Blog Milis #Pendaki Indonesia

"Persahabatan terjalin, persaudaraan terengkuh, bersama mengukir cinta kepada Alam"

April 17, 2006

Catper Ciremai

Filed under: Catatan Perjalanan - Administrator @ 7:32 am

Jum’at malam tepatnya tgl. 7 April 2006, kami semua yg turut serta
dalam perjalanan Ciremai, sepakat berkumpul di rumah Epul yg berlokasi
di Cibiru, Bandung.
                     *  *  *
Kami berangkat pada sabtu pagi tgl. 8 April 2006, setelah semua yg
dari Jakarta positiv hadir. Seperti biasa kami mengumpulkan dana untuk
biaya kami selama perjalanan, setiap orang dikenakan biaya Rp 50rb, yg
kan digunakan untk keperluan transport, logistik, dll.
Kami berangkat dgn mobil sewaan menuju desa Apuy,Argamukti, desa
terakhir, pos tempat kami mendaftarkan diri untuk melakukan pendakian
di gunung ciremai. Disana kami bertemu dgn abah Suljo di kediamannya
yg sangat teduh.
                     *  *  *
Terlihat perekonomian penduduk setempat sangat baik, ini tercermin
dari keadaan para penghuni desa; bangunan; serta tata letak keadaan
desa yg bisa dibilang cukup modern, tidak terbelakang.
Dan sepertinya adat penduduk setempat masih terlihat kental & berbau
mistik. Mereka percaya adanya "Aum" / "macan" sebagai nenek moyang
mereka. Memang sampai saat ini masih banyak keturunan si "Aum" itu
sendiri yg tinggal di dalam & diluar desa sebagai masyarakat biasa. Di
gunung Ciremai itulah si "Aum" berada. (percaya ga percaya….?!?).
Tapi kita sebagai orang luar harus menghormati keadaan & tradisi
setempat, agar kita para pendaki selalu bisa diterima dimanapun kita
berada.
                      *  *  *
Sabtu siang, tepatnya pkl. 10:30, kami memulai pendakian. Hari sangat
terik, udara & matahari disana terasa sangat jodoh dengan kami.
Sesekali kami istirahat dan photo2…kami lelah..tp kami terlihat
sangat senang…. Kami melewati sawah milik penduduk setempat & sebuah
curug yg airnya telah mengering.

                      *  *  *
Akhirnya kami memasuki hutan…hutan yang sangat rapat dan teduh.
Sesekali kami jumpai sinar matahari yg masuk disela sela pohon nan
tinggi & rimbun.
                      *  *  *
Ditengah perjalanan pos 2, kami dihalau hujan lebat yg semula kami
kira adlh rintik-rintik kabut. Lalu kami sepakat menghentikan
perjalanan dan beristirahat di tanah yg agak lapang, agar kami bisa
berteduh sambil minum minuman hangat dan sedikit makan makanan
kecil…dengan harapan kami bisa melanjutkan perjalanan bila hujan
telah reda. Namun hujan tdk juga berhenti dan bahkan semakin deras,
haripun sudah gelap, akhirnya kami memutuskan tuk mendirikan tenda di
tempat itu juga.
                      *  *  *

Terdengar sayup-sayup suara Nyta, Melly, Epul, membangunkan kami yg
sudah terlelap dalam tenda untuk makan malam. Kebetulan salah satu
teman kami, Dera, berulang tahun tgl 7 April 2006 kemarin, sehingga
makan malam kali ini sangat special (nyam..nyam…slurp…).
Malam itu juga Budi hijjau mengingatkan kami untuk bangun pagi, agar
pendakian dilanjutkan esok hari, 9 April 2006 pd pkl.5 dini hari. Kami
smua mempersiapkan diri dgn menyeting alarm untuk bangun 1/2 jam
sebelumnya.
                      *  *  *

Tiba waktunya kami melanjutkan pendakian,…karena banyak diantara
kami yg belum pernah ke Ciremai,..maka kami sangat antusias skali
(dasar manusia bodoh…apa enaknya mendaki gunung?!??!). Tapi sayang
harus ada yg menjaga peralatan & tenda kami, maka Budi hijjau pun
mengalah, untuk tidak turut serta dalam pendakian ke puncak,..ia
memilih tuk tinggal & menjaga tenda…(bang Budi…ooh..bang Budi..)
Kami meneruskan pendakian…dengan sebelumnya di ingatkan oleh Budi
hijjau , agar mengikuti jalur kiri setelah menemukan pos 5, serta jgn
lupa tuk mampir ke Goa Wallet, guna mengangkut air secukupnya, karena
hannya disanalah kami bisa mndapatkan air (catet!!)

                      *  *  *

Perjalanan kami sangat menyenangkan skali, meskipun bbrp dr teman kami
sudah mulai merasakan effect dr sengatan sinar matahari yg telah
membakar kulitnya. Kami smua punya keinginan yg sama, dan kami kan
terus mendaki semampu kami, sampai kami bisa benar2 belajar banyak
dari pengalaman yg kami dapat dr pendakian.

                      *  *  *

Akhirnya kami sampai juga di puncak gunung Ciremai…semuanya terlihat
dari atas sana. Langit biru…awan putih yg berarak…hamparan hutan
bak’ karpet hijau, kawah gunung Ciremai, matahari dan sinarnya yg
tegak lurus….bbrp nisan para pendaki yg telah mendahului kami
(semoga arwah mereka ditempatkan ditempat yg tertinggi bersama udara
jernih, dgn keindahan dan kebebasan dan sayap sayap kalian…amin).
 
Indah sekali…suatu lukisan alam, sebuah ciptaan Tuhan, terjadi atas
kehendak-NYA.
                      *  *  *

Minggu malam, 9 April 2006, kami sepakat tuk menuruni gunung dan
pulang ke kota…hiks…
Dengan wajah penuh ekspresi, kami menyusuri dan meninggalkan hutan
dalam keadaan gelap ditemani rintik hujan dan lampu senter…Sesekali
diantara kami terpeleset dan terguling,…kepuasan kami telah
mengalahkan segalanya. Kami kembali ke peradaban, disana sudah ada
mobil sewaan yg siap mengangkut kami kembali menuju Bandung.

                       *  *  *

" Disudut manapun aku berdiri, tak dapat kunikmati keindahan
pemandangan dan keheningan suasana alam,….selain….disana"

"Budi hijjau; Deden; Epul; Dera; Rona; Raymond; Desmond; Faried; Nyta;
Melly; Coky; Gethuk; Putri…..Cermei 7-9 April 2006"

By freetblaster_here@yahoo.com

SAVE OUR PLANET
‘global thinking, local action’
- Komunitas Pendaki Indonesia -
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/Pendaki/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    Pendaki-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

April 13, 2006

Menepis Sebuah Keinginan II (Catper Ceremai versi IPJ)

Filed under: Catatan Perjalanan - Administrator @ 6:06 am

Suasana tak jauh berbeda saat pertama kali mengunjunginya. Ya…dua
tahun lalu kuinjakan kaki seorang diri didesa ini. Begitu juga saat
bertemu dengan sesepuh apuy, Abah Suljo (’bah Suljo). Seorang bapak
tua yang memancarkan rasa teduh dan arif yang siap menyambut
pengunjung dengan keramahan yang begitu tulus. Walau telah termakan
usia, namun tetaplah seorang manusia yang tegar :)

Saat kami mengunjungi beliau untuk ijin pendakian ke ceremai, Abah
Suljo seperti biasanya mempersilahkan kita masuk dan menyediakan
minuman dan makanan tanpa lagi berbasa-basi (melly nech kayaknya yg
ngabisin makanannya Abah Suljo hihihi), gerai tawa dan gurauan kerap
kali terdengar dari mulut mungil yg tak bisa berdiam diri. Arahan dan
nasihat tak luput dari kewajiban Abah Suljo untuk meredam gejolak
darah muda yang tak terkendali.

Pendakian pun dimulai sekitar pukul 10.30 siang sabtu itu, dengan
santai dan saling bercanda kami memulai pendakian ini. Terik matahari
tak luput ikut menyemarakan keceriaan kami.

Mulai memasuki pintu rimba, matahari tepat diatas kepala. Pendakianpun
lebih santai dengan suasana yang redup dan tenang. Menetramkan pikiran
dan rasa yang teracuni oleh hiruk-pikuk kehidupan kota.

Saat itu banyak keinginan dan rencana menuju puncak, sejuta harap
bergemuruh saling menampakkan kekuatan yang akan sirna. Seribu godaan
menghantui setiap langkah kaki yang menapaki jalan penuh liku.
Ego dan rasa ikut menyemarakan sebuah pertarungan jiwa, berharap dapat
menaklukan sang jiwa yang kerap terlena.

Kebimbangan terus saja menggelitik kalbu, menyuarakan egoisme dan rasa
jumawa yang beriringan mengikuti langkah ini. APa yang harus kulakukan?
Masih adakah sejuta keinginan dan gelora tanpa batas yang dulu begitu
dekat dengan diri ini.

