berwudhu, karena memang saati itu adzan ashar sudah berkumandang.
              Kehidupan sepanjang bantaran ciliwung, memang sangat menarik di korek. Jika sekarang kita masih membuang sampah dan libah kesungai, nampaknya, hal tersebut harus segera di hentikan. Sebab, pada sisi yang lain, kehidupan mereka sangat bergantung dari kearifan kita.
              Menjelang sore, kami pulang dengan sejuta cerita dan "PR" yang masih tersisa di kepala. Kelak, apa yang bisa kami lakukan dengan keindahan Ciliwung.
  
  Boim Akar
  Juli 2005
  

http://www.anakabah.blogspot.com/

buku Panduan Mendaki Gunung di Jawa

Filed under: Sekilas Info - Administrator @ 7:27 am

Rekan-rekan

yang berminat dan telah memesan buku Panduan Mendaki Gunung di Jawa ed.
2003 - dilengkapi peta topo grafi, sketsa jalur, daftar jarak tarif - mohon
maaf saya tidak selalu sempat ke Pasfes untuk ketemu teman2… jum’at malam,
karena kesibukan saya banyak di Bekasi dsk sampai Purwakarta - Cianjur.

Saya sedang kontak dengan toko Buku NewsStand di Pasar Festifal untuk mau
menjual buku tersebut. Dan saya mesti mengirim quotation resmi
kesana…(belum sempat, setelah itu masih proses interen mereka)

Sementara kalau berminat bisa ke Toko Outdoor AVTECH di Sunter Podomoro atau
Rumah Panjat jalan Saharjo.

Buku tersebut juga segera tersedia di Markas Skrekanex / Merbabu.Com Jl.
Raya Depok, Gg. H. Sibi Rt.02/Rw02 Bo:2 Kampung Sawah, Srengseng
Sawah,Jagakarsa, Jakarta Selatan 12640. (atas kerjasama dengan ingkang
sinuhun Mr. Steve (steve@merbabu.com 0817 981 5755)

Mohon maklum..

Thank’s lot

==========

Message: 16
   Date: Wed, 08 Feb 2006 11:21:34 -0000
   From: "skrekanex" <steve@merbabu.com>
Subject: Base Camp Baru

Dear All,
Sekretariat Merbabu.Com dan Skrekanex rencananya akan pindah ke Jalan
Raya Depok. Kalau tadinya harus sedikit masuk gang, sekarang dapat
dilihat langsung dari jalan raya ke Depok.
Fasilitas yang ada berupa cafe sederhana mulai dari menu murah hingga
yang bakar-bakaran. Kami juga akan menjual buku-buku, majalah, stiker,
kaos dan jaket Merbabu.Com kedepannya kami akan membuka toko peralatan
outdoor lengkap, perpustakaan, dan warnet.
Harapan saya rekan-rekan yang mau nongkrong ketemu sesama anak-anak
gunung bisa ada tempat gaul 24 jam. Doakan ya semoga semua berjalan
sesuai rencana.

Salam nekad

Steve

Budi Yakin/0818 790063

Gerakan AntiGlobalisasi untuk menghadang neoliberalisme dan perusakan lingkungan

Filed under: Opini Kita - Administrator @ 7:26 am

By agli@gramedia-majalah.com

Gerakan AntiGlobalisasi untuk menghadang neoliberalisme dan perusakan
lingkungan dan Privatisasi Air di Indonesia.

Anti-Globalisasi adalah suatu istilah yang umum digunakan untuk
memaparkan sikap politis orang-orang dan kelompok yang menentang
perjanjian dagang global dan lembaga-lembaga yang mengatur perdagangan
antar negara seperti Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

"Anti-Globalisasi" dianggap oleh sebagian orang sebagai gerakan
sosial, sementara yang lainnya menganggapnya sebagai istilah umum yang
mencakup sejumlah gerakan sosial yang berbeda-beda. Apapun juga
maksudnya, para peserta dipersatukan dalam perlawanan terhadap ekonomi
dan sistem perdagangan global saat ini, yang menurut mereka mengikis
lingkungan hidup, hak-hak buruh, kedaulatan nasional, dunia ketiga,
dan banyak lagi penyebab-penyebab lainnya.

Namun, orang-orang yang dicap "anti-globalisasi" sering menolak
istilah itu, dan mereka lebih suka menyebut diri mereka sebagai
Gerakan Keadilan Global, Gerakan dari Semua Gerakan atau sejumlah
istilah lainnya.

Anti-Globalisasi sebagai Anti-Neoliberalisme

Banyak pihak melihat gerakan ini sebagai tanggapan kritis terhadap
pengembangan neoliberalisme, yang secara luas dianggap telah dimulai
oleh kebijakan Margaret Thatcher dan Ronald Reagan menuju kapitalisme
laissez faire pada tingkat global dengan mengembangkan privatisasi
ekonomi negara-negara dan melemahkan peraturan perdagangan dan bisnis.
Para penganjur neoliberal berpendapat bahwa peningkatan perdagangan
bebas dan pengurangan sektor publik akan membawa manfaat bagi
negara-negara miskin dan kepada orang-orang yang miskin di
negara-negara kaya. Kebanyakan pendukung anti-globalisasi sangat tidak
sependapat, dan menambahkan bahwa kebijakan neoliberal dapat
menyebabkan hilangnya kedaulatan lembaga-lembaga demokratis.

Neoliberalisme yang juga dikenal sebagai paham ekonomi neoliberal
mengacu pada filosofi ekonomi-politik yang mengurangi atau menolak
campur tangan pemerintah dalam ekonomi domestik. Paham ini memfokuskan
pada metide pasar bebas, pembatasan yang sedikit perilaku bisnis , and
hak-hak milik pribadi. Dalam kebijakan luar negeri, neoliberalisme
erat kaitannya dengan pembukaan pasar luar negeri melalui cara-cara
politis, menggunaka tekanan ekonomi, diplomasi, dan/atau intervensi
militer. Pembukaan pasar merujuk pada perdagangan bebas.

Neoliberalisme secara umum berkaitan dengan tekanan politis
multilateral, melalui berbagai kartel pengelolaan perdagangan seperti
WTO dan Bank Dunia. Ini mengakibatkan berkurangnya wewenang
pemerintahan sampai titik minimum. Neoliberalisme melalui ekonomi
pasar bebas berhasil menekan intervensi pemerintah (seperti paham
Keynesianisme), and melangkah sukses dalam pertumbuhan ekonomi
keseluruhan. Untuk meningkatkan efisiensi korporasi, neoliberalisme
berusaha keras untuk menolak atau mengurangi kebijakan buruh seperti
upah minimun, dan hak-hak daya tawar kolektif.

Neoliberalisme bertolakbelakang dengan sosialisme, proteksionisme, dan
environmentalisme. Secara domestik, ini tidak langsung berlawanan
secara prinsip dengan poteksionisme, tetapi terkadang menggunakan ini
sebagai alat tawar untuk membujuk negara lain untuk membuka pasarnya.
Neoliberalisme sering menjadi rintangan bagi perdagangan adil dan
gerakan lainnya yang mendukung hak-hak buruh dan keadilan sosial
seharusnya menjadi prioritas terbesar dalam hubungan internasional dan
ekonomi.

di Indonesia

Di Indonesia, walaupun sebenarnya pelaksanaan agenda-agenda ekonomi
neoliberal telah dimulai sejak pertengahan 1980-an, antara lain
melalui paket kebijakan deregulasi dan debirokratisasi, pelaksanaannya
secara massif menemukan momentumnya setelah Indonesia dilanda krisis
moneter pada pertengahan 1997.

Menyusul kemerosotan nilai rupiah, Pemerintah Indonesia kemudian
secara resmi mengundang IMF untuk memulihkan perekonomian Indonesia.
Sebagai syarat untuk mencairkan dana talangan yang disediakan IMF,
pemerintah Indonesia wajib melaksanakan paket kebijakan Konsensus
Washington melalui penanda-tanganan Letter Of Intent (LOI), yang salah
satu butir kesepakatannya adalah penghapusan subsidi untuk bahan bakar
minyak, yang sekaligus memberi peluang masuknya perusahaan
multinasional seperti Shell. Begitu juga dengan kebijakan privatisasi
beberapa BUMN, diantaranya Indosat, Telkom, BNI, PT. Tambang Timah dan
Aneka Tambang.

Kritik terhadap neoliberalisme terutama sekali berkaitan dengan
negara-negara berkembang yang aset-asetnya telah dimiliki oleh pihak
asing dan yang and yang institusi ekonomi dan politiknya belum
terbangun yang telah dikuras sebagai akibat tidak terlindungi dari
arus deras perdagangan dan modal. Bahkan dalam gerakan neoliberal
sendiri terdapat kritik terhadap berapa banyak negara maju telah
menuntut negara lain untuk meliberalisasi pasar mereka bagi
barang-barang hasil industri mereka, sementara mereka sendiri
melakukan proteksi terhadap pasar pertanian domestik mereka.

Pendukung antiglobalisasi adalah pihak yang paling lantang menentang
neoliberalisme, terutama sekali dalam implementasi "pembebasan arus
modal" tetapi tidak ada pembebasan arus tenaga kerja. Salah satu
pendapat mereka, kebijakan neoliberal hanya mendorong sebuah
"perlombaan menuju dasar" dalam arus modal menuju titik terendah untuk
standar lingkungan dan buruh.

daftar pustaka:

    * Scott Wallsten and Katrina Kosec. "Public or Private Drinking
Water? The Effects of Ownership and Benchmark Competition on U.S.
Water System Regulatory Compliance and Household Water Expenditures",
Brookings Institution Working Paper 05-05.

    * A. Estache, S. Perelman, L. Trujillo (2005), "Infrastructure
performance and reform in developing and transition economies:
evidence from a survey of productivity measures", World Bank Policy
Research Working Paper 3514, February 2005.

    * Clare Joy and Peter Hardstaff (2005), "Dirty aid, dirty water:
The UK Government’s push to privatise water and sanitation in poor
countries", World Development Movement, February 2005

    * Belén Balanyá, Brid Brennan, Olivier Hoedeman, Satoko Kishimoto
and Philipp Terhorst (eds), Reclaiming Public Water: Achievements,
Struggles and Visions from Around the World, Transnational Institute
and Corporate Europe Observatory, January 2005. ISBN 90-71007-10-3.

    * Greenhill, Romilly, and Wekiya, Irene (2004), Turning off the
taps: donor conditionality and water privatisation in Dar es Salaam,
Tanzania, London, UK, ActionAid.

    * David Hall and Robin de la Motte, Dogmatic Development:
Privatisation and conditionalities in six countries, War on Want.
    * Emanuele Lobina and David Hall, Problems with private water
concessions: a review of experience, PSIRU, University of Greenwich
    * Steven Renzetti and Diane Dupont (2003), "Ownership and
Performance of Water Utilities", Greener Management International 42,
Summer 2003

Hari Air Sedunia 2006 “Air dan Kebudayaan”

Filed under: Opini Kita - Administrator @ 7:24 am

Hari Air Sedunia 2006 "Air dan Kebudayaan"

Hari tepatnya tanggal 22 Maret 2006 diperingati sebagai hari air sedunia dan tema yang diambil tahun ini "Air dan Kebudayaan". Tanggal 22 Maret sejak dicetuskan sebagai hari air sedunia tidak lepas dari penyelenggaraan KTT Bumi di Rio de Janero, 1992. Yang kemudia ditetap oleh PBB melalui resolusinya yang sekaligus menetapkan tanggal 22 Maret sebagai hari air sedunia terhitung sejak tahun 1993. Dan sejak ditetapkannya hingga saat ini setiap tahunnya mengusung tema2 yang berbeda-beda namun tetap berkesinambungan.
 
  Hari Air Sedunia (World Water Day) diperingati setiap 22 Maret. Peringatan ini sebagai wahana untuk memperbarui tekad kita untuk melaksanakan Agenda 21 yang dicetuskan pada tahun 1992 dalam United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) yang diselenggarakan di Rio de Janeiro, atau secara populer disebut sebagai Earth Summit (KTT Bumi).
 
  Pada Sidang Umum PBB ke 47 tanggal 22 Desember 1992 melalui Resolusi Nomor 147/1993, usulan Agenda 21 diterima dan sekaligus ditetapkan pelaksanaan Hari Air Dunia pada setiap tanggal 22 Maret mulai tahun 1993 di setiap anggota PBB. Tema-tema yang dipilih tiap tahun sejak tahun 1994 meliputi Peduli Akan Sumber daya Air adalah Urusan Setiap Orang (1994), Wanita dan Air (1995), Air untuk Kota-kota yang Haus (1996), Air Dunia Cukupkah? (1997), Air Tanah-Sumber Daya yang tak Kelihatan (1998), Setiap Orang Tinggal di Bagian Hilir (1999), Air untuk Abad 21 (2000), Air untuk Kesehatan (2001), Air untuk Pembangunan (2002), Air untuk Masa Depan (2003), dan Air dan Bencana (2004), "WATER FOR LIFE" atau air untuk kehidupan. Itulah tema peringatan Hari Air Sedunia (HAS) 2005.
 
  Sesuai dengan temanya tahun ini "air dan kebudayaan". Tentu kita menyadari betapa air memang sudah menjadi sumber kehidupan dan budaya masyarakat dunia. Berbagai upacara kebudayaan termasuk yang bermuatan religius menggunakan air. Bahkan di beberapa negara sungai menjadi tempat yang disucikan seperti, air sungai gangga. Air bisa dikatakan harta karun yang sangat bernilai harganya dibanding harta apapun di dunia karena seluruh makhluk hidup sangat memerlukannya.
 
  Menurut Lembaga Ilmu Pengatahuan Indonesia (LIPI), Indonesia memiliki 6% potensi air dunia atau 21% potensi air di Asia Pasifik. Namun dari waktu ke waktu Indonesia mengalami krisis air bersih, baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya.
 
  Berikut berita tentang hari air sedunia yang saya kutip dari harian pikitan rakyat pada peringatan hari air sedunia tahun 2005.
 
  "SEPERTI juga yang berlaku bagi banyak suku bangsa di dunia, air bagi masyarakat Sunda memiliki kedekatan tersendiri. Air tidak dipandang sebatas fungsi dan kegunaan. Tetapi air dalam filosofi kesundaan menurut sejarawan Dr. Nina Lubis adalah kristalisasi nilai-nilai yang pesan dan amanatnya akan selalu aktual sepanjang masa.
 
  "Seperti yang dapat disimak pada peribahasa-peribahasa yang berbunyi, ka cai jadi saleuwi ka darat jadi salebak. Caina herang beunang laukna, Pindah cai pindah tampian, dan masih banyak lagi," kata Nina.
 
  Dalam peribahasa itu tercermin kearifan lokal (local wisdom) bagaimana urang Sunda yang merupakan bagian dari masyarakat dunia, merasa begitu dekat dan bergantung pada air. "Bahkan dalam penyebutan lemah cai, air menjadi semacam pengikat. Jika di Belanda dikenal vaderland, maka di Sunda dikenal sebutan lemah cai (tanah air)."
 