Lalu tak terasa semua jejak-jejak langkah masa lalu terbentang
dipelupuk mata, berbagai kejadian kembali diputar. Seperti sebuah
lentera yang menampakan kembali sinarnya walau redup, tapi pelita itu
membuka hati dan rasa yang mulai tergoda.

Lalu emosi dan rasa ego mulai memudar, seiring keinginan untuk berbagi
dan berharap pelajaran dari Sang Alam.

Akhirnya harus ku-tepis sebuah keinginan yang selalu menghantui jiwa,
yang selalu ingin menurutkan ego, emosi dan rasa.

Lalu ku berharap, semoga akan lebih baik dari hari-hari yan pernah
kujalani.

Apuy, 7-9 April 2006.

"Aku sadari, suatu hari nanti mungkin tak kan seberuntung kisah-
kisahku yang lalu"

BY HIJJAU

Ucapan Terima kasih atas partisipasi di OPSIH GPO Maret 2006

Filed under: Sekilas Info - Administrator @ 4:45 am

Assalamualaikum Wr Wb.

Teruntuk rekan2 yang telah berpartisipasi dalam kegiatan Operasi Bersih GPO Maret 2006, saya mewakili panitia dan pihak GPO mengucapkan banyak terimakasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya atas partisipasi rekan2 dalam kegiatan tersebut.

Kegiatan OPSIH tersebut telah diikuti oleh 350an peserta dengan hasil yang cukup memuaskan. Partisipasi rekan2 pada kegiatan Dialog Penggiat Alam Bebas yang telah menghasilkan beberapa output (hasil dialog menyusul yaks…) dan tentunya jumlah sampah yang telah dibawa turun cukup banyak.

Mewakili Panitia saya mengucapkan berjuta2 maaf, ketika ada kesalahan dan kekeliruan yang dilakukan panitia. Untuk masalah lokasi camp dialun2 seharusnya menurut rencana kita akan berkumpul pada peta yang telah dijelaskan, namun karena cuaca yang sedang ‘lucu’ maka hal tersebut tidak memungkinkan.

Saya tunggu partisipasi selanjutnya pada acara2 opsih yang akan berlangsung untuk berikutnya.

wassalam

Best Regards
Diyono Moeripto/ Dio

Undangan Bincang2 Kegiatan di Alam Bebas

Filed under: Sekilas Info - Administrator @ 4:44 am

Salam Rimba,

Kegiatan Alam bebas merupakan kegiatan yang jika ditekuni tidak hanya
merupakan kegiatan yang memenuhi hobby dan menambah adrenalin, akan
tetapi memiliki prospek yang cukup baik untuk dijadikan profesi.

Sabhawana (Penjelajah Alam SMAN 3 Jakarta) mengajak rekan-rekan untuk
bergabung mengikuti bincang-bincang alam bebas yang akan dipandu oleh
Wiyanto Soehardjo, salah seorang penggerak kegiatan alam bebas yang
sangat berpengalaman di bidangnya. Aktif dalam berbagai ekspedisi
pendakian gunung dan pemanjatan tebing, dan mengelola kegiatan out bound
training.

Acara ini gratis, tidak dipungut biaya apapun. Daftarkan segera karena
tempat terbatas!!!

Topik bincang2: Perkembangan dan Prospek Kegiatan Alam Bebas di
Indonesia

Waktu: Sabtu, 22 April 2006, pukul 10.00 - 12.00 wib

Tempat: S 06o 12.573′, E 106o 49.496′
  Ruang Audiovisual, SMA N 3 Jakarta
        Jl. Setiabudi II, JAKSEL.

Konfirmasi kesertaan silakan hubungi dibawah ini:
Telp:  Rangga (0856 109 1510)
Email: Ronna (peegiy@gmail.com)

April 12, 2006

Dieng & Jogja- 15 Januari 2005 22:24:11

Filed under: Catatan Perjalanan - Administrator @ 3:43 am

Dieng & Jogja
15 Januari 2005 22:24:11

Tanggal 9 Januari 2005 pukul 20:11, akhirnya bus jalan
juga. Sinar Jaya kelas ekonomi, di mana di dalemnya
orang-orang ngisep rokoknya seenak jidat walaupun bus
lagi berenti, di mana di dalemnya seorang tukang apel
jualan apel dengan harga yang nukik dari atas ke
bawah, di mana di dalemnya selain bau rokok juga
bergentayangan bau keringet dan bau ketek plus bau
asep knalpot dari segala sumber; sebuah bus yang
sepanjang perjalanan berenti di tiga tempat: entah di
mana, Indramayu, dan di Brebes.

Harusnya naik bus ke Wonosobo, tapi karena satu dan
lain hal saya dan seorang temen kemaleman sampe di
terminal, jadi kita naik bus jurusan Purwokerto. Sampe
di Purwokerto tanggal 10 Januari 2005 pukul 04:56
subuh, nangkring sebentar di depan sebuah masjid,
nikmatin suasana Purwokerto yang tenang dan sejuk di
pagi hari. Ngga lama kemudian kita udah ada di atas
bus menuju Wonosobo.

Disupirin sama seorang supir "rocker" - karena
tampaknya yang menyerupai rocker (terutama, dari jauh
dari kaca spion tengah, tampak seperti vokalis
Jamrud), rambut gondrong, tampang dingin, dan kemeja
dengan 2 kancing atas terbuka; juga karena cara
nyetirnya yang memang seperti sedang "nge-rock". 05:25
melintasi Purbalingga, dan sekitar 06:30 tiba di
Wonosobo. Makan pagi soto nasi dan tempe goreng.

Sekitar pukul delapan naik minibus menuju ke Dataran
Tinggi Dieng.

Highland of Dieng: Negeri di Awan
10 Januari 2005
Tiba di Tanah Dieng, disambut suasana dan rutinitas
desa yang tenang, berdiri di pinggir seruas jalan di
tengah sebuah lembah yang amat besar. Dikelilingi
bukit-bukit, awan di lerengnya, ladang, dan
bangunan-bangunan beratap hitam. Pukul 09:25 ada di
dalem sebuah kamar hotel bernama "Hotel Asri". Kamar
yang menyerupai kamar di ‘hotel mesum’, dengan
jejak-jejak tulisan berbau cabul di dinding dan
plafonnya.

Ngga lama langsung pergi jalan, Candi Arjuna, Candi
Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi
Sembadra, Candi Bima, Kawah Sikidang, menyusuri
sepanjang tepi Telaga Warna sepanjang-panjangnya, dan
gua-gua di sekitarnya. Bertemu dengan
perempuan-perempuan tangguh yang bersepatu boot,
bertopi caping, berbaju tangan panjang, dan menyandang
cangkul di pundak.

Setelah istirahat sebentar di hotel, pergi lagi, kali
ini ke sebuah bukit yang tetep ditumbuhin pohon-pohon
tua, tinggi, dan rimbun di atasnya - ngga seperti
bukit-bukit lainnya yang udah gundul berubah jadi
ladang - yang berarti juga adalah kuburan. Di Dieng,
kalo ada bukit yang masih ditumbuhin pohon-pohon besar
di puncaknya, umumnya adalah kuburan. Di atas bukit
ini, pertama kali nyata bahwa saya bukan berada di
Jakarta lagi, tapi di sebuah tempat yang sama sekali
lain; di Dataran Tinggi Dieng: Negeri di Awan.

Dari bukit kuburan, dilanjutin ke puncak bukit di mana
di atasnya pertama kali saya dan temen bisa dapet
sinyal hp sejak pertama kali menjejakkan kaki di
Lembah Dieng. Saya dan temen sebut bukit ini bukit
"Sinyal". Dari bukit ini semakin jelas adanya, bahwa
di Tanah Dieng ini, awan begitu akrab mencumbui
bukit-bukit dan pegunungan dan langit terasa begitu
dekat.

Pulang lagi ke hotel, mandi pake air yang luar binasa
dinginnya, makan, bengong, dan kemudian hari itu
ditutup dengan dua botol bir bersama seorang temen
untuk kemudian mulai merelakan diri dipeluk alam tidur
sekitar pukul 20:42.

11 Januari 2005
Subuh hampir pukul lima saya mulai keluar sama temen,
jalan menuju bukit "Sinyal" untuk ngeliat matahari
terbit. Itulah dia matahari terbit pertama saya di
Tanah Dieng; matahari kuning yang perlahan-lahan
dengan penuh keagungan muncul dari balik gunung Prahu
di sebelah kiri gunung Sundoro. Seperti di Kahyangan,
seperti Dieng yang memang berarti Kahyangan; damai dan
tenang. Langit hitam di atas, membiru di tengah, dan
berpijar kuning dan oranye di cakrawala - di mana awan
begitu damai mengambang seperti lautan luas melatari
gunung Sundoro.

Kemudian bukit-bukit dan gunung pun ikut berpijar
diterpa cahaya kuning yang agung. Kabut tampak masih
mencumbui tanah, membelainya dengan sentuhan yang
lembut dan sejuk. Perlahan-lahan suara deru angin
mulai terdengar, sepertinya dari atas gunung Prahu di
seberang.

Kembali ke kamar, buang air besar dan kemudian makan
nasi goreng. Setelah pindah hotel untuk tau keadaan
hotel yang lain, saya dan temen kembali ada di atas
tanah ladang-ladang. Menyusuri jalan-jalan setapak
ladang, melintasi bukit-bukit dan lembah-lembah entah
apa, untuk menuju ke sebuah bukit berwarna hijau muda
yang sejak sehari lalu sudah menjadi cita-cita kami
untuk berada di atasnya. Ada sebuah lembah - setelah
melewati sebuah jalan setapak di antara dua bukit - di
mana pemandangan amat indah, ke arah lembah yang lebih
dalam, menghadapi bukit-bukit terjal hijau membiru,
ladang, dan segala lainnya. Lembah ini istimewa,
karena di lembah ini pun ternyata ada sinyal hp -
sehingga kami namakan "Lembah Sinyal".

Melintasi sebuah desa, kemudian setelah melewati
lapangan rumput yang luas dan seruas jalan
berbatu-batu, kami mulai mendaki lagi jalan setapak di
lereng bukit yang kami tuju - dari sisi belakangnya!
Ya, tanpa sengaja kami malah bikin jalan muter yang
jauh sekali. Tapi saya ngga ngerasa rugi, karena tidak
ada apapun yang tidak berharga untuk dilihat mata di
Tanah Dieng.

Maka di sanalah kami, di puncak sebuah bukit dengan
padang rumput menyelimuti puncak dan sebagian
lerengnya. Sebuah bukit yang cukup tinggi hingga kami
bisa membentangkan pandangan ke bukit-bukit dan
lembah-lembah, ladang, dan desa-desa di segala
penjuru. Awan tampak lebih rendah, dan tanah kahyangan
Dieng membentang amat-amat luas. Seorang penduduk desa
memberitahu, nama bukit itu adalah bukit Smandu.
Pemandangan sepanjang perjalanan pulang pun tidak
kurang berharga untuk dinikmati.

Setelah makan bakso dan istirahat di kamar, belum
bosan, kami sudah menapaki lagi kaki kami di
tanah-tanah ladang. Kali ini sebuah bukit memanjang di
belakang desa. Kami naiki bagian ujungnya, dan dari
atasnya bisa terlihat Telaga Warna, dan dari sana ia
tampak lebih cantik; dilatari bukit, gunung, dan awan
yang tengah (masih) mencumbuinya.

Mandi (yang masih amat sangat dingin), sate (yang
cukup mahal), dan dua botol bir lagi jadi penutup hari
itu.

12 Januari 2005
Sekitar pukul lima pagi bangun dari alam tidur. Kabut
putih pekat yang basah tumpah ruah di lembah, sinar
lampu kuning berpendar, dan jarak pandang pendek
sekali. Pagi yang indah. Tapi ini pagi dari hari
terakhir kami di tanah kahyangan Dieng.

Setelah sarapan pagi indomie "capcay" dan segelas kopi
hitam, saya harus ucapin selamat tinggal untuk Dieng.
Sebuah pengalaman indah di alam kahyangan. Tapi
walaupun ini yang pertama kali, bukan berarti ini yang
terakhir kali. Kita akan berjumpa lagi, kaki dan tubuh
ini bakal bersentuhan lagi dengan tanah ladang-ladang
subur di tanah Dieng - tempat awan dan kabut mencumbui
bukit dan lembah dengan mesra.

Sekitar pukul 07:30 naik bus ke Wonosobo. Dari
Wonosobo, pukul 09:15 dilanjutin ke Magelang, naik bus
yang menjerit dengan keras setiap kali pedal rem
diinjek sama sang sopir. Pukul 11:10 naik bus menuju
Jogja dari terminal Magelang. Bus dengan sopir (kalo
sebelumnya "rocker") "hardcore"; dia bakal semakin
napsu neken gas ketika di depannya ada polisi tidur
atau lobang besar. Luar biasa. Menegangkan pada
awalnya.

Setelah Satu Tahun: Jogja
12 - 14 Januari 2005
Ngga ada yang terlalu istimewa dari perjalanan Jogja
selama tiga hari. Jalan-jalan jauh sekali di malam
hari, nikmatin suasana malam, suasana hujan di kota
ini, neduh di emperan toko, roti bakar, bakso, sms
yang failed sepanjang segala abad, ngga bisa tidur di
malam hari, Malioboro, tawaran dari seorang pelacur di
sebuah gang kecil - "Mas sini mas, duduk dulu
sebentar… yee, ta’ kasih murah e…", bihun dan nasi
goreng anglo (luar biasa!!), dan sepotong pagi Jogja
yang manis di hari terakhir. Untuk kemudian packing
terakhir, dan pulang naik kereta.

Kembali di Kota Sesat: Jakarta
14 Januari 2005
Pukul 18:24 sampe di Jakarta, dan pukul 19:49 sampe di
Kost.

***

Whatatrip!!

setan

April 11, 2006

MENGUAK MISTERI, MENGURAI SEJARAH PERADABAN GUNUNG TAMBORA

Filed under: Umum - Administrator @ 7:36 am

No. : Ist/PSGT/FMI/02/2006
Hal : Undangan  

MENGUAK MISTERI,  MENGURAI SEJARAH PERADABAN 
GUNUNG TAMBORA 

Letusan Gunung Tambora (Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Indonesia) pada April 1815, merupakan letusan modern gunung api paling dahsyat hingga saat ini, dan berdampak sangat besar dalam sejarah peradaban manusia di dunia.  Gunung tipe strato vulkanik yang semula memiliki ketinggian 4.200 meter (13.000 ft) diatas permukaan laut (mdpl), akibat letusan itu ketinggiannya menjadi 2.851 meter dpl (9.350 ft). Sisa letusan membentuk mangkuk kaldera yang sangat besar (terbesar di Indonesia). Diameter kawah mencapai 7 kilometer (4 mil), serta panjang keliling 16 kilometer, dengan kedalamannya sekitar 1.500 meter. Letusan itu mengakibatkan debu membumbung tinggi menutupi stratosfir dan memengaruhi cuaca di bumi secara global. Sinar matahari ke bumi terhambat oleh debu. Benua Eropa dan Amerika mengalami musim dingin yang berkepanjangan, menyebabkan kegagalan panen, kelaparan, dan korban secara keseluruhan mencapai ratusan ribu nyawa manusia meninggal. Kekalahan Napoleon Bonaparte di Rusia
 diduga juga akibat  letusan Tambora.
Hingga 1816 masyarakat dunia mengalami tahun tanpa musim panas ("The Year Without Summer").  
Dalam skala lokal, sejumlah empat dari enam kerajaan yang ada di Pulau Sumbawa lenyap. Hujan air hitam dan debu melanda Surabaya, Madura, Bali, Sulawesi, dan Maluku. Sedangkan suara letusannya terdengar hingga Jakarta. Saat ini letusan yang hampir mencapai usia 200 tahun itu tercatat dalam Guinness Book of Record dan terkenal dengan sebutan "The Great Volcanic Eruption in History". 

Memasuki dua abad dari letusan Gunung Tambora (1815 - 2015) merupakan momentum yang tepat untuk menggali, mengungkap dan memperkenalkan potensi Gunung Tambora, Pulau Sumbawa dan Provinsi Nusa Tenggara Barat pada khususnya, serta Indonesia sebagai negara yang memiliki gunung api terbanyak di dunia. 
April 2006 adalah tahun ke 191 dari letusan bersejarah Gunung Tambora. Jelang 2 abad peristiwa itu maka Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) memprakarsai kegiatan "Penggalian Potensi Kawasan Gunung Tambora". Langkah awal dalam mengimplementasikan hal ini adalah dengan menyelenggarakan seminar yang bersifat ilmiah dan komprehensif. 

Secara umum seminar bertujuan untuk memperkenalkan keunikan Gunung Tambora sebagai kawasan yang memiliki kekayaan sumber daya hayati, geologi, vulkanologi, arkeologi, kehutanan, budaya, dan ekowisata.
Secara khusus, seminar bertujuan untuk memperkenalkan Gunung Tambora secara lebih dekat kepada kalangan masyarakat dunia mountaineering untuk dieksplorasi. 

NAMA KEGIATAN:
Seminar Sehari
Menguak Misteri, Mengurai Sejarah Peradaban Gunung Tambora.
Jelang 2 Abad Peringatan Letusan Gunung Tambora. 

WAKTU DAN TEMPAT:
Seminar diselenggarakan pada,
Hari/Tanggal : Sabtu, 22 April 2006
Waktu: 09.00  - 17.00 WIB
Tempat: Ruang Seminar Widya Graha, 
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
Jl. Jenderal Gatot Subroto Kav 10  Jakarta Selatan. 