  Dalam kehidupan keseharian, air bagi orang Sunda juga dikenal sebagai tempat-tempat yang disakralkan. Sebutan sirah cai mengisyaratkan sebuah tempat yang angker. Bila dilihat sepintas, penamaan tersebut terkesan berbau animisme. Padahal justru di balik penamaan itu tersimpan pesan-pesan lingkungan agar tempat tersebut tetap terjaga kelestariannya.
 
  Kedekatan lain masyarakat Sunda dengan air, dapat dilihat dalam penamaan tempat secara legendaris. Seperti penamaan suatu daerah/wilayah yang mengacu pada nama sungai. Bukan sebaliknya, penamaan sungai berdasarkan tempat. Seperti dalam penamaan Kota Cimahi. Disebut Cimahi karena dulunya di kawasan tersebut terdapat sungai (ci dari cai) Cimahi. Berbeda dengan yang berlaku di Jawa, meski esensinya sama penamaan digunakan kali seperti Kali Opak, dst.
 
  Begitu juga dalam aspek politis masyarakat Sunda. Air sering dipergunakan sebagai batas wilayah administratif. Bahkan kebiasaan ini menurut Nina Lubis, diadopsi pula oleh Belanda seperti pada Perjanjian No.05. Dalam perjanjian yang berisi penyerahan wilayah Priangan dari Mataram ke VOC itu disebutkan, bahwa wilayah yang diserahkan dibatasi Citanduy di bagian barat dan Cimanuk di timur sampai ke selatan dibatasi Cidonan.
 
  Bukan itu saja, kedekatan orang Sunda dengan air juga tampak letak-letak ibu kota kerajaan yang berlokasi selalu berada di tepi sungai. Di mana air bukan saja menjadi sumber kehidupan tetapi juga menjadi sumber transformasi yang membawa perubahan bagi kerajaan tersebut.
 
  **
 
  SAYANGNYA, kearifan lokal yang terbukti menjadi pengikat harmoni antara alam dan lingkungannya, kini hanya sebatas manuskrip masa lalu yang tidak pernah menjadi uswah atau refleksi masa kini. Cara pandang pengelolaan lingkungan yang terjebak pada "antroposentrisme" yang sekadar memandang manusia sebagai pusat dunia, terbukti telah mendegradasi kualitas lingkungan pada titik nadirnya. Termasuk air.
 
  Anggota Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) Ir. S. Sobirin menguraikan data yang semakin membuat kita prihatin tentang kondisi air di provinsi ini. "Neraca air memang telah hancur. Sebagai contoh, Provinsi Jawa Barat sebetulnya memiliki potensi air sampai 80 miliar m3/tahun. Namun, kenyataannya yang dapat dimanfaatkan hanya 8 miliar m3/tahun. Padahal, kebutuhan air masyarakat Jabar adalah 17 miliar m3/tahun," urai Sobirin.
 
  Berarti, setiap tahun potensi air Jabar terbuang percuma (run off) sebanyak 70 miliar m3! "Potensi air sebesar 81 miliar meter kubik itu pada musim hujan tidak tertahan dan tersimpan di hutan dan kawasan hutan. Penyebabnya tak lain karena kawasan hutan di Jabar mengalami degradasi parah, sehingga tidak mampu lagi menahan limpasan air. Dampak nyata lainnya adalah banjir di musim penghujan dan sebaliknya kering kerontang kekurangan air ketika kemarau," paparnya.
 
  Sobirin mengungkapkan erosi kolosal sebagai dampak gundulnya hutan juga telah mencapai 33 juta ton per tahun. "Angka tersebut setara dengan 1 juta truk tronton berkapasitas 30 ton. Erosi mengangkut lapisan tanah subur di gunung-gunung, di hulu lalu terbawa ke daratan rendah hingga ke laut. Akibatnya potensi sumber daya laut pun terancam karena pelumpuran," jelas Sobirin.
 
  Bagaimana kondisi pada musim kemarau? Pada musim ini potensi air yang bisa dinikmati masyarakat Jabar hanya sisa 8 miliar meter kubik (10 persen). Penyebabnya, cadangan dan simpanan air tidak ada lagi, sehingga terjadi defisit kebutuhan air.
 
  Ironisnya di tengah gejala alam yang semakin tidak bersahabat bagi manusia penghuninya itu, praktik-praktik perusakan alam atas nama keuntungan material tetap saja dilakukan. Kawasan Bandung Utara (KBU) yang sejatinya telah ditetapkan sebagai wilayah konservasi, misalnya, selalu saja menimbulkan kontroversi karena lemahnya konsistensi penegakan aturan. Seribu kilah bisa dikedepankan hanya demi kuasa modal.
 
  Akankah semua praktik perusakan alam itu terus dilakukan, hingga alam menebarkan "azab"-nya sendiri? Semoga, momen Hari Air Sedunia tidak sekadar berlalu sebatas seremoni belaka. Kuasa modal sungguh tidak sebanding dengan risiko kerusakan dan bencana alam yang kian hari kian menggayuti pelupuk mata."
 
  Mudah2-an kita para penggiat alam bisa lebih menyadari akan arti pentingnya air. Dan bisa menggunakannya seefisiesn dan seekonomis mungkin dan juga turut serta menjaga kelestarian sumbernya terutama gunung-gunung sebagai menara air alami yang perlua dijaga. Semoga
 
  Salam,
 
  Harley

Dunia berputar dengan cepat

Filed under: Opini Kita - Administrator @ 7:11 am

Dunia berputar dengan cepat…… secepat kita mengedipkan
mata…….secepat kita membalikkan telapak tangan…..
 
Wanderlei Luxemburgo palatih cerdas, ahli strategi, sangat disanjung
pada awal kedatangannya ke Real madrid……tak disangka-sangka enam
bulan kemudian dipecat dengan caci maki….. pulang ke Brasil hanya
membawa satu tas….baju kotor…. karena tak mampu bayar binatu di
Madrid……
 
Titus…… Pangeran Romawi yang gagah berani, thn. 70 masehi dia
hancurkan kebudayaan yahudi…. enam bulan kemudian mati oleh sipilis
karena seleranya tak hanya pada wanita??……
 
John Barxton…… Akhirnya mengemis pada Bill Gates mohon pekerjaan
bagi anaknya……. Bill Gates orang yang dia pecat enam tahun lalu
dari perusahaannya saat Bill Gates tak sengaja menyenggol dengan
tongkat mobil dinasnya (Bill Gates saat itu memakai tongkat untuk
berjalan) …..
 
Marie Goretti kepala biara karmel prancis merasa tak percaya kalau
Claudia Suzzane diminta untuk memimpin Ordo Biarawati tersebut di
seluruh dunia termasuk Prancis…… Claudia Suzzane enam tahun lalu
adalah biarawati muda yang dia rekomendasikan untuk di"buang" ke
Mesir dan melewati hidupnya di biara gurun pasir dengan iklim yang
keras karena bertentangan dengan dirinya….. Marie Goretti, tadi
pagi dalam Misa Pelantikan Claudia, mencium tangan Claudia sebagai
tanda hormat pada pimpinan tertinggi Ordo tersebut…. Claudia masih
tetap tersenyum dengan murah hati seperti saat dia meninggalkan
Prancis dan meminta Marie Goretti untuk tidak mencium tangannya…..
Marie Gorretti hanya bisa menitikkan airmata haru..
 
Willy sangat berterimakasih pada Sarno, pagi tadi Sarno menyelamatkan
nyawa anaknya Caecil dengan membawanya ke Rumah Sakit Mitra Keluarga
Bekasi, anaknya ditabrak lari sepeda motor saat akan menyebrang dekat
TK tempatnya bersekolah, saat itu Sarno kebetulan melintas dan segera
menolongnya, jika terlambat saja, maka Caecil akan lumpuh dan
kehilangan daya ingatnya, atau bahkan meninggal…… Sarno, mantan
Office Boy di Kantor Willy, saat itu sebagai Kepala Bagian Umum Willy
meminta Sarno "keluar dengan Hormat" karena Sarno menjalin kasih
dengan Ully resepsionis pada kantor tersebut dan berencana menikah,
akhirnya Sarno dan Ully memutuskan untuk keluar dan membangun usaha
kecil-kecilan…. "No, apa yang bisa saya bantu untuk membalas
jasamu? engkau sudah bekerja? dimana? bagaimana kabar Ully?’ demikian
Willy mencecar Sarno dengan pertanyaan….. Sarno hanya tersenyum dan
menitikkan airmata, ia tidak ingin menyakiti hati Willy…… Saat
ini, atas nama almahumah Ully yang meninggal saat melahirkan, Sarno
dan kedua anak kembarnya yang masih kecil adalah pemegang 93.5% saham
perusahaan tempat Willy bekerja dan beberapa grup perusahaan karena
usaha kerasnya….. dan dia tetap tersenyum seperti saat ia
berpamitan dengan Willy enam tahun lalu………..
 
Manusia bisa berkehendak dan bertindak, tapi Tuhan punya rencanaNYA
 
Enam tahun? Enam bulan? Enam pekan? Enam hari? Enam Jam? Enam menit?
Enam detik? ……….. secepat apakah DIA akan membalikkan anda jika
anda tak tahu diri?
 
"Semoga kita termasuk orang - orang yang bersyukur atas nikmat yang
diberikanNya….." 
 
By melly Gempita

Kampanye Menolak Privatisasi dan Komersialisasi Sumberdaya Air

Filed under: Opini Kita - Administrator @ 7:09 am

Kampanye Menolak Privatisasi dan Komersialisasi Sumberdaya Air

Hak terhadap air yang setara merupakan hak  asasi setiap manusia. UUD
1945 pasal 33 ayat 2 menjamin hak dasar tersebut.  Pasal 33 ayat 2
tersebut menyatakan, "Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung
didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat ". Kalimat tersebut mengandung
makna tanggung jawab negara untuk menjamin dan menyelengarakan
penyediaan air yang menjangkau setiap individu warga negara.   Pada
tingkat internasional, hak atas air yang setara juga diteguhkan dalam
Ecosoc Declaration (Deklarasi Ekonomi, Sosial, dan Budaya) PBB pada
bulan November 2002.

Namun, hingga kini, hak atas air bagi setiap individu terancam dengan
adanya agenda privatisasi dan komersialisasi air di Indonesia.  Agenda
ini didorong oleh lembaga keuangan (World Bank, ADB, dan IMF) di
sejumlah negara sebagai persyaratan pinjaman. Ini merupakan bagian
dari kepentingan kapitalis global sektor air untuk menguasai
sumber-sumber air dan badan penyedia air bersih (PDAM) milik
pemerintah.  Undang-undang Sumberdaya Air yang baru ini merupakan
bagian dari persyaratan pencairan pinjaman program WATSAL dari World Bank.

Pada tanggal 19 Februari 2004, DPR telah mengesahkan UU Sumberdaya Air
yang baru.  Dalam Undang-undang yang baru ini beberapa pasal
memberikan peluang privatisasi sektor penyediaan air minum, dan
penguasaan sumber-sumber air (air tanah, air permukaan, dan sebagian
badan sungai) oleh badan usaha dan individu.

Melalui privatisasi ini, maka jaminan pelayanan hak dasar bagi rakyat
banyak tersebut akhirnya ditentukan oleh swasta dengan mekanisme
pasar"siapa ingin membeli /siapa ingin menjual".

World Bank menyatakan " Manajemen sumberdaya air yang efektif haruslah
memperlakukan air sebagai "komoditas ekonomis" dan " partisipasi
swasta dalam penyediaan air umumnya menghasilkan hasil yang efisien,
peningkatan pelayanan, dan mempercepat investasi bagi perluasan jasa
penyediaan".   (World Bank, 1992).  Privatisasi air akan meliputi jasa
penyediaan air di perkotaan, maupun pengelolaan sumber-sumber air di
pedesaan oleh swasta.

Menurut World Bank, air yang diperoleh masyarakat saat ini masih
berada di bawah "harga pasar" dan perlu dinaikkan.  Baik World Bank
dan ADB dalam "Kebijakan Air"-nya mendorong diterapkannya mekanisme
harga yang mengadopsi apa yang disebut sebagai Full Cost Recovery.
Secara singkat, Full Cost Recovery berarti konsumen membayar harga
yang meliputi seluruh biaya. Dengan demikian privatisasi, sebagaimana
yang telah terjadi di sejumlah negara, identik dengan kenaikan harga
tarif air.  Pada kenyataanya, justru kelompok masyarakat miskin yang
akan semakin jauh dari akses terhadap air dengan meningkatnya tarif air.

Agenda kedaulatan pangan akan menjadi mengalami ancaman ke depan.
Jika air, sebagaimana yang diinginkan oleh World Bank dan ADB,
diperlakukan sebagai komoditas ekonomis dan pihak yang mendapatkan air
ditentukan atas dasar keuntungan ekonomis semata.  Salah satu contoh,
Pemerintah Daerah Jawa Barat pada tahun 2002 telah mengeluarkan
Peraturan Daerah (Perda) mengenai Irigasi yang baru, dimana salah satu
instrumen yang diadopsi adalah penerapan "cost recovery"  kepada
petani atas penggunaan air irigasi. Sektor pertanian akan semakin
mahal bagi petani dengan diterapkannya tarif atas air irigasi.

 

Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi:

P. Raja Siregar
Manajer Kampanye dan Pengkampanye Isu Air, Pangan dan Keberlanjutan
Telepon kantor: +62-(0)21-791 93 363
Fax: +62-(0)21-794 1673

Fakta:

Pengalaman: Privatisasi Air Jakarta
Dari sisi pelayanan, paska privatisasi kepada kedua mitra asing, tidak
mengalami perbaikan dan peningkatan yang berarti.  Ini terlihat dari
sejumlah indikator utama kualitas pelayanan air minum. Target
pertambahan pelanggan dari tahun 1998-2000 tidak mencapai ketentuan
kontrak, dan lebih rendah dibanding pertumbuhan sebelumnya oleh PAM
Jaya.  Target teknis pemakaian air tidak tercapai, tetap dibawah
kinerja PAM Jaya.
 
Tingkat kebocoran pipa juga tidak sesuai dengan klausul dalam kontrak
dan harapan masyarakat. Tingkat kebocoran pada saat dikelola PAM Jaya
sebesar 53 %, kini berkisar pada angka 48%.  Namun, untuk menekan
tingkat kebocoran (non revenue water) kedua mitra asing hanya
melakukan pembatasan pengoperasian mesin pompa yang terdapat disetiap
instalasi. Dampaknya sejumlah daerah dalam jangkauan pelayanannya
malah mengalami kekurangan air (Komparta, 2005).