PENYELENGGARA:
Penyelenggara kegiatan adalah Federasi Mountaineering Indonesia (FMI), didukung oleh  Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan World Wildlife Fund (WWF). 

MATERI DAN PEMBICARA
a. Pembicara kunci
1. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata
2. Menteri Kehutanan
3. Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
4. Gubernur Nusa Tenggara Barat 

b. Panel 1, dengan tema: Menguak Potensi Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Hayati Gunung Tambora, dengan pembicara dari:
1. LIPI - Aspek Sumber Daya Hayati
2. ITB - Aspek Geologi/Vulkanologi
3. UI - Aspek Sosial-Budaya 

c. Panel 2, dengan tema: Mengurai Khazanah Alam dan Budaya Gunung Tambora Serta Peluang Pengembangannya, dengan pembicara dari:
1. Puslit Arkenas - Aspek Arkeologi
2. WWF - Aspek Kehutanan
3. Pendaki Gunung - Aspek Ekowisata 

PESERTA:
Peserta berasal dari kalangan; akademisi, peneliti, kalangan pariwisata, kehutanan, arkeologi, geologi, vulkanologi, peminat/penggiat kegiatan alam terbuka, pemerhati sosial dan budaya, dan kalangan umum. 

Biaya seminar:  Rp50.000/orang untuk kalangan mahasiswa, pecinta alam/pendaki gunung.
Rp100.000/orang untuk kalangan umum.
Peserta akan mendapatkan: bahan-bahan seminar (seminar kit), piagam, snack, makan. 

Pendaftaran peserta dapat menghubungi:  
Abas 0811889836, Connie 08161156818, Shima (021) 522 1687  
Fax: (021) 522 1687
E-mail: fmi_seminar_tambora@yahoo.co.id
Biaya dapat di transfer ke rekening:
a/n Dwi Bahari Astuti. No. 0060267138, BCA KCU Wisma GKBI
(tunjukkan bukti transfer saat datang menghadiri acara).

Pendaftaran sampai 10 April 2006, terbatas untuk 150 orang. 

Alamat Sekretariat Panitia:
Sasana Widya Sarwono LIPI, Lt. 5, atau 
Widya Graha LIPI, Lt. 3
Jl. Jenderal Gatot Subroto 10,  Jakarta Selatan 12720
Telp: (021) 522 1687   Fax: (021) 522 1687
E-mail: fmi_seminar_tambora@yahoo.co.id  

PANITIA SEMINAR
FEDERASI MOUNTAINEERING INDONESIA (FMI)
Didukung oleh: LIPI, Pemda NTB, WWF =======================================

pendaki dari masa ke masa

Filed under: Opini Kita - Administrator @ 7:31 am

satu hal menarik untuk dibahas :) hehehhehhe…dulu dijamanku, selalu ada carabiner tergantung di daypack…hahhahha bukti pencarian identitas diri..dan pertanyaannya, apakah pencarian identitas itu selesai? NOT YET!!! aku akan terus berusaha untuk mencari siapa aku sesungguhnya, hingga ketika aku bertemu dengan mati, sebagai jawaban dari pencarian yang selama ini kulakoni. tapi aku tidak mau mati sia-sia! aku mau mati dalam pelukan tuhan, dan belaian malaikat pencabut nyawa!
  
  selain caribiner (entah itu screw atau competition) masih banyak pernak pernik yang ku pake untuk jadi aksesoris, pembuktian eksistensi dan bukti jati diri. Bahkan aku yakin  sampai sekarang, DAYPACK/BACKPACK/RANSEL atau apalah itu namanya, masih tetap ada kemanapun aku pergi, bahkan ke toilet sekalipun, kecuali aku sedang berada di RUMAH. dan aku yakin hingga sekarang masih banyak yang memanggul daypack, walaupun gak ada isinya.
  
  satu hal yang paling aku inget, pertama kali aku punya sepatu, dompet, tas sekolah, sampai sendal dan kaos dan topi, bahkan celana STM ku merknya ALPINA. hehehhehhe….saat itu alpina menjadi simbol remaja di sekitarku. padahal ketika itu, dikampungku, sebenarnya belum terlalu familiar dengan barang begituan. satu merk lagi yang menjadi icon pada saat itu dan menjadi pesaing dari alpina cuma EIGER dan bertahan hingga kini hingga memiliki counter hampir ditiap daerah di indonesia. hebat tuh managementnya :)
  
  ah…mengenang masa lalu yang tak mungkin kembali, kadang hanya membuat hati iri, haru, dan sendu :) tapi kenanganku akan menjadi kenangan yang paling indah di muka planet ini, setidaknya untukku. huuuuuuuuu…basi!!!

INDRA QONYEK <jackraung@yahoo.com> 

SAVE THE F****G RIVER OF CILIWUNG

Filed under: Opini Kita - Administrator @ 7:29 am

ciliwung ?
  mmm….neeh gw punya dikit tulisan mengenai ciliwung..Dulu pernah investigasi juga ke sini…
  sayangnya gak bisa attach foto
  padahal ada beberapa yang sempet di jepret,,,,gak pa-pa deh baca dikit aja yah
  
  salam ciliwung
  
  SAVE THE F****G RIVER OF CILIWUNG
              Menelusuri sebagian dari sungai Ciliwung, ternyata memang menyenangkan. Perbandingan sangat kontras dapat tertangkap mata hanya dalam hitungan beberapa meter. Sisi lain kehidupan bantaran kali Ciliwung, yang menampakkan pesona sebuah penjelmaan masa lalu yang masih ada hingga sekarang. Riuhnya anak-anak kecil mandi pada sisi-sisinya, bergelayutan pada sebuah akar pohon yang menjuntai ke air, kemudian menceburkan diri kedalamnya, atau giatnya sang ibu mencuci baju dan keperluan keluarga lainnya, serta seorang bapak yang berwudhu di sana. Lalu, bagaimana sebenarnya wajah Ciliwung disana? Kami, menelusuri sebagian dari sisi lain kehidupan  bantaran sungai yang konon menjadi momok paling menakutkan kala musim penghujan datang oleh masyarakat Jakarta.
  
              Sungai Ciliwung merupakan salah satu sungai yang mengalir melintasi batas kota/ propinsi dan memiliki fungsi penting bagi masyarakat sekitar yaitu sebagai sumber air baku, penggelontoran, jalur transportasi, dan sebagainya. Namun demikian, sejalan dengan pertumbuhan kota yang terjadi, kondisi Sungai Ciliwung dan lingkungan sekitarnya semakin hari semakin memburuk. Banyaknya penduduk yang tinggal di pinggiran sungai menjadi permasalahan sungai Ciliwung menjadi semakin kompleks. Selain menimbulkan kekumuhan, perlakuan penduduk kepada Sungai Ciliwung juga kurang bertanggung jawab, karena anggapan Sungai Ciliwung sebagai bagian belakang rumah mereka.

Sungai Ciliwung merupakan bagian dari Satuan Wilayah Sungai (SWS) Ciliwung - Cisadane. Sebagai bagian dari SWS Ciliwung - Cisadane, Sungai Ciliwung mempunyai daerah tangkapan + 337 Km2 mengalir sepanjang 117 km bermata air di Gunung Pangrango (3.019 m) yang terletak di sebelah selatan Kota Bogor dan bermuara di Laut Jawa. Sungai Ciliwung mengairi sekitar 3.853 ha sawah dari Bendung Katulampa.

Daerah hulu Sungai Ciliwung yang berfungsi sebagai kawasan resapan air dan melindungi daerah di bawahnya sangat sensitif terhadap perubahan debit aliran sungai yang pada gilirannya memberikan implikasi terhadap resiko serius terhadap ker usakan lingkungan. Kawasan resapan air merupakan kawasan yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (akuifer) yang bermanfaat sebagai sumber air. Kawasan resapan air berarti dalam daerah terbuka, dimana air yang datang dari atas atau air hujan dapat leluasa tergenang dan meresap ke dalam tanah untuk mengisi rongga-rongga air dalam tanah. Kawasan resapan air sangat perlu dilindungi karena hal ini merupakan tindakan preventif dari suatu tindakan pelestarian sumber daya air tanah dan penanggulangan banjir.

Kriteria umum penetapan kawasan resapan adalah mempunyai curah hujan tinggi, struktur tanah yang mudah meresapkan air dan bentuk geomorfologi yang mampu meresapkan air dan bentuk geomorfologi yang mampu meresapkan air hujan secara besar-besaran.
Berdasarkan Rakeppres tentang Penantaan Ruang Kawasan Jabodetabek-Punjur (2003) menyebutkan pola pemanfaatan ruang DAS Ciliwung ditetapkan sebagai salah satu Kawasan Prioritas dengan fungsi utamanya adalah kawasan resapan air.
Beberapa permasalahan utama yang harus dimitigasi oleh berbagai kebijakan terkait dalam pengelolaan Sungai Ciliwung seperti RTRW DKI Jakarta, Jawa Barat, RTRW Kabupaten/Kota serta peraturan terkait lainnya akan diuraikan lebih rinci mulai dari daerah hulu - tengah - hilir. Pada bagian selanjutnya identifikasi permasalahan daerah hulu dan tengah dikelompokkan menjadi satu bagian mengingat memiliki keterkaitan yang kuat, dan bagian hilir secara khusus.
  
  Masih ada kehidupan lain di Ciliwung
              Nampaknya, gambaran sungai Ciliwung, akan jauh berbeda jika kita lihat dari sebelah kota Depok. Jika di Jakarta ia merupakan momok yang sangat menggemparkan, bahkan konon sang empunya Jakarta saat ini alias Bang Yos memusuhi habis-habisan Ciliwung, karena kerap kali menimbulkan masalah yang seruis. Masih Ingat banjir yang hampir menenggelamkan separuh Jakarta, pada beberapa tahun lalu, atau yang masih hangat dari ingatan kita pada Januari 2005, yang lalu? Belum lagi efek yang di timbulkan sesudahnya seperti penyakit dan lainnya.
              Tapi disini, suasana bersahabat bisa kita temui. Rimbunan poho-pohon perdu pada kedua sisinya, menyajika pemandangan indah yang menyejukkan mata. Apalagi, jika kita berjalan pada jembatan gantung setinggi hampir sepuluh meter, wih..serasa kita melayang pada pucuk-pucuk bamboo yang rimbun. Memandang dengan leluasa riak-riak air Ciliwung yang memang sedang bersahabat.  Ada alunan musik dari sebuah rumah dengan sound cukup keras, dan ruihnya anak-anak mandi dan mencemplungkan diri kesungai tanpa takut terbawa arus air. Sungai yang mendangkal pada musim ini, memang nampaknya tidak terlalu berbahaya, meski hal terburuk seperti banjir banding bisa saja terjadi. "Dulu kalau banjir, bisa setinggi itu, " ucap seorang anak sambil menunjuk sebuah jembatan berketinggian sekitar 10 meter. "Malah pernah sampe masuk rumah, semuanya banjir," tambahnya.
              Menuruk keterangannya pula, saya mendapat informasi, bahwa mereka memang setiap hari mandi di sungai ini.  Tidak menghiraukan bahaya hanyut, atau terbentur batuan. Tawa canda mereka membahana menghisai setiap lompatan keair. Laki-laki dan perempuan, semuanya berbaur. "Soalnya, dirumah nggak ada kamar mandi, jadi lebih baik mandi disini," ujarnya polos. Pada saat itu, seorang ibupun tengah asik mencuci baju dan pakaian keluarga serta beberapa peralatan dapur. Serta pada sisi yang lain seorang lelaki tangah berwudhu, karena memang saati itu adzan ashar sudah berkumandang.
              Kehidupan sepanjang bantaran ciliwung, memang sangat menarik di korek. Jika sekarang kita masih membuang sampah dan libah kesungai, nampaknya, hal tersebut harus segera di hentikan. Sebab, pada sisi yang lain, kehidupan mereka sangat bergantung dari kearifan kita.
              Menjelang sore, kami pulang dengan sejuta cerita dan "PR" yang masih tersisa di kepala. Kelak, apa yang bisa kami lakukan dengan keindahan Ciliwung.
  
  Boim Akar
  Juli 2005
  

http://www.anakabah.blogspot.com/

buku Panduan Mendaki Gunung di Jawa

Filed under: Sekilas Info - Administrator @ 7:27 am

Rekan-rekan

yang berminat dan telah memesan buku Panduan Mendaki Gunung di Jawa ed.
2003 - dilengkapi peta topo grafi, sketsa jalur, daftar jarak tarif - mohon
maaf saya tidak selalu sempat ke Pasfes untuk ketemu teman2… jum’at malam,
karena kesibukan saya banyak di Bekasi dsk sampai Purwakarta - Cianjur.

Saya sedang kontak dengan toko Buku NewsStand di Pasar Festifal untuk mau
menjual buku tersebut. Dan saya mesti mengirim quotation resmi
kesana…(belum sempat, setelah itu masih proses interen mereka)

Sementara kalau berminat bisa ke Toko Outdoor AVTECH di Sunter Podomoro atau
Rumah Panjat jalan Saharjo.

Buku tersebut juga segera tersedia di Markas Skrekanex / Merbabu.Com Jl.
Raya Depok, Gg. H. Sibi Rt.02/Rw02 Bo:2 Kampung Sawah, Srengseng
Sawah,Jagakarsa, Jakarta Selatan 12640. (atas kerjasama dengan ingkang
sinuhun Mr. Steve (steve@merbabu.com 0817 981 5755)

Mohon maklum..

Thank’s lot

==========

Message: 16
   Date: Wed, 08 Feb 2006 11:21:34 -0000
   From: "skrekanex" <steve@merbabu.com>
Subject: Base Camp Baru

Dear All,
Sekretariat Merbabu.Com dan Skrekanex rencananya akan pindah ke Jalan
Raya Depok. Kalau tadinya harus sedikit masuk gang, sekarang dapat
dilihat langsung dari jalan raya ke Depok.
Fasilitas yang ada berupa cafe sederhana mulai dari menu murah hingga
yang bakar-bakaran. Kami juga akan menjual buku-buku, majalah, stiker,
kaos dan jaket Merbabu.Com kedepannya kami akan membuka toko peralatan
outdoor lengkap, perpustakaan, dan warnet.
Harapan saya rekan-rekan yang mau nongkrong ketemu sesama anak-anak
gunung bisa ada tempat gaul 24 jam. Doakan ya semoga semua berjalan
sesuai rencana.

Salam nekad

Steve

Budi Yakin/0818 790063

Gerakan AntiGlobalisasi untuk menghadang neoliberalisme dan perusakan lingkungan

Filed under: Opini Kita - Administrator @ 7:26 am

By agli@gramedia-majalah.com

Gerakan AntiGlobalisasi untuk menghadang neoliberalisme dan perusakan
lingkungan dan Privatisasi Air di Indonesia.

Anti-Globalisasi adalah suatu istilah yang umum digunakan untuk
memaparkan sikap politis orang-orang dan kelompok yang menentang
perjanjian dagang global dan lembaga-lembaga yang mengatur perdagangan
antar negara seperti Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

"Anti-Globalisasi" dianggap oleh sebagian orang sebagai gerakan
sosial, sementara yang lainnya menganggapnya sebagai istilah umum yang
mencakup sejumlah gerakan sosial yang berbeda-beda. Apapun juga
maksudnya, para peserta dipersatukan dalam perlawanan terhadap ekonomi
dan sistem perdagangan global saat ini, yang menurut mereka mengikis
lingkungan hidup, hak-hak buruh, kedaulatan nasional, dunia ketiga,
dan banyak lagi penyebab-penyebab lainnya.

Namun, orang-orang yang dicap "anti-globalisasi" sering menolak
istilah itu, dan mereka lebih suka menyebut diri mereka sebagai
Gerakan Keadilan Global, Gerakan dari Semua Gerakan atau sejumlah
istilah lainnya.

Anti-Globalisasi sebagai Anti-Neoliberalisme

Banyak pihak melihat gerakan ini sebagai tanggapan kritis terhadap
pengembangan neoliberalisme, yang secara luas dianggap telah dimulai
oleh kebijakan Margaret Thatcher dan Ronald Reagan menuju kapitalisme
laissez faire pada tingkat global dengan mengembangkan privatisasi
ekonomi negara-negara dan melemahkan peraturan perdagangan dan bisnis.
Para penganjur neoliberal berpendapat bahwa peningkatan perdagangan
bebas dan pengurangan sektor publik akan membawa manfaat bagi
negara-negara miskin dan kepada orang-orang yang miskin di
negara-negara kaya. Kebanyakan pendukung anti-globalisasi sangat tidak
sependapat, dan menambahkan bahwa kebijakan neoliberal dapat
menyebabkan hilangnya kedaulatan lembaga-lembaga demokratis.

Neoliberalisme yang juga dikenal sebagai paham ekonomi neoliberal
mengacu pada filosofi ekonomi-politik yang mengurangi atau menolak
campur tangan pemerintah dalam ekonomi domestik. Paham ini memfokuskan
pada metide pasar bebas, pembatasan yang sedikit perilaku bisnis , and
hak-hak milik pribadi. Dalam kebijakan luar negeri, neoliberalisme
erat kaitannya dengan pembukaan pasar luar negeri melalui cara-cara
politis, menggunaka tekanan ekonomi, diplomasi, dan/atau intervensi
militer. Pembukaan pasar merujuk pada perdagangan bebas.