Pelanggan Air Minum
Sebelum terjadi privatisasi pertambahan pelanggan baru periode
1988-awal 1998 mencapai antara 9.698-63.934 pelanggan per tahun.(tabe
9l). Sedangkan setelah privatisasi, pertambahan jumlah pelanggan
justru merosot drastis. Pada 1998, antara Februari-Desember, dua mitra
swasta meraup pelanggan baru sebanyak 21.533 pelanggan.  Jumlah ini
jauh lebih kecil dari perolehan pelanggan baru yang digaet PAM Jaya
pada 1997 sebelum terjasi privatisasi yaitu 63.934 pelanggan baru.

Bahkan, pada 1999 (semester pertama) perolehan pelanggan baru dua
mitra swasta asing merosot tajam menjadi hanya 4.879. Bandingkan
dengan perolehan PAM Jaya sebelum terjadi privatisasi pada Januari
1998 (Perolehan pelanggan baru untuk satu bulan) sebesar 5.804. 
Sedangkan dari sisi rasio warga yang terjangkau sebelum dan sesudah
privatisasi tidak berubah signifikan. Pada 1997 sebelum privatisasi
dilakukan, sebanyak 52% warga Jakarta terjangkau PAM Jaya. Sedangkan
setelah privatisasi menjadi 59% (2002).

 Air Minum
Hanya sekitar 40 % warga di perkotaan dan kurang dari 30 % warga
pedesaaan. yang tersambung dengan jaringan air minum (PAM).   Air
minum langsung (potabel water) tidak dibangun di Indonesia sehingga
air dari keran harus dimasak terlebih dahulu. Bagi warga perkotaan
yang tidak terlayani oleh jaringan pipa air minum, sumber air  minum
berasal dari air tanah, air kemasan, atau dari penjual air keliling.

Dari 306 Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang ada di Indonesia,
hanya 10 % yang dalam keadaan sehat.  Selebihnya (90%) dalam keadaaan
kurang baik dan beberapa diantaranya kondisi kritis.  Pemerintah
merencanakan untuk memberikan  bantuan likuiditas kepada PDAM yang
kolaps. Langkah tersebut merupakan bagian dari restrukturisasi PDAM
yang dimulai tahun depan. 

. Krisis Air
Sekitar 65 persen penduduk Indonesia atau sekitar 125 juta jiwa
menetap di Pulau Jawa yang luasnya hanya tujuh persen dari seluruh
luas daratan Indonesia.  Sementara dari sudut potensi air hanyalah 4,5
persen dari total potensi air di Indonesia sehingga menimbulkan
benturan kepentingan.  Dipandang dari segi pengembangan sumber daya
air, permasalahan air di Jawa termasuk kategori kritis.

SAVE OUR PLANET
‘global thinking, local action’
- Komunitas Pendaki Indonesia -
Yahoo! Groups Links

Milist = Arena jitu utk bersatu

Filed under: Opini Kita - Administrator @ 7:07 am

From: hijjau [mailto:hijjau@yahoo.com]

Betapa dasyat kekuatan milist2 yang ada di cyber, bila memang betul2
kita manfaatkan secara optimal dan terkendali.
Salah satu contohnya mungkin Cyber camp 2005 dan yg paling hot adalah
masalah MOGE.

Dalam hitungan waktu yg singkat permasalahan itu menyebar kemana-
mana, lebih efective bukan? Hingga hampir seluruh indonesia atau
bahkan luar negeri pun tahu permasalahnnya. Padahal masalah ini hanya
di publikasikan oleh orang biasa-biasa saja, bukan pejabat ataupun
konglomerat.

Bila kita bisa berkaca dan mengambil hikmah dari semua itu, harusnya
kita juga bisa berbuat yg lebih baik lagi dlm mengoptimalkan
komunitas kita yang mengatas-namakan petualang alam, pecinta alam
ataupun penikmat alam (apalah namanya yg pasti mungkin satu tujuan).
Dimana kita bisa memberikan kontribusi yang lebih positif dalam
rangka ikut memelihara lingkungan dan alam yg indah ini, serta bisa
juga menjadi kontrol dalam setiap usaha2 pemerintah ataupun orang2
yang semena-mena merusak alam ini.

Bayangkan bila semua bisa bergabung menyamakan misi dan visi yang
jelas dan meninggalkan ego-ego yang kadang lebih mengedepan. Saya
yakin pasti suara kita akan terasa lebih lantang dan lebih didengar
oleh mereka.

tapi…..bisakah????????

Panjat Tebing Hobi Unik Berusia Ribuan Tahun

Filed under: Umum - Administrator @ 7:03 am

Panjat Tebing
Hobi Unik Berusia Ribuan Tahun

Dalam sejarah, manusia selalu berusaha berinteraksi dengan alam untuk
survive. Begitu juga dengan panjat tebing, yang lahir dari usaha
manusia untuk bertahan hidup di alam bebas.

Mungkin kita sudah biasa atau justru ikut melakukan hobi wall climbing
yang sekarang populer. Baik dalam bentuk lomba maupun sekadar mengisi
waktu kosong, hobi ini memang cukup mengasyikkan. Apalagi kalau di
sekolah kita disediakan papan panjat. Tidak heran kalau dari hobi ini
sudah banyak teman-teman kita yang menjalani wall climbing bukan lagi
sekadar hobi, tetapi sudah dalam tingkat yang lebih lanjut. Apalagi
kalau bukan ikut dalam sebuah kejuaraan, malah menjuarainya.
 
Wall climbing tersebut (mungkin sudah banyak yang tahu ya) merupakan
modifikasi dari hobi panjat tebing. Dari namanya sudah ketahuan kalau
dua hal ini dibedakan dari medianya; yang satu berdasarkan papan
buatan, sedangkan yang lain beneran tebing dari sebuah gunung atau bukit.

Nah, panjat tebing tersebut merupakan subbagian dari mountaineering
(pendakian gunung), yaitu climbing yang dapat diartikan sebagai
pendakian pada tebing-tebing batu atau dinding karang yang membutuhkan
peralatan, teknik, dan metode-metode tertentu. Sebagai bagian dari
mountaineering atau mendaki gunung, panjat tebing tidak dapat
dipisahkan sejarahnya dari perjalanan panjat dan mendaki gunung.

Ribuan tahun

Kegiatan mendaki gunung ini mulai dilakukan manusia sejak berabad-abad
yang lalu. Dimulai sejak manusia harus melintasi bukit-bukit atau
pegunungan baik untuk melakukan peperangan atau pun ketika melakukan
tuntutan hidupnya. Sejarah yang dapat diketahui dari hal ini adalah
perjalanan Panglima Kerajaan Carthage, Hanibal, yang dilakukan di
pegunungan Alpen di tahun 500 SM. Juga petualangan yang dilakukan
Jenghis Khan yang melintasi pegunungan Karakoran dan Kaukasus untuk
menaklukan Asia Tengah. Atau pendakian Mount Argulle oleh para tentara
Perancis pada tahun 1442.
 
Dalam sejarah yang lebih maju, pendakian yang gemilang pertama kalinya
dilakukan pada tahun 1786, ketika Dr Paccard berhasil mencapai puncak
Mount Blanc (4087 m). Saat itu pendakian dan panjat tebing sudah
menjadi hobi atau olahraga.
 
Dalam babak selanjutnya, puncak-puncak Alpen mulai dijajaki para
penggemar olahraga alam bebas ini. Dan, memang puncak-puncak
pegunungan Alpen hanya bisa dipuncaki dengan mempergunakan
teknik-teknik memanjat tebing. Semakin populer ketika Sir Alfred
Willis pada tahun 1854 berhasil mencapai puncak Watterhorn (di Swiss,
3708 m). Pendakian ini menjadi batu loncatan terbentuknya perkumpulan
pendaki gunung tertua di dunia, British Alpine Club pada tahun 1857.

Sejak babak baru itu para pendaki semakin sering melakukan pendakian
menuju puncak-puncak gunung yang lebih tinggi dan mempunyai tingkat
tantangan yang lebih tinggi pula. Keberuntungan dan anugerah akhirnya
datang pada Edmunt Hillary dan Tenzing Norgay dalam suatu ekspedisi.
Ekspedisi yang dipimpin oleh John Hunt pada tahun 1953 tersebut
berhasil memuncaki Everest, sebuah puncak yang menjadi impian para
pendaki di dunia. Rangkaian-rangkaian ini merupakan titik temu bahwa
panjat tebing merupakan bagian dari kegiatan mendaki gunung. Karena
kegiatan memanjat tebing merupakan penunjang kegiatan mendaki gunung.

Olahraga berprestasi

Panjat tebing masuk ke Indonesia seiring dengan berkembangnya teknik
mendaki. Harry Suliztiarto, seorang mahasiswa Seni Rupa ITB,
memperkenalkan panjat tebing pada tahun 1976. Tepatnya ketika memanjat
tebing-tebing alam Citatah. Peristiwa ini kemudian menjadi tonggak
sejarah berdirinya organisasi kegiatan alam bebas yang mengkhususkan
pada kegiatan memanjat, dengan nama Skygers Amateur Rock Climbing Group.

Pada tahun 1980 kegiatan panjat tebing mulai memasuki babak baru, di
mana kegiatan ini bukan lagi bersifat petualangan tetapi telah menjadi
olahraga prestasi. Perkembangan ini dimulai ketika diadakannya lomba
panjat tebing alam di tebing pantai Jimbaran Bali pada tahun 1987.

Nah, di tahun 1988 diperkenalkan deh dinding panjat tebing buatan
(wall climbing) yang langsung diperkenalkan oleh empat pemanjat dari
Perancis. Sekaligus membentuk wadah sebagai tempat menyalurkan
aspirasi dan hobi serta memanajemen kegiatan panjat tebing agar
berjalan dengan baik dengan nama Federasi Panjat Tebing Indonesia
(FPTI). Pada tahun 1990, untuk pertama kalinya diadakan lomba panjat
dinding buatan dengan tinggi papan lima belas meter yang menjadi awal
sejarah dimulainya lomba panjat tebing buatan di Indonesia sampai saat
ini.

Dasar-dasar panjat tebing

Namanya juga hobi panjat tebing, tentu saja tebing merupakan prasarana
dalam kegiatan panjat tebing. Pengetahuan dasar tentang tebing yang
harus diketahui antara lain: Bentuk tebing, bagian tebing yang dilihat
secara keseluruhan mulai dasar sampai puncak. Bagian-bagiannya antara
lain blank (bentuk tebing yang mempunyai sudut 90 derajat atau biasa
disebut vertikal), overhang (bentuk tebing yang mempunyai sudut
kemiringan antara 10-80 derajat), roof (bentuk tebing yang mempunyai
sudut 0 atau 180 derajat, terletak menggantung), teras (bentuk tebing
yang mempunyai sudut 0 atau 180 derajat, terletak menjorok ke dalam
tebing), dan top (bagian tebing paling atas yang merupakan tujuan
akhir suatu pemanjatan).

Lalu ada soal permukaan tebing yang merupakan bagian dari tebing yang
nantinya akan digunakan untuk berpegang dan berpijak dalam suatu
pemanjatan. Bagian ini di kategorikan menjadi tiga bagian: face
(permukaan tebing yang mempunyai tonjolan), slap/friction (permukaan
tebing yang tidak mempunyai tonjolan atau celah, rata, dan mulus tidak
ada cacat batuan), dan fissure (permukaan tebing yang tidak mempunyai
celah/crack).

Dengan mengenali pengenalan dasar atas medan yang hendak ditempuh,
para pemanjat akan langsung bisa mempersiapkan teknik penaklukannya
dan mengurangi tingkat kesulitannya.
Untuk memudahkan estimasi tingkat kesulitan tersebut, biasanya
digunakan sistem desimal yang dimulai dari angka lima (mengacu pada
standar tingkat kesulitan yang dibuat oleh Amerika).

Tingkat kesulitan 5,7-5,8 adalah tingkat kesulitan pemanjatan yang
amat mudah. Lintasan pemanjatan untuk pegangan dan pijakan sangat
banyak, besar, dan mudah didapat. Sudut kemiringan tebing belum
mencapai 90 derajat.

Tingkat kesulitan 5,9. Tingkat kesulitan pemanjatan yang mulai agak
sulit karena jarak antara pegangan dan pijakan mulai berjauhan tetapi
masih banyak dan besar.

Tingkat kesulitan 5,10. Pada tingkat ini pemanjatan mulai sulit karena
komposisi pegangan dan pijakan sudah bervariasi besar dan kecil. Jarak
antar celah dan tonjolan mulai berjauhan. Terdapat dua tumpuan tangan
dan satu tumpuan kaki, faktor keseimbangan mulai dibutuhkan.

Tingkat kesulitan 5,11. Tingkat kesulitan ini lebih sulit lagi karena
letak antara pegangan yang satu dengan pegangan yang lainnya berjauhan
dan kecil-kecil yang hanya bisa dipegang oleh beberapa jari saja,
kedua tungkai melakukan gerakan melebar agar kaki dapat bertumpu pada
tumpuan berikutnya. Keseimbangan tubuh sangat berpengaruh, bentuk
tebing yang dilalui pada lintasan ini terdapat variasi antara tebing
gantung dan atap.

Tingkat kesulitan 5,13-5,14. Jalur lintasan ini bervariasi antara
tebing gantung dan atap dengan satu tumpuan kaki dan satu tumpuan
tangan. Pemanjat mulai melakukan gerakan gesek (friction) dan bertumpu
pada ujung jari (edginh) bahkan harus mengaitkan tumit pada pijakan
(hooking).

Selain kriteria kesulitan ini, Negara lain juga membuat tingkat
kesulitan sesuai dengan penilaian masing-masing, antara lain Jerman,
Perancis, UIAA (Union Internationale des Association Alpines).

Etika panjat tebing

Seperti hobi atau olahraga lain, panjat tebing juga mempunyai etika
atau aturan yang disepakati oleh para pelaku hobi ini. Ruang lingkup
etika dalam panjat tebing terdiri dari empat hal.

Pertama, masalah teknik pembuatan jalur. Secara umum terdapat dua cara
dalam pembuatan jalur, yaitu aliran tradisional dan aliran modern.
Pembuatan jalur secara tradisional prinsipnya adalah membuat jalur
sambil memanjat. Teknik ini cenderung bernilai petualangan karena
lintasan yang dilewati sama sekali baru, tanpa pengalaman, tanpa
dicoba terlebih dahulu. Sementara itu, pembuatan jalur secara modern
terdiri dari dua cara. Pertama dengan menggunakan teknik tali tetap
(fix rope technique). Pada teknik ini, pembuatan jalur dapat dilakukan
dengan cara rappeling bolting atau ascending bolting. Terlebih dahulu
pada fix rope yang telah terpasang, sedangkan cara kedua mirip dengan
cara pertama, tetapi tidak dengan tali tetapi melainkan dengan
menggunakan top rope.

Lalu ada tentang masalah penanaman jalur. Siapa yang berhak memberi
nama pada suatu jalur tidak ada kesepakatan jelas yang mengaturnya. Di
Indonesia nama jalur merupakan suatu kesepakatan dari seorang atau
sekelompok pembuat jalur.