Neoliberalisme secara umum berkaitan dengan tekanan politis
multilateral, melalui berbagai kartel pengelolaan perdagangan seperti
WTO dan Bank Dunia. Ini mengakibatkan berkurangnya wewenang
pemerintahan sampai titik minimum. Neoliberalisme melalui ekonomi
pasar bebas berhasil menekan intervensi pemerintah (seperti paham
Keynesianisme), and melangkah sukses dalam pertumbuhan ekonomi
keseluruhan. Untuk meningkatkan efisiensi korporasi, neoliberalisme
berusaha keras untuk menolak atau mengurangi kebijakan buruh seperti
upah minimun, dan hak-hak daya tawar kolektif.

Neoliberalisme bertolakbelakang dengan sosialisme, proteksionisme, dan
environmentalisme. Secara domestik, ini tidak langsung berlawanan
secara prinsip dengan poteksionisme, tetapi terkadang menggunakan ini
sebagai alat tawar untuk membujuk negara lain untuk membuka pasarnya.
Neoliberalisme sering menjadi rintangan bagi perdagangan adil dan
gerakan lainnya yang mendukung hak-hak buruh dan keadilan sosial
seharusnya menjadi prioritas terbesar dalam hubungan internasional dan
ekonomi.

di Indonesia

Di Indonesia, walaupun sebenarnya pelaksanaan agenda-agenda ekonomi
neoliberal telah dimulai sejak pertengahan 1980-an, antara lain
melalui paket kebijakan deregulasi dan debirokratisasi, pelaksanaannya
secara massif menemukan momentumnya setelah Indonesia dilanda krisis
moneter pada pertengahan 1997.

Menyusul kemerosotan nilai rupiah, Pemerintah Indonesia kemudian
secara resmi mengundang IMF untuk memulihkan perekonomian Indonesia.
Sebagai syarat untuk mencairkan dana talangan yang disediakan IMF,
pemerintah Indonesia wajib melaksanakan paket kebijakan Konsensus
Washington melalui penanda-tanganan Letter Of Intent (LOI), yang salah
satu butir kesepakatannya adalah penghapusan subsidi untuk bahan bakar
minyak, yang sekaligus memberi peluang masuknya perusahaan
multinasional seperti Shell. Begitu juga dengan kebijakan privatisasi
beberapa BUMN, diantaranya Indosat, Telkom, BNI, PT. Tambang Timah dan
Aneka Tambang.

Kritik terhadap neoliberalisme terutama sekali berkaitan dengan
negara-negara berkembang yang aset-asetnya telah dimiliki oleh pihak
asing dan yang and yang institusi ekonomi dan politiknya belum
terbangun yang telah dikuras sebagai akibat tidak terlindungi dari
arus deras perdagangan dan modal. Bahkan dalam gerakan neoliberal
sendiri terdapat kritik terhadap berapa banyak negara maju telah
menuntut negara lain untuk meliberalisasi pasar mereka bagi
barang-barang hasil industri mereka, sementara mereka sendiri
melakukan proteksi terhadap pasar pertanian domestik mereka.

Pendukung antiglobalisasi adalah pihak yang paling lantang menentang
neoliberalisme, terutama sekali dalam implementasi "pembebasan arus
modal" tetapi tidak ada pembebasan arus tenaga kerja. Salah satu
pendapat mereka, kebijakan neoliberal hanya mendorong sebuah
"perlombaan menuju dasar" dalam arus modal menuju titik terendah untuk
standar lingkungan dan buruh.

daftar pustaka:

    * Scott Wallsten and Katrina Kosec. "Public or Private Drinking
Water? The Effects of Ownership and Benchmark Competition on U.S.
Water System Regulatory Compliance and Household Water Expenditures",
Brookings Institution Working Paper 05-05.

    * A. Estache, S. Perelman, L. Trujillo (2005), "Infrastructure
performance and reform in developing and transition economies:
evidence from a survey of productivity measures", World Bank Policy
Research Working Paper 3514, February 2005.

    * Clare Joy and Peter Hardstaff (2005), "Dirty aid, dirty water:
The UK Government’s push to privatise water and sanitation in poor
countries", World Development Movement, February 2005

    * Belén Balanyá, Brid Brennan, Olivier Hoedeman, Satoko Kishimoto
and Philipp Terhorst (eds), Reclaiming Public Water: Achievements,
Struggles and Visions from Around the World, Transnational Institute
and Corporate Europe Observatory, January 2005. ISBN 90-71007-10-3.

    * Greenhill, Romilly, and Wekiya, Irene (2004), Turning off the
taps: donor conditionality and water privatisation in Dar es Salaam,
Tanzania, London, UK, ActionAid.

    * David Hall and Robin de la Motte, Dogmatic Development:
Privatisation and conditionalities in six countries, War on Want.
    * Emanuele Lobina and David Hall, Problems with private water
concessions: a review of experience, PSIRU, University of Greenwich
    * Steven Renzetti and Diane Dupont (2003), "Ownership and
Performance of Water Utilities", Greener Management International 42,
Summer 2003

Hari Air Sedunia 2006 “Air dan Kebudayaan”

Filed under: Opini Kita - Administrator @ 7:24 am

Hari Air Sedunia 2006 "Air dan Kebudayaan"

Hari tepatnya tanggal 22 Maret 2006 diperingati sebagai hari air sedunia dan tema yang diambil tahun ini "Air dan Kebudayaan". Tanggal 22 Maret sejak dicetuskan sebagai hari air sedunia tidak lepas dari penyelenggaraan KTT Bumi di Rio de Janero, 1992. Yang kemudia ditetap oleh PBB melalui resolusinya yang sekaligus menetapkan tanggal 22 Maret sebagai hari air sedunia terhitung sejak tahun 1993. Dan sejak ditetapkannya hingga saat ini setiap tahunnya mengusung tema2 yang berbeda-beda namun tetap berkesinambungan.
 
  Hari Air Sedunia (World Water Day) diperingati setiap 22 Maret. Peringatan ini sebagai wahana untuk memperbarui tekad kita untuk melaksanakan Agenda 21 yang dicetuskan pada tahun 1992 dalam United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) yang diselenggarakan di Rio de Janeiro, atau secara populer disebut sebagai Earth Summit (KTT Bumi).
 
  Pada Sidang Umum PBB ke 47 tanggal 22 Desember 1992 melalui Resolusi Nomor 147/1993, usulan Agenda 21 diterima dan sekaligus ditetapkan pelaksanaan Hari Air Dunia pada setiap tanggal 22 Maret mulai tahun 1993 di setiap anggota PBB. Tema-tema yang dipilih tiap tahun sejak tahun 1994 meliputi Peduli Akan Sumber daya Air adalah Urusan Setiap Orang (1994), Wanita dan Air (1995), Air untuk Kota-kota yang Haus (1996), Air Dunia Cukupkah? (1997), Air Tanah-Sumber Daya yang tak Kelihatan (1998), Setiap Orang Tinggal di Bagian Hilir (1999), Air untuk Abad 21 (2000), Air untuk Kesehatan (2001), Air untuk Pembangunan (2002), Air untuk Masa Depan (2003), dan Air dan Bencana (2004), "WATER FOR LIFE" atau air untuk kehidupan. Itulah tema peringatan Hari Air Sedunia (HAS) 2005.
 
  Sesuai dengan temanya tahun ini "air dan kebudayaan". Tentu kita menyadari betapa air memang sudah menjadi sumber kehidupan dan budaya masyarakat dunia. Berbagai upacara kebudayaan termasuk yang bermuatan religius menggunakan air. Bahkan di beberapa negara sungai menjadi tempat yang disucikan seperti, air sungai gangga. Air bisa dikatakan harta karun yang sangat bernilai harganya dibanding harta apapun di dunia karena seluruh makhluk hidup sangat memerlukannya.
 
  Menurut Lembaga Ilmu Pengatahuan Indonesia (LIPI), Indonesia memiliki 6% potensi air dunia atau 21% potensi air di Asia Pasifik. Namun dari waktu ke waktu Indonesia mengalami krisis air bersih, baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya.
 
  Berikut berita tentang hari air sedunia yang saya kutip dari harian pikitan rakyat pada peringatan hari air sedunia tahun 2005.
 
  "SEPERTI juga yang berlaku bagi banyak suku bangsa di dunia, air bagi masyarakat Sunda memiliki kedekatan tersendiri. Air tidak dipandang sebatas fungsi dan kegunaan. Tetapi air dalam filosofi kesundaan menurut sejarawan Dr. Nina Lubis adalah kristalisasi nilai-nilai yang pesan dan amanatnya akan selalu aktual sepanjang masa.
 
  "Seperti yang dapat disimak pada peribahasa-peribahasa yang berbunyi, ka cai jadi saleuwi ka darat jadi salebak. Caina herang beunang laukna, Pindah cai pindah tampian, dan masih banyak lagi," kata Nina.
 
  Dalam peribahasa itu tercermin kearifan lokal (local wisdom) bagaimana urang Sunda yang merupakan bagian dari masyarakat dunia, merasa begitu dekat dan bergantung pada air. "Bahkan dalam penyebutan lemah cai, air menjadi semacam pengikat. Jika di Belanda dikenal vaderland, maka di Sunda dikenal sebutan lemah cai (tanah air)."
 
  Dalam kehidupan keseharian, air bagi orang Sunda juga dikenal sebagai tempat-tempat yang disakralkan. Sebutan sirah cai mengisyaratkan sebuah tempat yang angker. Bila dilihat sepintas, penamaan tersebut terkesan berbau animisme. Padahal justru di balik penamaan itu tersimpan pesan-pesan lingkungan agar tempat tersebut tetap terjaga kelestariannya.
 
  Kedekatan lain masyarakat Sunda dengan air, dapat dilihat dalam penamaan tempat secara legendaris. Seperti penamaan suatu daerah/wilayah yang mengacu pada nama sungai. Bukan sebaliknya, penamaan sungai berdasarkan tempat. Seperti dalam penamaan Kota Cimahi. Disebut Cimahi karena dulunya di kawasan tersebut terdapat sungai (ci dari cai) Cimahi. Berbeda dengan yang berlaku di Jawa, meski esensinya sama penamaan digunakan kali seperti Kali Opak, dst.
 
  Begitu juga dalam aspek politis masyarakat Sunda. Air sering dipergunakan sebagai batas wilayah administratif. Bahkan kebiasaan ini menurut Nina Lubis, diadopsi pula oleh Belanda seperti pada Perjanjian No.05. Dalam perjanjian yang berisi penyerahan wilayah Priangan dari Mataram ke VOC itu disebutkan, bahwa wilayah yang diserahkan dibatasi Citanduy di bagian barat dan Cimanuk di timur sampai ke selatan dibatasi Cidonan.
 
  Bukan itu saja, kedekatan orang Sunda dengan air juga tampak letak-letak ibu kota kerajaan yang berlokasi selalu berada di tepi sungai. Di mana air bukan saja menjadi sumber kehidupan tetapi juga menjadi sumber transformasi yang membawa perubahan bagi kerajaan tersebut.
 
  **
 
  SAYANGNYA, kearifan lokal yang terbukti menjadi pengikat harmoni antara alam dan lingkungannya, kini hanya sebatas manuskrip masa lalu yang tidak pernah menjadi uswah atau refleksi masa kini. Cara pandang pengelolaan lingkungan yang terjebak pada "antroposentrisme" yang sekadar memandang manusia sebagai pusat dunia, terbukti telah mendegradasi kualitas lingkungan pada titik nadirnya. Termasuk air.
 
  Anggota Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) Ir. S. Sobirin menguraikan data yang semakin membuat kita prihatin tentang kondisi air di provinsi ini. "Neraca air memang telah hancur. Sebagai contoh, Provinsi Jawa Barat sebetulnya memiliki potensi air sampai 80 miliar m3/tahun. Namun, kenyataannya yang dapat dimanfaatkan hanya 8 miliar m3/tahun. Padahal, kebutuhan air masyarakat Jabar adalah 17 miliar m3/tahun," urai Sobirin.
 
  Berarti, setiap tahun potensi air Jabar terbuang percuma (run off) sebanyak 70 miliar m3! "Potensi air sebesar 81 miliar meter kubik itu pada musim hujan tidak tertahan dan tersimpan di hutan dan kawasan hutan. Penyebabnya tak lain karena kawasan hutan di Jabar mengalami degradasi parah, sehingga tidak mampu lagi menahan limpasan air. Dampak nyata lainnya adalah banjir di musim penghujan dan sebaliknya kering kerontang kekurangan air ketika kemarau," paparnya.
 
  Sobirin mengungkapkan erosi kolosal sebagai dampak gundulnya hutan juga telah mencapai 33 juta ton per tahun. "Angka tersebut setara dengan 1 juta truk tronton berkapasitas 30 ton. Erosi mengangkut lapisan tanah subur di gunung-gunung, di hulu lalu terbawa ke daratan rendah hingga ke laut. Akibatnya potensi sumber daya laut pun terancam karena pelumpuran," jelas Sobirin.
 
  Bagaimana kondisi pada musim kemarau? Pada musim ini potensi air yang bisa dinikmati masyarakat Jabar hanya sisa 8 miliar meter kubik (10 persen). Penyebabnya, cadangan dan simpanan air tidak ada lagi, sehingga terjadi defisit kebutuhan air.
 
  Ironisnya di tengah gejala alam yang semakin tidak bersahabat bagi manusia penghuninya itu, praktik-praktik perusakan alam atas nama keuntungan material tetap saja dilakukan. Kawasan Bandung Utara (KBU) yang sejatinya telah ditetapkan sebagai wilayah konservasi, misalnya, selalu saja menimbulkan kontroversi karena lemahnya konsistensi penegakan aturan. Seribu kilah bisa dikedepankan hanya demi kuasa modal.
 
  Akankah semua praktik perusakan alam itu terus dilakukan, hingga alam menebarkan "azab"-nya sendiri? Semoga, momen Hari Air Sedunia tidak sekadar berlalu sebatas seremoni belaka. Kuasa modal sungguh tidak sebanding dengan risiko kerusakan dan bencana alam yang kian hari kian menggayuti pelupuk mata."
 
  Mudah2-an kita para penggiat alam bisa lebih menyadari akan arti pentingnya air. Dan bisa menggunakannya seefisiesn dan seekonomis mungkin dan juga turut serta menjaga kelestarian sumbernya terutama gunung-gunung sebagai menara air alami yang perlua dijaga. Semoga
 
  Salam,
 
  Harley

Dunia berputar dengan cepat

Filed under: Opini Kita - Administrator @ 7:11 am

Dunia berputar dengan cepat…… secepat kita mengedipkan
mata…….secepat kita membalikkan telapak tangan…..
 
Wanderlei Luxemburgo palatih cerdas, ahli strategi, sangat disanjung
pada awal kedatangannya ke Real madrid……tak disangka-sangka enam
bulan kemudian dipecat dengan caci maki….. pulang ke Brasil hanya
membawa satu tas….baju kotor…. karena tak mampu bayar binatu di
Madrid……
 
Titus…… Pangeran Romawi yang gagah berani, thn. 70 masehi dia
hancurkan kebudayaan yahudi…. enam bulan kemudian mati oleh sipilis
karena seleranya tak hanya pada wanita??……
 
John Barxton…… Akhirnya mengemis pada Bill Gates mohon pekerjaan
bagi anaknya……. Bill Gates orang yang dia pecat enam tahun lalu
dari perusahaannya saat Bill Gates tak sengaja menyenggol dengan
tongkat mobil dinasnya (Bill Gates saat itu memakai tongkat untuk
berjalan) …..
 
Marie Goretti kepala biara karmel prancis merasa tak percaya kalau
Claudia Suzzane diminta untuk memimpin Ordo Biarawati tersebut di
seluruh dunia termasuk Prancis…… Claudia Suzzane enam tahun lalu
adalah biarawati muda yang dia rekomendasikan untuk di"buang" ke
Mesir dan melewati hidupnya di biara gurun pasir dengan iklim yang
keras karena bertentangan dengan dirinya….. Marie Goretti, tadi
pagi dalam Misa Pelantikan Claudia, mencium tangan Claudia sebagai
tanda hormat pada pimpinan tertinggi Ordo tersebut…. Claudia masih
tetap tersenyum dengan murah hati seperti saat dia meninggalkan
Prancis dan meminta Marie Goretti untuk tidak mencium tangannya…..
Marie Gorretti hanya bisa menitikkan airmata haru..
 
Willy sangat berterimakasih pada Sarno, pagi tadi Sarno menyelamatkan
nyawa anaknya Caecil dengan membawanya ke Rumah Sakit Mitra Keluarga
Bekasi, anaknya ditabrak lari sepeda motor saat akan menyebrang dekat
TK tempatnya bersekolah, saat itu Sarno kebetulan melintas dan segera
menolongnya, jika terlambat saja, maka Caecil akan lumpuh dan
kehilangan daya ingatnya, atau bahkan meninggal…… Sarno, mantan
Office Boy di Kantor Willy, saat itu sebagai Kepala Bagian Umum Willy
meminta Sarno "keluar dengan Hormat" karena Sarno menjalin kasih
dengan Ully resepsionis pada kantor tersebut dan berencana menikah,
akhirnya Sarno dan Ully memutuskan untuk keluar dan membangun usaha
kecil-kecilan…. "No, apa yang bisa saya bantu untuk membalas
jasamu? engkau sudah bekerja? dimana? bagaimana kabar Ully?’ demikian
Willy mencecar Sarno dengan pertanyaan….. Sarno hanya tersenyum dan
menitikkan airmata, ia tidak ingin menyakiti hati Willy…… Saat
ini, atas nama almahumah Ully yang meninggal saat melahirkan, Sarno
dan kedua anak kembarnya yang masih kecil adalah pemegang 93.5% saham
perusahaan tempat Willy bekerja dan beberapa grup perusahaan karena
usaha kerasnya….. dan dia tetap tersenyum seperti saat ia
berpamitan dengan Willy enam tahun lalu………..
 