Masalah keaslian jalur juga masuk dalam poin etika panjat tebing.
Masalah keaslian jalur ini biasanya dikaitkan dengan banyaknya jumlah
pengaman tetap yang ada pada jalur tersebut. Misalkan satu jalur
setinggi lima belas meter dapat dipanjat hanya dengan menggunakan tiga
pengaman tetap, maka selanjutnya pemanjat yang kemudian memanjat harus
tetap menggunakan tiga pengaman yang pertama, tanpa ditambah atau pun
dikurangi, siapapun dia, karena ini secara harfiah telah menjadi jalur
resmi dan menjadi paten untuk jalur tersebut.

Dan, yang terakhir soal pengubahan bentuk permukaan tebing. Untuk
masalah yang satu ini, hampir semua pemanjat sepakat bahwa hal ini
haram hukumnya untuk dilakukan meski untuk menambah kesulitan atau
membuat jalur tersebut menjadi mudah. Tetapi, sebagian kecil kawasan
pemanjatan menerima perubahan ini, namun hanya pada permukaan tebing
yang tanpa cacat sama sekali agar kesinambungan jalur sebelumnya dan
sesudah tetap terjaga.

Dengan mengetahui segi-segi dasar (baik soal teknik atau
peraturan/etika), diharapkan seseorang mulai bisa mengenali hobi yang
sekarang juga jadi cabang olahraga ini. Tentu saja juga diharapkan
bisa menjadi salah satu aktivitas populer di kalangan anak muda.

KHUMAIDI TOHAR Keluarga Mahasiswa Pencinta Alam Eka Citra Universitas
Negeri Jakarta

Pembelajaran dari mendaki gunung

Filed under: Umum - Administrator @ 7:02 am

Pembelajaran dari mendaki gunung

Mendaki gunung, apa enaknya, ….. apa hikmahnya
 
Enaknya …… menikmati pemandangan mengagumi kebesaran sang pencipta.
Dapat dibayangkan gunung yang begitu gagahnya serta menjulang dengan ketinggiannya … yang tersebar diseluruh dunia, dengan bermacam bentuk dan ukuran menandakan betapa dahsyat, betapa hebat, betapa maha …. Sang pencipta.

Manakala kita berada di puncak gunung, kecil kita ….. segala kesombongan, keangkuhan, keserakahan akan sirna, bagaikan debu di tiup angin …… hilang tanpa ada bekas.

Mendaki gunung memberikan hikmah yang begitu dahsyat ….
Disadari atau tidak kita dapat belajar segala hal dalam mendaki gunung, rasa persaudaran, persahabatan yang kian kental, kemandirian yang kita peroleh, tidak mudah menyerah, rasa ego yang kian menipis dalam diri, rasa syukur yang makin tebal.

Mungkin masih teringat dalam benak, disaat kita belum pernah mendaki gunung ….. emosi kita suka meluap, manakala pulang sekolah atau main dari rumah sahabat, perut lapar…. Dirumah hanya dihidangkan oleh ibunda tercinta nasi dengan lauk alakadarnya, kita marah, kita hilang selera melihat hidangan yang alakadarnya ……
Setelah mengalami hal yang mengharuskan kita bertahan hidup dalam pendakian …… makan apapun yang ada dialam, ataupun makan nasi yang masih kurang matang, atau lauk yang lebih apa adanya dibanding waktu dirumah di bagi dengan kawan sependakian. Tentunya menyesal kita telah menyia-nyiakan masakan ibunda tercinta yang sudah menyiapkan makan untuk anak nya tercinta dengan penuh kasih saying, hanya karena hidangan yang apaadanya.

Masih terlalu banyak pembelajaran dari mendaki gunung.
Terimakasih Allah engkau telah berikan pelajaran berharga, dari ciptaan Mu gunung yang begitu indah yang bukan hanya untuk dinikmati oleh mata tetapi harus dinikmati oleh hati nurani yang paling dalam serta menjaganya agar dapat memberikan pelajaran bagi generasi yang akan datang.

By Muchtar, Ahmad (ID - Jakarta) <amuchtar@deloitte.com> 

Seputar Lingkungan : Menneg LH: Kerusakan Akibat Freeport Parah

Filed under: Opini Kita - Administrator @ 6:46 am

Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar menyatakan
kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh PT Freeport saat ini telah
parah.    "Sudah parah kerusakan yang ditimbulkan akibat PT
Freeport, tapi datanya tidak saya bawa," kata Rachmat di sela-sela
lokakarya sosialisasi Clean Development Mechanism (CDM), di Jakarta,
Rabu (25/1).    Rachmat kembali mengatakan pihaknya telah membentuk
tim penilai untuk mengukur dan meneliti kerusakan lingkungan yang
disebabkan oleh PT Freeport. "Sekarang tim kita bisa melakukan
penelitian, setelah sejak dulu Freeport menolak diteliti, dan
sekarang tim masih bekerja," katanya.    Rachmat menegaskan,
penilaian KLH akan mengacu pada standar yang ada seperti penilaian
yang diterapkan pada perusahaan-perusahaan lainnya. "Lebih dari dua
orang, mungkin ada sampai enam atau tujuh orang dalam satu tim
penilai yang mengukur tingkat kerusakaan di Papua yang diakibatkan
PT Freeport," katanya.    Penelitian yang dilakukan KLH di antaranya
adanya dugaan perusakan dan pencemaran lingkungan di sepanjang
Sungai Ajkwa dari hulu sungai hingga mencapai pesisir laut. Limbah
yang ditumpahkan Freeport berupa pembuangan tailing limbah bahan
beracun berbahaya (B3) telah mencapai pesisir laut Arafura. Tailing
yang dibuang melampaui baku mutu total suspended solid (TSS) yang
diperbolehkan menurut hukum di Indonesia.    Sementara, audit
lingkungan yang dilakukan oleh Parametrix, menemukan bahwa tailing
dan batuan limbah Freeport merupakan bahan yang mampu menghasilkan
cairan asam yang berbahaya bagi kehidupan akuatik. Sejumlah spesies
akuatik sensitif di Sungai Ajkwa telah punah akibat tailing dan
batuan limbah Freeport.    Freeport adalah salah satu perusahaan
yang memiliki tambang emas terbesar di dunia. Di Provinsi Papua
Barat, Freeport mulai beroperasi sejak 1967 atas izin pemerintah
semasa Orde Baru.

By Hijjau 

Smilling Gede 3078 Mdpl 22-23 Mei ‘94

Filed under: Catatan Perjalanan - Administrator @ 6:45 am

Pendakian ke puncak Gunung Gede yang dimotori oleh MAPA (Mahasiswa
Pecinta Alam) GUNADARMA, merupakan pendakian resmi pertamaku yang
melelahkan. Gunung Gede pula yang merupakan gunung pertama yang Aku
daki. Pendakian ini Aku jadikan sebagai pelajaran pertama serta
pembangkit semangat untuk memantapkan diri dan sebagai motivasi yang
positif untuk melakukan petualangan sendiri.

Di sini Aku banyak mendapat pelajaran yang sangat berarti dan
pengalaman yang menarik serta membanggakan. Pendakian ini diikuti
sekitar 100 orang. Mereka terdiri dari anak-anak tingkat I, II,
maupun anak-anak yang lebih senior. Acara ini sebagai ajang
perkenalan bagi mahasiswa-mahasiswa baru dengan MAPA GUNADARMA.

Aku salah satu mahasiswa baru yang yang tertarik untuk ikut acara
tersebut. Maka Aku pun mengajak dua orang teman sekelasku (Doni dan
Ami). Kami pun mendaftarkan diri ke sekretariat MAPA GUNADARMA. Di
sana Aku bertemu dengan Endit (teman satu SMA) dan Ira.

Sore itu tanggal 22 Mei 1993 jam 17.00, tampak dua buah truk TNI
beriringan dari kampus GUNADARMA Pondok Cina menuju Cibodas
(Cianjur). Kedua truk melaju dengan cepat menelusuri jalan raya
puncak yang menyuguhkan pemandangan yang indah.

Malam itu jam 21.00, para peserta Smilling Gede tampak bergerak
menuju Pos Penjagaan untuk melapor. Satu jam berikutnya pendakian
Gunung Gede dimulai. Aku mendapat regu 11, sedang Ami, Doni, Endit
dan Ira bergabung dengan regu 9. Semua mendaki dengan santai sambil
bersenda gurau, membuat pendakian ini begitu menyenangkan. Setiap 1-
2 jam perjalanan kami selingi dengan istirahat. Selama perjalanan
banyak ditemui pos/selter yang sengaja didirikan untuk tempat
beristirahat para pendaki. Pos-pos itu diberi nama yang unik.
Ada ‘Kandang Badak’ ada ‘Pemandangan’, ada ‘Kandang Batu’ dll.
Selama pendakian Aku bergabung dengan regu Endit. Ketika sampai di
Kandang Badak, sebagian pendaki beristirahat untuk tidur atau masak,
tetapi ada juga yang terus mendaki. Di sini Aku terpisah dengan regu
Endit, Aku mencari kemana-mana tapi tak ku temui mereka.

  Aku berpikir mereka meneruskan pendakian tanpa terlihat olehku.
Maka Aku pun menyusulnya seorang diri. Aku berjalan dengan cepat,
harapanku dapat segera menyusul meraka. Tetapi setelah sekian lama
Aku berjalan, mereka tak kunjung terlihatt. Aku bingung…. dan tiba-
tiba Aku sadar bahwa Aku telah cukup jauh berjalan seorang diri.
Waktu itu sekitar jam 2.00 pagi, Aku begitu ketakutan. Aku mencoba
menunggu beberapa saat dengan harapan bertemu dengan regu lainnya.
Semakin lama Aku menunggu, semakin menjadi ketakutanku. Ingin
rasanya Aku berteriak dan menangis. Akhirnya dengan perasaan yang
tak menentu Aku putuskan untuk terus mendaki. Aku terus mendaki
dengan sejuta rasa takut yang terus menghantuiku. Selama perjalanan
sering kali Aku dibuat terkejut oleh binatang-binatang malam. Aku
terus berdoa semoga tidak akan terjadi sesuatu yang buruk yang
menimpaku.

Hari hampir menjelang pagi, akhirnya stelah sekian lama berjalan aku
bertemu dengan regu lain yang berada di depanku. Aku mengucapkan
syukur pada Allah SWT karena telah mempertemukan dengan regu lain.
Aku merasa lega, dan ternyata Puncak Gunung Gede semakin dekat.
Track atau jalur terakhir yang harus kulalui adalah jalur yang
paling menanjak. Track ini dinamakan ‘Tanjakan Setan’ atau ‘Tanjakan
Rante’ dengan kemiringan hampir 90 derajat. Dengan sisa-sisa tenaga
aku kuatkan untuk terus mandaki. Sampai
akhirnya…."Alhamdulillah…!!!", teriakku tak kala kugapai Puncak
Gunung Gede. Saat itu jam menunjukkan pukul 5.30 pagi. Aku begitu
terpesona melihat pemandangan yang ada disekelilingku. Ternyata saat
itu Sunrise di Gunung Gede sedang berlangsung. Warna awan yang
keemasan menyelimuti seluruh permukaan puncak Gunung Gede. Suatu
pemandangan yang menakjubkan yang belum pernah Aku lihat sebelumnya.
Aku bagaikan berada di Negeri Awan yang hanya ada di dongeng-dongeng
klasik. Ingin Aku mengabadikan kejadian yang mempesona itu, namun
Aku lupa kalau kamera dibawa oleh Endit.

Sekitar jam 7.00 barulah regu Endit sampai di puncak. Kami pun
berphoto bersama. Lalu aku bertanya kepada mereka mengapa mereka
terlambat sampai di puncak…?

By Hijjau  

Tgl 21 & 22 Januari dalam Sejarah Dunia

Filed under: Umum - Administrator @ 6:44 am

300 Ribu Warga Teluk Benggali Tewas Akibat Angin Topan
  21 Januari tahun 1737, sebuah topan dahsyat melanda Teluk Benggala. Akibatnya, 300 ribu warga setempat tewas seketika. Teluk Benggala adalah sebuah kawasan di selatan Benua Asia. Daerah itu memang sangat sering dilanda angin topan. Akan tetapi, angin topan yang terjadi tahun 1737 adalah bencana dahsyat dengan korban paling banyak sepanjang sejarah di kawasan tersebut.
  Raja Louis XVI Dihukum Pancung
  21 Januari tahun 1793, Raja Perancis Louis XVI dihukum pancung dengan menggunakan alat penjagal terkenal di Perancis waktu itu, yaitu guilllotine. Peristiwa tersebut terjadi empat tahun setelah berlangsungnya revolusi Perancis. Raja Louis XVI naik takhta kerajaan pada tahun 1773. Tahun 1789, rakyat Perancis bangkit melakukan revolusi yang dipicu oleh buruknya situasi ekonomi Perancis. Pada tahun itu juga, Tahun 1792, perjuangan rakyat Perancis berhasil menumbangkan sistem kerajaan Perancis. Raja Louis sendiri terguling dari kekuasaan. Akan tetapi, ia kemudian diketahui meminta bantuan dari pihak asing untuk mengembalikan kekuasaannya. Ia akhirnya dihukum pancung dengan tuduhan telah melakukan pengkhianatan kepada negara.
  
  Lenin Meninggal Dunia
  21 Januari tahun 1934 Vladimir Illych Ulyanov yang dikenal dengan nama Lenin meninggal dunia. Lenin yang dilahirkan tahun 1870 adalah pemimpin revolusi Sovyet. Sejak muda, Lenin telah aktif dalam gerakan Marxis yang bertujuan menggulingkan kekaisaran Rusia. Akibatnya, dia pernah dipenjara dan dibuang ke Siberia.  Setelah menjalani masa pembuangannya, Lenin pergi ke London dan di sana ia mendirikan Partai Buruh Sosial Demokratik Rusia.  Sejak awal, ada dua kubu yang berseteru dalam partai ini. Pertama, kubu Bolshevik yang cenderung pada militerisme di bawah pimpinan Lenin dan kedua, kubu Menshevik yang cenderung demokratis. Pada tahun 1912, Lenin mendirikan Partai Bolshevik.
  Setelah kemenangan revolusi Rusia 1905, Lenin kembali ke Rusia, namun pada tahun 1907 ia dibuang oleh Kaisar Nicholas II yang berkuasa saat itu. Pada tahun 1914, meletuslah Perang Dunia Pertama yang mengakibatkan tergulingnya Kaisar Nicholas II dan berakhirnya era kekaisaran di Rusia.
  Pada tahun 1917, Lenin memimpin pemberontakan Bolshevik di Rusia. Partai Bolshevik di bawah pimpinan Lenin menggulingkan pemerintah Rusia saat itu dan dalam dua hari, terbentuklah pemerintahan baru dengan Lenin sebagai pemimpinnya. Pemerintahan Bolshevik Rusia kemudian berganti nama dengan Republik Sosialis Uni Soviet dan merupakan negara Marxis pertama di dunia.
  
  Suasana Kemenangan Revolusi Islam Makin Terasa di Iran 
  21 Januari 1979, terjadi sejumlah peristiwa yang menandai semakin dekatnya kemenangan revolusi Islam Iran. Penjara-penjara politik sudah tidak terkontrol lagi sehingga banyak tahanan politik yang berhasil membebaskan diri dari sekapan penjara Rezim Syah. Pada hari itu juga, sejumlah perwira angkatan udara Iran melakukan aksi turun ke jalan menyatakan solidaritas mereka terhadap gerakan revolusi. Pada hari yang sama, berita-berita utama di koran-koran besar nasional secara serentak dipenuhi dengan laporan tentang akan kembalinya Imam Khomeini dari Paris ke Iran.
  
                    Francis Bacon Lahir
  Tanggal 22 Januari 1561, Francis Bacon, filsuf dan matematikawan asal Inggris terlahir ke dunia. Ia awalnya adalah seorang politisi. Akan tetapi, setelah terkena tuduhan melakukan korupsi, Bacon dipenjara. Di dalam tahanan itulah ia menunjukkan kejeniusannya. Di penjara, Bacon menulis sejumlah buku. Lewat buku-bukunya, Bacon memberikan sumbangan tak terhingga kepada kemajuan ilmu matematika dan filsafat Eropa. Di antara buku-bukunya yang terkenal adalah "The Logic of Sensation". Ia juga pernah menulis buku berisikan utopianya tentang pembangunan kota dan peradaban di bawah laut bernama "The New Atlantis".
  
  Ratu Victoria meninggal Dunia
  Tanggal 22 januari tahun 1901, Victoria, Ratu Inggris terkenal, meninggal dunia pada usia 82 tahun. Ia dilahirkan tahun 1819 di kota London. Pada usia yang masih sangat muda, yaitu 18 tahun, Victoria sudah menjadi penguasa kerajaan Inggris, menggantikan pamannya, Raja Wiliam IV, yang meninggal dunia. Ratu Victoria memerintah selama 63 tahun sehingga merupakan masa pemerintahan terlama dalam sejarah Inggris. Victoria berhasil mempertahankan keberadaan sistem monarkhi di Inggrsi dan menjadikannya sebagai institusi politik seremonial. Pada masa pemerintahannya itulah, aksi represi terhadap rakyat di kawasan-kawasan koloni Inggris meningkat  secara signifikan.
  Pada tahun 1839, sepupu Victoria, Albert, seorang pangeran dari Jerman, datang ke Inggris dan lima hari kemudian, ia dilamar oleh Ratu Victoria. Pangeran Albert menerimanya dan mereka menikah pada bulan Februari tahun 1840. Pasangan ini memiliki sembilan anak, di antaranya Raja Edward VII. Setelah kematian Victoria, kekuasaan Imperium Inggris di bawah kepemimpinan Raja Edward VII, semakin melemah. 
 
 
  Panitia Peyambutan Kepulangan Imam Khomeini Dibentuk
  Tanggal 22 Januari 1979, dalam rangka menyambut kepulangan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Imam Khomeini dari Paris, sebuah panitia penyambutan dibentuk oleh para ulama dan tokoh-tokoh masyarakat Teheran. Pembentukan panitia ini ternyata bukan hanya didukung oleh warga Teheran. Rakyat Iran dari berbagai pelosok negeri juga berdatangan ke Teheran untuk menyatakan dukungannya kepada pembentukan panitia tersebut. Mereka juga datang ke Teheran sekaligus untuk langsung terlibat dalam upacara sambutan atas kedatangan pemimpin agung mereka.
  
  Fisikawan Andrei Sakharov Ditangkap
  Tanggal 22 Januari 1980, Andrei Sakharov, ilmuwan nuklir Soviet, ditangkap oleh pemerintah Kremlin karena protes kerasnya atas invasi tentara merah Uni Soviet ke Afghanistan. Sakharov dilahirkan tahun 1921. Pada tahun, 1948, setelah menyelesaikan masa belajarnya di jurusan Fisika Universitas Moskow, Sakharov direkrut oleh Badan Nuklir Uni Soviet untuk dilibatkan dalam proyek pembuatan bom hidrogen. Sakharov adalah tokoh utama di balik kesuksesan tim Uni Soviet dalam merakit bom hidrogen pertama di dunia yang dibuat pada tanggal 22 November 1955.
  Pada tahun 1957, ia mulai tertarik kepada masalah-masalah yang terkait dengan dampak negatif proyek-proyek senjata nuklir terhadap lingkungan dan keamanan dunia. Akan tetapi, berbagai kritikannya terhadap masalah dampak proyek nuklir itu masih disebut sangat lunak. Barulah pada tahun 1969, ia menulis sebuah essay di Koran New York Times. Pada essay-nya itu, ia menyerukan demokrasi, pluralisme, dan pembebasan masyarakat Soviet dari intoleransi dan dogmatisme. Ia juga menyeru masyarakat dunia agar peduli dengan masa depan.
  Pada tahun 1975, Sakharov mendapatkan hadiah Nobel di bidang perdamaian. Ia menjadi orang Soviet pertama yang memperoleh penghargaan tersebut. Akhirnya, menyusul kritikannya yang sangat keras atas aksi invasi Soviet ke Afghanistan, Sakharov ditangkap dan diasingkan ke Gorky. Di tempat pengasingannya itu, Sakharov menjalani hari-hari kehidupannya dengan sangat berat. Pada tahun 1986, saat pemimpin reformis Soviet Mikhail Gorbacfhev berkuasa, Sakharov dibebaskan dan diperbolehkan kembali ke Moskow.

http://www.anakabah.blogspot.com/

Hey…hey….siapa dia ??

Filed under: Catatan Perjalanan - Administrator @ 6:40 am

Hey…hey….siapa dia ?? kaya lagu yang biasa dinyanyiin waktu saat
kuis siapa dia, kami berdua terus mencoba untuk terus bertanya……….
Pagi ini, casio baru hadiah ulang tahun kemaren terlihat angka 6.30 WIB,
21 Juli 1994. Kaki-kaki masih terasa agak bengkak setelah sebelumnya
dihajar beberapa bukit dan beberapa kali nyasar menembus kaki-kaki
Merbabu. Udara Selo pagi itu cerah dan dingin sekali maklum memang lagi
hot-hotnya musim kemarau dan saat itu gw paksakan untuk bangkit dari
kantung yang anget itu. Weks si Bravo, satu-satunye temen gw ini masih
kenceng banget ngoroknye laksana habis macul tanah berhektar-hektar tapi
ga digaji …….jadi bisa ngebalesnye lewat tidur doangan.
Mmmhhhh segar bener nih udara ngebantu menyegarkan betis yang dari tadi
malem mo mledak aje, ya…malam itu kita bedua nginep dirumah pak
Ruslan….salah seorang warga yang kebetulan ketemu kita kemaren siang
waktu mo nyari tempat istirahat emang dasar rezeki ada aja jalannya
selain tempat nginep juga dikasih makan n minuman hangat pula (matur
nuwun sanget pak).
Pagi ini rencananya kita mo jalan-jalan seputaran selo dan nanti malam
baru berangkat ke Merapi, setelah sarapan tumis kangkung plus tempe
menjes yang suueweger ala Ibu Ruslan, kita berdua berjalan-jalan bak
Juragan ama Mandor tanah yang lagi ngecek Aktiva Tetapnya. Rencananya
kita mo daftar buat pendakian nanti malam, buset dah daftar dimane nih??
Kok kaga ada pos sama sekali..?? "mo mendaki merapi ya mas ??" tiba-tiba
ada suara lembut yang ternyata seorang gadis desa, "
hheehhee……..biar masih banyak jigong klo dah ketemu yang beginian
mah semua pasang aksi "tapi emang gw akuin lo hebat kawan" batin gw
sambil berpaling ke temen gw itu yang udah ngobrol bak temen lama
……….tinggal gw aja yang slanang-slonong nyari orang buat nanya
dimana klo daftar………jawaban yang gw dapet selalu langsung naik aja
mas asal hati-hati…..weks….asyikk….
Setelah gw yakin beneran tinggal naek aja, kembalilah gw menuju sebuah
rumah dipinggir jalan arah ke jalur merapi via selo dimana Si Bravo
masih ngobrol sama gades yang terakhir gw kenal namanya Ayu…yah se ayu
orangya memang. Setelah puas ngalor ngidul ngobrol tibalah satu kalimat
kunci dari si Ayu " Emang ga takut Cuma berduaan doang ??" "ahhh kamu
bisa aja, nanti juga banyak temen" kilah gw. " loh mas, nanti malam kan
malam jumat ……….mana ada yang mo naek merapi??" gubraxxx,
seumur-umur yang namanya jumat cuman gw tau di kalenderan eyang kakung
gw tapi ga pernah geder klo ngadapinnye tapi yang ini kenape terasa
banget yak ??? dalam hati …setelah kenyang angin gara2 ngobrol kita
pun pamit balik ke tempat pak Ruslan yang justru "Aneh" karena dia
katanya ga kenal……..alamakkkk……..
Sore ini udara cukup anyep, kita bedua sepakat klo naek sore aja karena
Cuma punya buku sebagai referensi dan guide…..maklum
rookie……..tepat pukul 16.00 kita berangkat.
Jalan makadam menuju jalur tanah merapi memang lebih dekat dibandingkan
dengan merbabu, tetapi dengan terus-menerus naik bikin betis cepet
banget mekar kaya jagung yang dijadiin pop corn………..hampir +/- 20
Menit sampe juga disebuah pos kanan jalur batas tanah dengan bebatuan,
cepet2 ambil posisi nyaman buat nyandarkan badan ini. Setelah beberapa
lama datang beberapa penduduk sekitar dari ladang
mereka….."alhamdullilah"…akhirnya kita berbicara mengenai jalur yang
akan dihadapi lumayan buat pegangan. Setelah cukup kita pun pamit
berangkat dengan sebuah pesan yang cukup bikin kuping ini panas "
hati-hati ya dijalan…..ini malam jumat lohh"……..shit !! kenapa sih
???
Jam menunjukan pukul 18.00 dan kumandang adzan dari radio muntilan pun
terdengar lantang, terpaksa perjalanan kita hentikan disebuah belokan
penuh batu yang cukup besar. Sengaja kita memilih berlindung dibelakang
sebuah batu besar dari serangan angin yang sore menjelang malam itu
bikin gemeteran tangan. Lepas sholat maghrib, tiba2 gw ngeliat sebuah
sosok "sepertinya" wanita duduk diatas batu yang disender si
Bravo……….alaammmaakkkkk……….apaan tuhhhhhh…..baju putih
panjang rambut terurai kebawah dengan sedikit senyuman dan lingkaran
mata agak menghitam………….buset kena terrorist lagi nih
gw……..!! buru2 gw ajak bravo buat jalan lagi saat itu n jalan
terus…….jalan terus…..sampe nafas bener2 ambrol….minum dikit n
jalan lagi…….pokoke gw ga mao diikutin apa lagi diisengin ama
"mereka" bisa-bisa suwe nih !! sampe akhirnya disebuah tanah lapang
banyak batu dengan sebuah susunan batu didepannya sekitar jam
9an………ohh ini mungkin pasar bubrah …..
Setelah nyari yang tempat buat ngedom, baru dah bikin makan n minum
sambil ngobrol sana-sini sampe suatu saat ada bayangan lewat dibelakang
tenda….kamprett !! die ngikutin kayanye nih………huh …antara
berani dan takut belom lagi mitos kerajaan jin dll dah….bikin ngeper
juga nihh…..sial mana bener2 ga ada Pendaki laen lagi………
Aahh cuekin aja dah…….sampe selesai makan n minum si Bravo ngajak
keluar kandang nikmatin bintang yang malam itu memang lagi saling
nunjukin cahaya masing2. gw tolak ajakannye dengan alasan badan
pegel-pegel n jaga stamina buat ke Lawu besoknya…kami pun akhirnya
tertidur setelah Djarum Super terakhir habis.
Badan ini kok rasanya bergerak …….kenapa yak ?? cepet2 gw bangun
dari kantong dan coba ambil sentolop buat ngeliat kondisi diluar
…….masyaallah……..ternyata kita udah pindah sejauh 2 meter dari
tempat kita menancapkan jangkar doom…..wah kayanye udah ga bener
nih…..ahh sa bodo teuing …….turu maneh wae…….setelah membaca
sedikit amalan dari H. Idris tetangga rumah gw kembali ke kantong dan
pulas hingga subuh……….
Shubuh udah berlalu dan perut dah terisi yang hangat2 tapi kita belum
juga berani melangkah karena keadaan masih gelap sedangkan jalur belum
juga terlihat….
Jam 6 pagi baru mulai terlihat semuanya………wah
cantiknya………indah bener…….tetangga juga kayanya baru bangun
tuh si Merbabu…..well good morning every body n things……….
Pendakian ke puncak pun dirintis sedikit demi sedikit ….dan kurang
lebih 30 Menit sampe juga kita dipuncak sang garuda……..setelah
beristirahat dan puas berfoto kita pun kembali turun mengingat
runtuhan-runtuhan batu mulai terjadi bikin ketakutan ini makin
menjadi-jadi………
Setelah makan secukupnya kita pun kembali turun ke desa mengingat masih
ada 1 journey lagi dalam agenda………ahh ngayal aja…..dalam hati,
cukup dah…..turun aja dulu biar selamet sampai dibawah baru kita
bicarakan selanjutnya itu selalu jadi target of target gw kemanapun !!
setelah beberapa lama berjalan sampe juga kami di pos peristirahatan
menjelang desa, disitu baru gw ceritaiin semua ke temen gw……..dan
ternyata dia tau…….bahkan waktu gw lagi sholat magrib (kebetulan
temen gw beda iman) dia bilang si terrorist duduk manis disebelahnya
cuman dia ga ambil pusing…….bahkan waktu didalam tenda dia juga
melihat hal yang sama yang pada intinya dia juga ikut jadi saksi
semuanya ………" lo ngeliat keseluruhan tampangnye ga ?? tanya
dia….."iye…" …….."mirip siapa hayo??" katanya kembali
bertanya………" auahhh serem, boro2 sempet mirip2in !!" jawab gw. "
menurut lo mirip ga sama si Ayu??" katanya……."hah !!….mampus lo !!
lo kemaren ngomong apa?? Janji apa sama tu perempuan ??" tanya gw, emang
dia lebih banyak tau karena ngobrol beduaan lumayan lama sedang gw cari
informasi. " gw ga janji apa2….justru dia bilang ntar ketemuan lagi
yaakkk" katanya….."kambing loh…….ya udah ntar kita ketempat
ketemuan kemaren ama dia………gw ga mao kejadian si Victor (temen ini
kesurupan dari Puncak Slamet sampe Jakarta gara-gara nemu sepatu bagus
di vegetasi dan ga mo dibalikin lagi">>next story aja ok) terulang."
Sahut gw.
Turunlah kita menemui tempat kemaren yang ternyata hanya sebuah semi pos
kamling yang ada dideket perumahan warga. Setelah tanya sana-sini
ternyata ga ada yang kenal sama Ayu……….ya amplop…….."trus
gimana dong ried ??" ya udah kita bersih-bersih, makan trus langsung
pulang aja ke Jakarta lagi……..lawu kita batalin aja……mental ama
fisik gw udah drop, ga pa pa kan!!"
 
Akhirnya jumat itu kita kembali juga ke Jakarta dengan seribu tanda
tanya dan mengarungi perjalanan dengan seribu doa………..
 
"jangan kau sekali-kali melawan alam baik gaib maupun nyata"
 
salam

FARIED 

Puncak Salak I #3

Filed under: Catatan Perjalanan - Administrator @ 6:37 am

02 April 2006 01:05:02

Perjalanan ke Puncak Salak I; seorang perempuan manis,
dan enam ekor laki-laki laknat.

28 Maret 2006
Beli barang-barang kebutuhan, sekalian ketemu dengan
dua orang temen yang mau ikut naik. Malemnya sempet
ada keragu-raguan dari dua orang temen tadi apakah
jadi ikut atau tidak. Mulai dari masalah hujan yang
tiba-tiba turun hingga masalah jumlah yang tujuh ekor
manusia. Tapi akhirnya pukul 00:45:24 diterima
keputusan bahwa besok mereka akan ikut.

29 Maret 2006
Tujuh orang bersiap-siap di kamar kosku. Sesudah
selesai kami jalan ke depan kantor Walikota lama,
nangkring di pinggir jalan nunggu ada bus jurusan
Sukabumi yang lewat. Hari udah mulai redup, udara
berdebu, dan cuaca cukup panas. Satu ekor bus berlalu,
tapi penuh sesak dan tidak memungkinkan kami bersama
gondolan masing-masing dari kami untuk menumpang.
Kemudian strategi diubah dengan cara menguber sang bus
keparat langsung ke sarangnya, yaitu terminal bus Kali
Deres. Jalan kaki sampe ke halte Busway, dan kelompok
tujuh ekor manusia sempat terpecah-pecah karena padat,
ramai, dan brengseknya antrian. Kami temukan sebongkah
bus Sukabumi - Kali Deres tengah nangkring sendiri di
tepi kebrutalan malam terminal. Barang-barang masuk ke
bagasi belakang, dan kami duduk manis di bagian
belakang bus.

Waktu berlalu dan kami tiba di pompa bensin Cicurug,
langsung disambut oleh panitia penyambutan yang lebih
mirip seperti preman bermotor. Tukang ojek menghendaki
kami menggunakan mereka, sementara dikarenakan faktor
harga dan faktor-faktor lainnya, kami lebih memilih
untuk mencarter angkot yang tergeletak layu di pinggir
jalan itu juga. Negosiasi tingkat tinggi dilakukan,
disertai dengan segala rupa ketidaksukaan dan tawaran,
setelah sedikit perundingan dan usaha pendekatan,
akhirnya terlahirlah kesepakatan di antara ketiga
pihak yang bertikai; yaitu kami, tukang ojek, dan
supir angkot.

Maka jadilah sang angkot melaju menembus gelap malam
dikemudikan oleh seorang supir dan ditumpangi oleh
tujuh ekor mahluk jahanam, menuju ke gerbang Wana
Wisata Cangkuang.

Setelah sampai, kami lakukan lagi sedikit usaha-usaha
persuasif terhadap petugas jaga, agar kami bisa
mendapatkan harga masuk yang lebih manusiawi. Kemudian
kami langsung mengadakan pendudukan terhadap selembar
bale kosong di samping warung yang tidak buka lagi.
Meletakkan barang-barang gondolan, dan kemudian pergi
makan secara bergantian dalam dua tim. Selanjutnya
adalah tidur.

30 Maret 2006
Bangun, makan, dan bersiap-siap, juga berdoa bagi yang
ingin berdoa. Sesudahnya adalah menapaki jalan aspal
yang berliku dan menanjak, hingga sebutir pos satpam
di kanan jalan. Karena menurut isu dan desas-desus
yang beredar, bahwa kami akan mendapatkan masalah jika
ternyata ada satpam di dalam pos tersebut, maka
setelah memastikan bahwa tidak ada seseorang pun di
dalamnya satu per satu kami menaikki merambati undakan
tangga batu kecil di samping sungai di seberang pos
satpam.

Jalan-jalan masih dalam keadaan seperti dua bulan
lalu, dan cuaca pun sangat bersahabat. Jalan-jalan
batu kami lewati hingga tiba di suatu tempat yang
bagiku menjadi batas awal mulai memasukki hutan gunung
Salak via Cidahu. Di tempat itu kami kehilangan jalan
karena banyaknya jalan-jalan tikus yang saling
silang-menyilang dengan jalur yang sebenarnya. Yang
terjadi ketika menyusuri sebuah jalan adalah,
tiba-tiba kami berhadapan dengan padang rumput luas
yang tampaknya cukup berlumpur jika dilalui. Kami
memutuskan untuk mundur sedikit kembali ke suatu titik
di jalur yang masih dianggap benar, kemudian dua orang
dari kami pergi mencari-cari jalan yang mungkin
merupakan jalur yang sejati. Secercah titik terang
ditemukan ketika sepotong simpangan kami coba lalui,
tampaklah ada secuil jalur yang cukup meyakinkan agak
jauh ke depan. Kembali lagi menuju tim, untuk segera
berangkat dan mengikuti jalur yang telah ditemukan
kembali.

Ternyata tidak salah, ternyata benar. Jalur-jalur
hutan gunung Salak mulai kami tapaki. Bertemu seruas
jalur yang tertutupi oleh pohon tumbang, sehingga kami
harus merambati tumbangan pohon-pohon itu perlahan.
Naik, naik, naik, dan naik. Beberapa kali bertemu
tanjakan yang cukup terjal, hingga akhirnya tiba di
satu titik di mana aku pernah mendirikan tenda dan
menginap semalam. Bukan merupakan pos, tapi cuma dua
petak tanah datar yang cukup acak-acakan dan akan
lebih acak-acakan lagi seandainya terjadi hujan.

Karena kondisi fisik yang dirasakan sudah mulai
kelelahan, maka dua orang lagi pergi terlebih dahulu
melihat-lihat kemungkinan adanya tanah lebih lapang di
depan. Tetapi belum sempat mereka kembali, tiba-tiba
dan sangat tiba-tiba hujan mulai turun, seakan berkata
"udah, di sini aja!" Jadilah kami terkaget-kaget dan
segera sibuk mengusahakan berdirinya dua keping tenda.
Sesudah tenda pertama berdiri dan flysheet-nya sudah
terpasang, seorang teman perempuan dipersilahkan untuk
masuk terlebih dahulu dan berganti pakaian.

Selanjutnya adalah mendirikan tenda kedua, memindahkan
tas, menguras isinya ke dalam tenda, memposisikan
barang-barang sesuai dengan zonasi yang telah
disepakati. Setelah pekerjaan teknis selesai, kami
para laki-laki keparat mulai berganti pakaian,
meneruskan sedikit beres-beres, dan masuk ke dalam
tenda. Menu malam ini mulai dibicarakan, dan mulai
diwujudnyatakan setelah tercapai pengertian antara
berbagai pihak yang berkepentingan untuk memasukkan
makanan ke dalam perutnya. Dua babak makanan
ditentukan sebagai santapan besar pertama hari ini.
Mie instant dengan tahu potong sebagai menu pembuka,
kemudian nasi putih plus tahu goreng sambel kecap
ditambah telur goreng sebagai babak utama.

Malam belum terlalu larut dan lampu minyak belum
terlalu lama dinyalakan ketika secara spontan
masing-masing dari kami masuk ke dalam tenda dan mulai
bergulung di dalam kantong tidur karena keadaan luar
yang cukup becek - sehingga tidak membuat kami
bernafsu untuk pergi ke luar tenda, tidak ada lagi
pekerjaan yang perlu dilakukan, dan badan yang lelah.
Hasilnya adalah tidur yang sulit diajak mendatangi
kepala kami, kecuali beberapa ekor manusia penggila
makan yang memilih untuk lagi-lagi mengisi perutnya
dengan makanan.

31 Maret 2006
Pagi yang redup menclok di tengah hutan belantara
gunung Salak. Matahari nangkring malu-malu kucing di
arah timur, sementara angin masih menderu-deru dari
arah Kawah Ratu seperti semalaman sebelumnya. Satu,
dan kemudian dua batang racun kuhabiskan sendirian di
luar tenda sementara yang lain masih terbujur kaku
seperti mayat dingin di dalam dua buah tenda membatu.

Gembira hati ini ketika kurasakan mulai ada provokasi
dan agitasi dari pihak perut untuk segera melakukan
survey lapangan. Maka kulihat-lihat daerah lebih
rendah di balik semak-semak di belakang tenda sana, di
dekat sebuah bivak yang rusak berantakan, tertutup
glondongan kayu dan pohon-pohon di sekitarnya. Hasil
survey yang cukup memuaskan kulanjutkan dengan kembali
ke tenda, mengambil tissue, dan selanjutnya adalah
mengadakan tindakan nyata berupa pengosongan isi perut
yang dirasakan sudah tidak selayaknya lagi berada pada
tempatnya.

Kemudian satu per satu manusia keparat yang
menyelipkan diri di dalam hutan hari itu terbangun
dari tidurnya. Sebagian menggulung kantong tidur,
sebagian lagi menjemur pakaian masing-masing, yang
lain mulai mengisi kembali keriernya dengan segala
rupa barang, dan kemudian satu per satu berganti
pakaian. Kami sudah siap tempur.

Perjalanan dimulai kembali setelah segalanya berada di
punggung dan tidak ada sesuatu apapun yang tertinggal
di sekitar bekas tempat kami mendirikan tempat
bermalam. Tanjakan pertama kami naiki, diikuti yang
kedua, ketiga, dan seterusnya. Perlahan-lahan semakin
tinggi dan tinggi, dengan diiringi aroma belerang
Kawah Ratu pada beberapa tempat. Sejak awal
keberangkatan hari ini kami menjaga jarak yang selalu
berdekatan satu sama lain, untuk bersiap-siap
menghadapi jalan sempit yang dengan cuek dan culun
serta tengilnya nangkring di gigir kawah.

Kawah Ratu menampakkan dirinya pada sisi kiri jalan.
Kemudian setelah terus berjalan dan berjalan, akhirnya
tiba juga apa yang dinanti-nantikan. Jalur sempit
dengan jurang di kiri dan kanannya. Kami berjalan
perlahan-lahan, yang satu menunggu yang lain, saling
memperhatikan dan mengawasi, hingga semua sudah
melewatinya. Beberapa jarak ke depan, kami dapati
kembali apa yang juga kami nanti-nantikan. Tanjakan
terjal berupa tebing hampir vertikal, dengan beberapa
bonus-bonus tanjakan serupa lain setelahnya.

Dengan keyakinan dan kepercayaanku bahwa laki-laki dan
perempuan adalah setara, serta penolakanku terhadap
dongeng-dongeng sesat surgawi yang merendahkan jenis
manusia yang satu dibanding yang lainnya, maka
satu-satunya kaum hawa di antara tujuh mahluk jahanam
ini berhasil melewati tanjakan-tanjakan tersebut tanpa
bantuan yang berarti dariku yang berada di depannya.
Tidak terlalu lama waktu yang kami butuhkan untuk
melewati tanjakan demi tanjakan nan sombong.

Tenaga cukup terkuras untuk melewati jalur-jalur
menuju puncak, beberapa kali kami sempat istirahat
untuk minum dan makan makanan kecil seperti biskuit,
coklat, dan gula jawa. Badan semakin lelah ketika ia
dipaksa untuk bergerak semakin jauh, tetapi angin
dingin yang berhembus dari sela-sela semak yang
terbuka memberikan hiburan dan dorongan untuk terus
maju dan maju.

Beberapa tanjakan yang tidak terlalu curam kami lewati
sebelum jalur menjadi semakin datar dan mulai tampak
semak-semak di antara pohon-pohon tinggi. Satu
kubangan lumpur terakhir kami lewati ketika kemudian
kami sampai di sebuah lapangan kecil, di mana tampak
sebongkah pondok kayu beratapkan seng di bagian kanan,
papan penanda Puncak Salak I di kiri, kubangan air di
antara keduanya, dan selembar makam berlapis keramik
putih agak ke bawah di balik pondok. Inilah Puncak
Salak I.

Segala persiapan mulai kami lakukan. Membangun tenda,
membuat penampungan air hujan (karena air di bak depan
pondok terasa agak berbau dan rasanya agak seperti
sabun karena ulah entah bajingan mana), satu orang
menyaring air, yang lain menguras isi kerier, ada yang
memunguti sampah, dan segala hal lainnya. Hasilnya
adalah dua tenda yang berdiri berdampingan, dengan dua
titik lampu minyak yang digantung di dua batang kayu
di samping depan masing-masing tenda, sepetak kecil
tempat yang dipersiapkan menjadi perapian, dan
manusia-manusia konyol yang tengah mempersiapkan
makanan besar pertama untuk hari itu.

Kacang panjang dan buncis yang bonyok-bonyok bahkan
sedikit membusuk kupisahkan dari yang masih segar. Dua
orang memasak nasi dan dua orang lainnya
memotong-motong kacang panjang menjadi pendek. Menu
yang disepakati oleh dewan diktator hari itu adalah
tumis kacang panjang yang ditingkahi dengan telur
goreng, juga diimbuhi dengan sosis goreng. Semua menu
yang tampak indah dan menarik itu pada akhirnya
tinggal menjadi mangsa bagi perut-perut tujuh ekor
binatang jalang yang tengah mengamuk.

Angin mulai bertiup-tiup kencang seperti babi hutan
yang tengah linglung sejak hari mulai redup dan lampu
minyak dinyalakan. Dingin menerpa pipi dan sekujur
badan. Secuil pemandangan matahari yang tengah
terbenam tampak terhalang pohon dan semak di kejauhan.
Langit barat menguning menyala terbakar matahari.

Sebagian mendekam di dalam tenda yang dipenuhi kentut
demi kentut bersahutan tanpa henti, sebagian lain di
tenda yang aman tenteram, aku dan kadang bersama satu
orang yang lain duduk di luar beralaskan ponco menjadi
penghubung antar kedua tenda konyol. Becandaan satu
demi satu mengalir dari mulut-mulut terkutuk di puncak
gunung Salak.

Beberapa orang dari kami menyempatkan diri untuk pergi
ke ujung jalan setapak di balik kubangan air, menatap
di mana biasanya kutemukan pemandangan lampu-lampu
kota Bogor dan Jakarta. Tetapi tidak ada apapun malam
ini, kecuali kabut tebal yang menggenangi lautan luas
hamparan peradaban di bawah sana. Sesekali angin
bertiup kencang menyapu kabut, namun segera
tergantikan dengan kabut lain yang sudah mengantri
sejak sebelumnya. Hanya sekilas-sekilas saja dapat
kutemukan sebersit pemandangan petir menyambar-nyambar
di bawah sana di sebelah kiri kota Bogor.

Dengan modal kayu-kayu kering yang siangnya sempat
dikumpulkan dan sedikit minyak tanah, ada perapian
kecil yang menyala malam itu. Api dengan cukup mudah
menyala dan terpelihara karena kami cukup beruntung
bisa mendapatkan serpih-serpih dan potongan-potongan
kayu sisa pekerjaan orang lain entah siapa. Tetapi
kemudian api mati karena penopang bagian bawahnya
ambruk. Aku yang sudah mulai lelah dan ingin tidur
saja kemudian menyiram bara yang tersisa, dan
meninggalkan sang (bekas) api sendirian di luar, masuk
ke dalam tenda, dan mulai menyelipkan diriku ke dalam
kantong tidur.

Misteri ilahi tidak henti-hentinya terjadi pada
kantong tidurku. Kakiku selalu saja kedinginan di
dalamnya. Mungkin karena aku selalu mengenakan celana
pendek sewaktu tidur di dalam kantong suci itu.
Sementara itu para penggila makan kembali mulai
grasak-grusuk, lagi-lagi memasak makanan untuk perut
mereka.

Angin yang berdesir-desir perlahan berubah menjadi
angin yang menderu-deru menerpa melabrak semak dan
pohon. Seciprat dua ciprat gerimis kadang turun
menerpa tenda. Semakin malam angin datang semakin
kencang. Suaranya membuatku sedikit khawatir akan
kemungkinan datangnya badai.

1 April 2006
Pagi datang sambil bermalas-malasan, langit tidak
terang benderang, dan angin masih saja menderu-deru.
Pagi hari itu sangat basah, hujan sesekali turun
membasuh bumi, dan hingga setengah perjalanan waktu
menuju tengah hari angin belum sudi untuk berhenti
melakukan parade-nya.

Perlahan manusia-manusia sontoloyo terbangun dari
mimpinya dan mulai berkeliaran. Aktivitas pagi
dilakukan, mengambil tampungan air hujan, kencing,
mengabadikan pemandangan langit pagi hari,
mempersiapkan panci-panci untuk makan. Tumis buncis
dan kacang panjang, telor kuah, baso-sosis goreng, dan
seonggok nasi hangat yang sempurna menjadi menu pagi
hari, dilengkapi dengan kripik kentang dan saos sambel
di tangan masing-masing.

Maka berputarlah panci nasi itu dari tangan orang yang
satu ke tangan orang yang lain yang tengah
mengelilingi panci-panci lain berisi lauk.
Perlahan-lahan nasi dan kawan-kawannya berpindah
tempat dari panci ke dalam perut kami.

Ketika putaran panci pertama belum selesai, datang
seseorang dari antara dua orang yang malam itu
mendirikan tendanya di dalam pondok. Mereka bertanya
tentang jalur Cimelati, dan mengajak kami turun
bersama. Hasilnya adalah, kami mendapatkan teman untuk
turun bersama-sama siang nanti.

Makan telah selesai, dan panci telah dicuci. Satu per
satu mulai berganti kostum dengan pakaian dan alas
kaki untuk jalan, segala rupa barang-barang mulai
dibereskan kembali ke dalam kerier. Sampah dibakar dan
tenda digulung kembali, terakhir adalah memeriksa
apakah ada barang atau sampah yang tertinggal. Tidak
ada, tampaknya semua telah dibereskan dan
sampah-sampah sudah dipindahkan menuju tempat
pembakaran sampah.

Yang cukup mengganjal adalah keadaan tempat
tenda-tenda lain berdiri di malam sebelumnya, di mana
beberapa orang dari organisasi entah apa bermalam di
sana dan (sepertinya) tengah melakukan pendidikan
untuk seorang (atau entah berapa orang) calon
anggotanya. Pagi hari itu setelah mereka dan segala
barang-barang mereka meninggalkan tempat itu,
tampaklah bagi kami bahwa di sana tertinggal sekeping
kulit telur, beberapa plastik bungkus luar dan bungkus
bumbu mie instant, dan beberapa macam sampah lain.
Menjadi ironi bahwa mereka, dengan segala embel-embel
"pecinta alam" atau apapun namanya, masih tega
meningggalkan sampah di tempat itu.

Setelah sekejap waktu untuk berdoa bagi yang ingin
berdoa, kami mulai berjalan turun lewat jalur
Cimelati, menyusul dua orang yang sebelumnya sudah
berjanji untuk turun bersama-sama. Banyak lumpur yang
kami dapatkan di awal perjalanan turun ini. Tetapi
perlahan-lahan lumpur menghilang dan berubah menjadi
tanah berbatu dan akar yang tidak terlalu merepotkan.

Di suatu tempat akhirnya kami bertemu dengan dua orang
yang dimaksud. Mereka tengah duduk santai mendengarkan
radio dan minum kopi. Setelah beristirahat sejenak,
kami turun bersama-sama. Beristirahat lagi di tempat
yang lain, dan kembali turun lagi hingga tiba-tiba
ciprat-ciprat air pertama turun diikuti ciprat-ciprat
air yang lain yang tanpa tanggung-tanggung
menghasilkan sebuah hujan.

Ketika hujan mulai turun, seseorang yang berjalan di
belakangku sempat berkata "mati deh." Yang bisa
kulakukan hanya meyakinkannya bahwa hujan di tengah
gunung tidak akan mematikan, yang mana sesungguhnya
lebih dari itu adalah, buatku pribadi kehujanan di
hutan adalah sesuatu yang sangat menyenangkan -
terlebih lagi jika hujan turun dengan deras tanpa
tanggung-tanggung.

Ketika kami sampai di jalur yang dilalui pipa air,
hujan masih belum berhenti. Kami sempat mengisi botol
air dan minum sepuas-puasnya di tempat itu sebelum
perjalanan dilanjutkan kembali. Hujan perlahan-lahan
berhenti ketika kami mulai memasukki jalur yang
membelah bekas perkebunan. Tanah keras yang baru
diguyur air hujan membuat jalur menjadi sangat licin,
bahkan sepatu larsku pun beberapa kali terperdayai
olehnya. Maka hasilnya adalah, dengan paduan antara
tanah keras yang licin dan sepatu yang mulai botak
serta kaki yang sudah mulai lelah, seseorang sempat
terpeleset belasan kali sepanjang perjalanan turun
kali itu.

Jalur kemudian membelah perkebunan, meniti puncak
punggungan di mana kami mendapatkan pemandangan
hamparan pohon-pohon pinus (atau cemara) di kejauhan,
gunung Gede dan Pangrango yang bertumpukan di sebelah
timur, dan puncak 1 gunung Salak yang baru kami turuni
di belakang. Terlalu indah hingga kami harus berhenti
berjalan dan menikmatinya sebentar.

Memasukki kembali sepetak hutan yang tersisa hingga
ujung jalan setapak akhirnya kami kembali kepada
peradaban modern manusia. Satu orang pergi menemani
sang perempuan untuk menumpang ganti pakaian di
banguan yang tampak tidak jauh di bawah sana,
sementara yang lainnya dalam tempo yang
sesingkat-singkatnya melepas kaos, sepatu, dan kaos
kaki, diikuti celana, kemudian celana dalam, dan
berganti dengan pakaian kering. Setelah semuanya telah
masuk kembali ke dalam tas, kami segera menyusul dua
orang teman yang telah berada di bawah.

Sedikit berjalan ke bawah, membelah lautan padang
ilalang di tepi perkebunan untuk berpindah ke jalan
yang lain, akhirnya kami bertemu dengan seseorang yang
bersedia untuk memanggilkan ojek di bawah sana.
Setelah melakukan negosiasi, dicapai kesepakatan
harga, dan kami satu per satu bertangkringan di atas
sepeda motor yang segera meluncur menuju pertigaan
Cimelati. Kami pun berpisah dengan dua orang teman
yang baru bertemu di puncak Salak dan turun
bersama-sama dengan jabat erat dari kami.

Jalan yang panjang dilalui sebelum kami tiba di
pertigaan, membayar ongkos, mengucap terimakasih, dan
mencari keputusan apakah hendak langsung ke Jakarta
atau hendak makan terlebih dahulu. Keputusan berpihak
kepada langsung pulang ke Jakarta, maka kutitip
request kepada "petugas pertigaan" untuk
memberhentikan bus jurusan Sukabumi-Kali Deres atau
Sukabumi-UKI yang lewat.

Sore hari itu kami duduk terpisah-pisah di dalam bus
yang melaju menuju UKI. Tidak ada kemacetan berarti
yang harus kami hadapi sehingga dengan cepat bus telah
tiba di Ciawi, selanjutnya ke Jakarta, dan sampai di
UKI. Dilanjutkan dengan bus jurusan Kali Deres, dua
orang teman turun di Palmerah, sementara aku dan yang
lain meneruskan hingga Grogol.

Setelah menaiki jembatan penyeberangan, sedikit
berjalan kaki, tibalah kami di kamar kosku untuk
menaruh barang-barang. Selanjutnya adalah makan
bersama.

***

Maka berakhir sudah perjalanan bersama ke puncak Salak
I. Senang dan gembira, karena sudah bersama-sama
mengunjungi kembali puncak I Salak, dan semuanya sudah
pulang dengan selamat.

Terimakasih untuk:
1. Teman-teman seperjalanan; seorang perempuan manis,
dan lima ekor laki-laki laknat.
2. Gunung Salak itu sendiri.
3. Segala pihak yang telah membantu dan mendukung.

setan

Pendakian Milis #pendaki ke Merapi 25-26 Dsember 2004

Filed under: Catatan Perjalanan - Administrator @ 6:36 am

Pendakian ini adalah pendakian yang dimotori oleh rekan-rekan milis pendaki Indonesia, diikuti oleh 24 peserta dari 4 kota, antara lain Jakarta, Yogja, surabaya dan solo. Dari Jakarta di bagi 2 kloter perjalanan antara lain “kloter Senen” yaitu Bang Nanda, Nhanha, Ryan(M_zikir), Rina, Dini dan Dody. “Kloter Jatinegara” terdiri atas Arinowo, mhama, Barak, Semi, Setia, Ipul, Gethuk, Baba, dan Yanweka.

Kloter hanya sebutan kami, untuk menyebut groups yang bergabung di dalam team merapi saat itu.

Meeting point yang telah ditentukan adalah Stasiun Tugu Jogjakarta. Tepat pukul 9 pagi kami berkumpul disana, ditambah seorang kawan dari milis Jejak Petualang yaitu Yusup Irfan yang turut bergabung dengan kami sekaligus menjadi guet kami selama perjalanan.

Setalah sarapan pagi lesehan di sebuah warung, kami langsung menlanjutkan perjalanan menuju kota selo, tidak kurang 2.5 jam sampai di kota yang sejuk ini dengan mobil carteran, dan hujan pun menyapa kami dengan lembut.

Di basecamp ini kloter dari solo dan surabaya belum terlihat, menurut kabar sms mereka masih dalam perjalan menuju selo. Kloter solo ini terdiri atas beberapa rekan Palimka dan satu dari surabaya yaitu kiskie.

Terdengar kabar via sms bahwa team yogja yaitu kabul dan badug yang mendaki melalui jalur bebeng sudah mendekati pos 4.

Bila kita simak sedikit tentang gunung merapi ini maka Gunung Merapi (2914 meter) hingga saat ini masih dianggap sebagai gunung berapi aktif dan paling berbahaya di Indonesia, namun menawarkan panorama dan atraksi alam yang indah dan menakjubkan. Secara geografis terletak di perbatasan Kabupaten Sleman (DIY), Kabupaten Magelang (Jateng), Kabupaten Boyolali (Jateng) dan Kabupaten Klaten (Jateng). Berjarak 30 Km ke arah utara Kota Yogyakarta, 27 Km ke arah Timur dari Kota Magelang, 20 Km ke arah barat dari Kota Boyolali dan 25 Km ke arah utara dari Kota Klaten.

Bilamana gunung ini menunjukan kedahsyatan erupsinya, masyarakat Yogyakarta dapat menyaksikan gumpalan asapnya yang berwarna putih kelabu atau kehitaman-hitaman mengepul keatas yang dari kejauhan nampak seperti timbunan bulu domba. Akan tetapi bilaman gunung itu dalam keadaan “tenang”, pesonanya demikian memukau, sehingga merangsang para remajayang ingin berpetualang mendaki gunung dan para pecinta olahraga mendaki gunung untuk menaklukan puncaknya.

Mendaki Gunung Merapi merupakan object wisata petualangan yang sangat menantang bagi para petualang yang ingin merasakan keindahannya. Untuk berpetualang disana anda dapat melalui beberapa jalur pendakian dari tingkat kesulitan yang tinggi hingga melalui jalur yang mudah, jalur pendakian tersebut antara lain melalui jalur pendakian bebeng (sebelah selatan) dan melalui Selo (sebelah utara).

Bagi yang kurang berminat melakukan pendakian sampai ke puncak masih dapat memuaskan hasrat hatinya untuk mengagumi kedahsyatan yang indah dari gunung Merapi ini, dari daerah Bebeng yang terletak lebih kurang 2 kilometer disebelah tenggara daerah Kaliurang, atau bisa juga melihat dari daerah Turi, lebih kurang 5 km disebelah barat daerah Kaliurang, jika ingin menyaksikan puncak Merapi dari kejauhan secara jelas, dapat digunakan teropong pengamat dari Pos Pengamatan Gunung Merapi di Plawangan.

Untuk mendaki gunung ini kita dapat melalui jalur pendakian yang paling mudah yaitu melalui jalur pendakian selo. Selo adalah sebuah kota kecil yang masuk ke dalam kabupaten boyolali. Dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat baik dari arah magelang maupun dari kota boyolali. Kota ini memikili kekhasan tersendiri karena udaranya yang sejuk dan dari sini kita dapat melihat dua buah gunung yang mengapit kota ini yaitu gunung merbabu dan gunung merapi.

kedua gunung tersebut dapat kita daki melalui kota ini dengan catatan untuk mendaki gunung merbabu lebih sulit dari selo karena jaurnya yang terjal, dan berbeda sekali dengan gunung merapi yang dapat kita tempuh hanya memakan waktu 5-6 jam menuju puncak.
Sebelum mendaki alangkah baiknya anda melaporkan rencanan perjalanan anda ke basecamp pendakian yang letaknya tepat di pinggir jalan.

Selain itu di basecamp ini anda dapat menyiapkan segala perlengkapan yangakan dibawa, bila butuh pemandu anda juga dapat menemui banyak sekali pemanda yang siap mengantarkan anda.

3 jam perjalanan kita akan merasakan hutan yang sudah mulai gundul di kawasan ini, dengan jalan tanah bercampur akar-akar pohon, namum keindahan sekelilingnya sudah bisa kita nikmati yaitu sajian kota boyolali dan kota magelang dari kejauhan. setalah itu kita tidak akan menemui pohon yang tinggi dan angin mulai berhembus kencang, anda dapat melihat pemandangan yang sangat menakjupkan yaitu berupa hamparan batu hingga mencapai puncak garuda.

Hambaran batu dikenal dengan pasar bubrah atau pasarnya lelembut, untuk mencapai puncak kita dapat menempuh kurang lebih 1 jam melewati batu sediment bekas letusan gunung tersebut. Puncak Gunung merapi pada ketinggian 2914 Mdpl dengan pesona kawah yang masih aktif dan disana pula anda dapat melihat dan naik ke atas puncak garuda, tanah tertinggi di yogjakarta.

Ngecamp di Watu Gajah
4 Jam perjalanan dari basecamp sampailah kami di watu gajah, di sini kami mendirikan tenda dengan terpaan angin yang cukup kencang. Dipilihnya watu gajah karena kondisi cuaca yang kurang mendukung untuk melanjutkan perjalan ke pasar bubrah, apalagi team solo dan surabaya masih jauh dibawah sana.

Tepat pukul 10 malam team solo dan surabaya sampai di camp, dan meraka langsung mendirikan tenda dan langsung bobo.

Pagi Muncak
Setalah berfoto-foto ria dan sarapan pagi, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju puncak, seluruh team kecuali bang ryan saja yang tetap tinggal di tenda untuk menyediakan makan siang.

Sejak di pasar bubrah saya dan barak melihat jalur yang lumayan terjal
maka itulah saya sengaja informasikan ke kawan barak untuk mengawasi rekan-rekan khususnya cewek, terutama kiskie, dini, dan setia (nhanha juga dech).

Bertemu dengan kabul cs
Sebuah tenda biru tidak jauh dari puncak disanalah team yogja mas kabul dan badung ngecamp tadi malam, Sedangkan posisi saya nggak jauh - jauh dari bang nanda, hanya saja sewaktu ketemu dengan mas kabul …, posisi saya sudah ada di atas sayap kiri…., dan saya sempet jabat tangan dengan kalian…., dan aku
langsung ngeloyor krn melihat setia ….semakin ke kanan …(salah jalur) dan barak teriak-teriak “kiri-kiri”

diPuncak
1 Jam berjalan santai sampailah di puncak garuda dengan asap belerang yang mengepul dari sela-sela batu membuat sesak nafas, namun tak menghalangi kami untuk berfoto-foto. Dan tentunya yang utama adalah mengucapkan rasa syukur krn masih bisa diberikan kenikmatan menikmati puncak garuda Gunung Merapi.

Selepas berfoto-foto di puncak saya, barak dan ipul sengaja menjadi juru
kunci alias paling buncit…krn jempol kaki kanan terasa nyeri akibat
keseleo…, di temani barak dan ipul kita sempet mandi uap SPA dari uap
yang keluar dari sela-sela batu dikawasan puncak merapi ini.

Sampai di basecamp tenda barulah saya bisa berbincang-bincang dengan mas
kabul dan mas badun9, sambil mendengarkan cerita kalian yang agak
menyeramkan itu…, waktu jualah yang tidak menyempatkan kita untuk
ngobrol-ngobrol lebih lama…, krn kitapun harus mengejar kereta api
sore ini juga…, krn sebagian teman2 harus bekerja pagi harinya.

Terima kasih atas cerita pengalaman kalian, walaupun pertemuan kita
hanya sesaat semoga tali persahabatan ini semakin erat…, dan mohon
maaf bila kami memiliki ke alfaan yang kurang berkenan sewaktu disana.

Terima kasih atas persabatan dan perjalanan yang indah ini. (yanwk/gappala14/milispendaki).

Dan bagaimana kabul dan badung melewati jalur bebeng yang agak terjal dibawah ini kabul akan menceritakan untuk anda.
From: keranda mayat baloengnom16@yahoo.com

Yogyakarta akhir akhir ini sepanjang hari hujan, deras. Jalanan sekitarku kerap
digenangi air setinggi lutut yang sering buat motor mogok. Siang yang mendung
itu, usai hujan dibawah guyuran gerimis kami mencari 4 dirigen 2,5 liter. Saat
ditanyakan oleh ibu penjual dirigen, kami bilang, “Mau buat perjalanan bu, ke
Merapi”.

Lantas ibu itu bilang, Merapi lagi status siaga dik, liat aja di koran
Merapi kemarin, waktu kita cari, ternyata korannya gak ada. Aku tertegun, kaget,
dan bertanya tanya, kalaupun iya, kami harus membatalkan perjalanan. Melihat
kondisi sekarang ini, puncak yang sering diguyur hujan akan meningkatkan
aktifitas kawah yang semakin mengepulkan asap pekat dan tebal.

Ibu itu bercerita panjang lebar, tentang Merapi, tentang mistis Jogja, tentang
aktifitas gaib yang sedang “marah”, kata ibu, “Saat ini alam lagi panas dik,
alam yang nggak keliatan dan yang keliatan, tapi kebanyakan orang nggak
percaya”, cuaca lagi nggak ramah, dan gaib lagi marah karena tempat tempat
mereka diganggu, liat sendirikan, acara acara di TV yang banyak menampilkan
pencarian penampakan, dsb, dsb.” “Adik dari mana? Semarang bu, klo Smg atau dari
Jogja insyaAllah dilindungi,” he he.

Aku bilang, sudah pernah ketemu mbah
Marijan kok bu, juru kunci Merapi, ntar kita juga ijin dulu kesana. Ibu itu
terus bercerita, sementara kita sudah ingin pulang ke kos :( , akhirnya kami
minta restu dan doa dari ibu ibu yang berumur sekitar 60-an, di doakan euy,
lumayan dapat petuah bijak.

Seharian itu hujan, belanja logistik, terus packing buat perjalanan besok, saat
cari logistik, aku lihat di koran KR, status Merapi aktif normal, angin di
sekitaran puncak tenang, bertiup dari selatan ke barat daya. Cukup aman, kurasa.

Hari Jumat, kliwon, kita sampai di desa Kinahreja, ntah, hari hari mendekati
perjalanan kami selalu bertemu dengan orang tua, dan kebanyakan dari mereka
memberi senyum yang sangat ramah, membuat perjalanan yang menegangkan ini terasa
jelas kutatap, meski cuaca sebenarnya disinipun tak pernah lepas dari hari
gelap, mendung, dan hujan,

ketemu mbah Marijan, mbah sempat khawatir juga, tapi
dengan gaya bicaranya yang khas, tenang dan menyejukkan, senyum lagi, “Adik
sudah pernah kesini? mbah percaya aja sama kalian, asal.. “, sebelum selesai
bicaranya aku ngomong sama mbah, ntar kalo cuacanya nggak memungkinkan kami
nggak meneruskan kok mbah, paling nggak itu bisa membuat beliau tenang.

Lepas dari jam satu siang, setelah hujan deras, sisa sisa gerimis, kami mulai
perjalanan menuju campIV, camp tertinggi di lereng selatan. 1 jam pertama menuju
CampI sempat sinar matahari muncul, menuju campII, dst keadaan gelap, turun
hujan lagi, basah.. basah.. , sampai di CampIV, pukul 17.30. Buka tenda di lahan
yang sempit dan miring, carrier dijadikan alas untuk mengurangi kemiringan
tenda.

Sabtu pagi, pukul 08.00 kita lanjutkan perjalanan ke arah Puncak Utara (Garuda).
Langsung mendaki dan menyisir ke timur. Setiap tikungan dan tanjakan kami beri
marker merah, setiap jarak yang hilang jangkauan pandangan karena kabut, kira
kira 5 meter. Di tempat yang tak terjangkau karena tebing, agar tak kehilangan
jejak, seandainya terjadi hal hal yang memaksa kita turun.

Perjalanan kita dibelah jurang tebing, naik lagi ke atas ke hulu lembah,
melintas di slab berkemiringan 70 derajat, dengan carrier 90liter di pundak,
enak tenan. Kami tak mungkin memanjat tebing setinggi 20meter itu, agak turun ke
bawah, carrier ditanggalkan, kemudian memanjat memasang anchor(tambatan tali) di
batu tebing. Dengan berpegangan pada webbing(tali pita) kita melewati suatu
bentuk patahan tipis dan retak.

Cuaca saat itu kabut namun kadang jarak pandang bisa mencapai puluhan meter ke
sekitar lereng. Membuat perjalanan ini terasa lancar lancar saja, dan kitapun
tertawa.. haa haa. Sampai di tepi batas punggungan mulai mendaki ke Puncak.
Terjal, batu batuan semakin rapuh dan mudah longsor, langit di atas cuman
setinggi kepala, gelap bagai malam, kabut menyergap dari segala penjuru,
diliputi asap belerang yang tebal. Tak terasa di depanku sebuah tebing
menjulang, ketika melongok ke kiri, disamping tebing itu lereng berwarna kuning
kehijauan mengepulkan asap pekat berbau menyengat.

Sejenak kami di balik tebing, bertanya tanya pada kabut dan cuaca, akankah kita
melewatinya? Pandangan tak mungkin tersingkap, maksimal satu dua meter. Ternyata
tak ada pilihan lain, sebelum kami terjebak lebih lama di balik tebing ini, air
bekal kami gunakan untuk membasahi kain untuk masker pernafasan. Aku bilang ke
rekanku, “Kamu cepat ikuti aku,

jangan berhenti dan terus mendaki, tak berpikir
panjang, langkahku dimentahkan belerang rapuh itu, panas, beberapa kali pijakan
hancur karena rapuhnya medan terjal itu, akhirnya usaha yang kulakukan berhasil
juga, diikuti badun9, nafas terlanjur dipenuhi asap sesak dan menyakitkan di
paru paru. Akhirnya aku berdiri di puncak tebing, lahan bebatuan disamping
ladang belerang. Helipad lebar. Tampak beberapa seismograf yang menunjukkan
posisi kami sudah dekat ke arah puncak, namun tak terlihat apapun, kecuali tanah
yang kita pijak. Kemana arah kawah mati? Kabut semakin dingin, gelap gulita, aku
putuskan menunggu beberapa detik menunggu jarak
pandang melebar.

Sampai akhirnya, kami coba melangkah satu dua meter meraba kondisi medan. Aku
ingat jalan ke bibir kawah mati cenderung menurun. Masih ragu ragu, kita hanya
berhenti memandang kegelapan kabut, kulemparkan dua batu besar untuk mengetahui
mana jurang kawah mati. Dalam kekacauan ini terlihat setumpukan batu, kemudian
bendera orange pendakian anak anak TWKM kemarin, kami bisa menentukan arah
perjalanan. Jurang kawah mati di depan mata,

tapi kami tak sanggup melangkah
kecuali hanya menahan dingin dan menahan nafas akibat asap kawah.
Terjebak ntah berapa menit, samar samar tampak sebuah kabel hitam, aku ingat,
pendakianku dulu mengikuti kabel karet ini, “Ini jalannya,” tanpa ragu lagi kita
menyisir bibir kawah selebar satu meter yang mendaki, melewati sumur uap yang
tampak mengerikan, dihantam kabut dan angin kencang.

Sampai di jalur lereng puncak dari arah utara. Istirahat sebentar, hampir pukul
14.30. Carrier kami tinggal dan segera mendaki 5menit ke puncak Utara, cuaca
semakin tdk menentu, gerimis, ambil dua foto, dan langsung turun ke arah
carrier.
Segera memakai raincoat kemungkinan akan terjadi hujan badai. Kami melanjutkan
perjalanan turun ke arah pasar Bubrah, tapi diguyur hujan deras, disertai petir.
Segera lereng ini menjadi aliran air yang mengalir deras, pemandangan yang
sangat indah, bagai di tengah riak jeram, namun keadaan tak memungkinkan untuk
mengambil kamera.

Kami tetap berjalan ditengah guyuran hujan, sesekali merunduk sejenak saat
kilatan petir menyambar. Kami berjalan menepi ke tebing tebing yang sepintas
seperti air terjun yang mengucurkan air melimpah. Tanpa sengaja kutemukan
cerukan tebing menjorok ke dalam, disana kami cukup mendapatkan perlindungan
dari hujan deras. Menunggu hujan reda, akhirnya kami putuskan flycamp di atas
batuan tebing ini.

Hari mulai sore, cuaca semakin membaik, namun kabut masih menyelimuti.
Melewatkan malam minggu di lahan sempit miring di lereng bawah puncak. Menunggu
kabar teman dari Jakarta, esp. Gethuk “Truwelu”. Paginya, meski matahari tak
bersinar secerah dan sepanas yang kami inginkan, bekal basah kami keringkan di
atas bebatuan, sambil menunggu sms dari Geth, sesaat kemudian Hp berdering, Geth
mengabarkan, teman teman dalam perjalanan ke Puncak dari bawah pasar Bubrah,
“Ok, tak tunggu pak, Selamat Mangkat” jawabku singkat.:)~

Pukul berapa, aku lupa, melewati kami dua orang ke puncak, kemudian beberapa
saat lagi, lewat tiga orang, aku tanya salah satu dari mereka, “Dari mana mas?”,
dia jawab, “Pathuk, ngantar teman dari Jakarta”, Kemudian aku tanya lagi ce di
belakangnya, “Dari Jakarta mbak, yah, ada yang namanya Gethuk??” Dia melewati
kami terus berhenti di depan, “Oh ini khabul yah”, perkenalan dengan mbak

Nhanha, disusul rombongan di belakangnya dari anak anak Gappala, teman teman
Palimka, andri, agus, dst, dan ketemu dengan abang kita, bang Nandha :) ,
kemudian ntah urutan mana yang benar, Arief Gethuk, Rina, Dodi, Kiskie, oh iya,
Dini, terus.. dst, perkenalan, salam salaman kemudian mereka ke puncak.
Beberapa saat setelahnya suasana kabut kemudian gerimis, sebentar kemudian kita
selamatkan barang barang terus packing Carrier.
Kita sama sama turun ke pasar Bubrah, dan seterusnya ke Basecamp Selo.
Tak terasa kaki kami melangkah menjauh tebing yang beberapa hari ini menemani
dan menjadi naungan kami, jauh dari getaran getaran kaki manusia di Puncak yang
sunyi.

thx to: mbah Marijan, mbah mbah yang telah memeberi kami nasehat dan restunya,
dan terutama kepada Allah Swt yang memberikan langit-Nya untuk dinikmati, dan
teman teman semua, haa haa ,.,

Team Jakarta mengucapkan terima kasih kepada seluruh team Palimka, Team Jakarta, team Jogja. Semoga perjalan ini menjadikan kita lebih arif dan bijak, persaudaraan dan persahabatan adalah ikatan murni yang tertuang di dalam jejak-jejak langkah yang tertinggal di puncak sana.

Yanweka(gappala14-milisPendaki)

Hello world!

Filed under: Umum - Administrator @ 5:50 am

Welcome to pendaki at Blogsome. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!

An email has been sent to you giving you details how to login to the administration section. From there you can change the design by clicking on the tab MANAGE and then click on the tab THEMES. If you have any questions ask them in the forum. We are only too willing to help.

Pendaki

Cintailah Alam ini agar lestari
Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Janis Joseph