Manusia bisa berkehendak dan bertindak, tapi Tuhan punya rencanaNYA
 
Enam tahun? Enam bulan? Enam pekan? Enam hari? Enam Jam? Enam menit?
Enam detik? ……….. secepat apakah DIA akan membalikkan anda jika
anda tak tahu diri?
 
"Semoga kita termasuk orang - orang yang bersyukur atas nikmat yang
diberikanNya….." 
 
By melly Gempita

Kampanye Menolak Privatisasi dan Komersialisasi Sumberdaya Air

Filed under: Opini Kita - Administrator @ 7:09 am

Kampanye Menolak Privatisasi dan Komersialisasi Sumberdaya Air

Hak terhadap air yang setara merupakan hak  asasi setiap manusia. UUD
1945 pasal 33 ayat 2 menjamin hak dasar tersebut.  Pasal 33 ayat 2
tersebut menyatakan, "Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung
didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat ". Kalimat tersebut mengandung
makna tanggung jawab negara untuk menjamin dan menyelengarakan
penyediaan air yang menjangkau setiap individu warga negara.   Pada
tingkat internasional, hak atas air yang setara juga diteguhkan dalam
Ecosoc Declaration (Deklarasi Ekonomi, Sosial, dan Budaya) PBB pada
bulan November 2002.

Namun, hingga kini, hak atas air bagi setiap individu terancam dengan
adanya agenda privatisasi dan komersialisasi air di Indonesia.  Agenda
ini didorong oleh lembaga keuangan (World Bank, ADB, dan IMF) di
sejumlah negara sebagai persyaratan pinjaman. Ini merupakan bagian
dari kepentingan kapitalis global sektor air untuk menguasai
sumber-sumber air dan badan penyedia air bersih (PDAM) milik
pemerintah.  Undang-undang Sumberdaya Air yang baru ini merupakan
bagian dari persyaratan pencairan pinjaman program WATSAL dari World Bank.

Pada tanggal 19 Februari 2004, DPR telah mengesahkan UU Sumberdaya Air
yang baru.  Dalam Undang-undang yang baru ini beberapa pasal
memberikan peluang privatisasi sektor penyediaan air minum, dan
penguasaan sumber-sumber air (air tanah, air permukaan, dan sebagian
badan sungai) oleh badan usaha dan individu.

Melalui privatisasi ini, maka jaminan pelayanan hak dasar bagi rakyat
banyak tersebut akhirnya ditentukan oleh swasta dengan mekanisme
pasar"siapa ingin membeli /siapa ingin menjual".

World Bank menyatakan " Manajemen sumberdaya air yang efektif haruslah
memperlakukan air sebagai "komoditas ekonomis" dan " partisipasi
swasta dalam penyediaan air umumnya menghasilkan hasil yang efisien,
peningkatan pelayanan, dan mempercepat investasi bagi perluasan jasa
penyediaan".   (World Bank, 1992).  Privatisasi air akan meliputi jasa
penyediaan air di perkotaan, maupun pengelolaan sumber-sumber air di
pedesaan oleh swasta.

Menurut World Bank, air yang diperoleh masyarakat saat ini masih
berada di bawah "harga pasar" dan perlu dinaikkan.  Baik World Bank
dan ADB dalam "Kebijakan Air"-nya mendorong diterapkannya mekanisme
harga yang mengadopsi apa yang disebut sebagai Full Cost Recovery.
Secara singkat, Full Cost Recovery berarti konsumen membayar harga
yang meliputi seluruh biaya. Dengan demikian privatisasi, sebagaimana
yang telah terjadi di sejumlah negara, identik dengan kenaikan harga
tarif air.  Pada kenyataanya, justru kelompok masyarakat miskin yang
akan semakin jauh dari akses terhadap air dengan meningkatnya tarif air.

Agenda kedaulatan pangan akan menjadi mengalami ancaman ke depan.
Jika air, sebagaimana yang diinginkan oleh World Bank dan ADB,
diperlakukan sebagai komoditas ekonomis dan pihak yang mendapatkan air
ditentukan atas dasar keuntungan ekonomis semata.  Salah satu contoh,
Pemerintah Daerah Jawa Barat pada tahun 2002 telah mengeluarkan
Peraturan Daerah (Perda) mengenai Irigasi yang baru, dimana salah satu
instrumen yang diadopsi adalah penerapan "cost recovery"  kepada
petani atas penggunaan air irigasi. Sektor pertanian akan semakin
mahal bagi petani dengan diterapkannya tarif atas air irigasi.

 

Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi:

P. Raja Siregar
Manajer Kampanye dan Pengkampanye Isu Air, Pangan dan Keberlanjutan
Telepon kantor: +62-(0)21-791 93 363
Fax: +62-(0)21-794 1673

Fakta:

Pengalaman: Privatisasi Air Jakarta
Dari sisi pelayanan, paska privatisasi kepada kedua mitra asing, tidak
mengalami perbaikan dan peningkatan yang berarti.  Ini terlihat dari
sejumlah indikator utama kualitas pelayanan air minum. Target
pertambahan pelanggan dari tahun 1998-2000 tidak mencapai ketentuan
kontrak, dan lebih rendah dibanding pertumbuhan sebelumnya oleh PAM
Jaya.  Target teknis pemakaian air tidak tercapai, tetap dibawah
kinerja PAM Jaya.
 
Tingkat kebocoran pipa juga tidak sesuai dengan klausul dalam kontrak
dan harapan masyarakat. Tingkat kebocoran pada saat dikelola PAM Jaya
sebesar 53 %, kini berkisar pada angka 48%.  Namun, untuk menekan
tingkat kebocoran (non revenue water) kedua mitra asing hanya
melakukan pembatasan pengoperasian mesin pompa yang terdapat disetiap
instalasi. Dampaknya sejumlah daerah dalam jangkauan pelayanannya
malah mengalami kekurangan air (Komparta, 2005).

Pelanggan Air Minum
Sebelum terjadi privatisasi pertambahan pelanggan baru periode
1988-awal 1998 mencapai antara 9.698-63.934 pelanggan per tahun.(tabe
9l). Sedangkan setelah privatisasi, pertambahan jumlah pelanggan
justru merosot drastis. Pada 1998, antara Februari-Desember, dua mitra
swasta meraup pelanggan baru sebanyak 21.533 pelanggan.  Jumlah ini
jauh lebih kecil dari perolehan pelanggan baru yang digaet PAM Jaya
pada 1997 sebelum terjasi privatisasi yaitu 63.934 pelanggan baru.

Bahkan, pada 1999 (semester pertama) perolehan pelanggan baru dua
mitra swasta asing merosot tajam menjadi hanya 4.879. Bandingkan
dengan perolehan PAM Jaya sebelum terjadi privatisasi pada Januari
1998 (Perolehan pelanggan baru untuk satu bulan) sebesar 5.804. 
Sedangkan dari sisi rasio warga yang terjangkau sebelum dan sesudah
privatisasi tidak berubah signifikan. Pada 1997 sebelum privatisasi
dilakukan, sebanyak 52% warga Jakarta terjangkau PAM Jaya. Sedangkan
setelah privatisasi menjadi 59% (2002).

 Air Minum
Hanya sekitar 40 % warga di perkotaan dan kurang dari 30 % warga
pedesaaan. yang tersambung dengan jaringan air minum (PAM).   Air
minum langsung (potabel water) tidak dibangun di Indonesia sehingga
air dari keran harus dimasak terlebih dahulu. Bagi warga perkotaan
yang tidak terlayani oleh jaringan pipa air minum, sumber air  minum
berasal dari air tanah, air kemasan, atau dari penjual air keliling.

Dari 306 Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang ada di Indonesia,
hanya 10 % yang dalam keadaan sehat.  Selebihnya (90%) dalam keadaaan
kurang baik dan beberapa diantaranya kondisi kritis.  Pemerintah
merencanakan untuk memberikan  bantuan likuiditas kepada PDAM yang
kolaps. Langkah tersebut merupakan bagian dari restrukturisasi PDAM
yang dimulai tahun depan. 

. Krisis Air
Sekitar 65 persen penduduk Indonesia atau sekitar 125 juta jiwa
menetap di Pulau Jawa yang luasnya hanya tujuh persen dari seluruh
luas daratan Indonesia.  Sementara dari sudut potensi air hanyalah 4,5
persen dari total potensi air di Indonesia sehingga menimbulkan
benturan kepentingan.  Dipandang dari segi pengembangan sumber daya
air, permasalahan air di Jawa termasuk kategori kritis.

SAVE OUR PLANET
‘global thinking, local action’
- Komunitas Pendaki Indonesia -
Yahoo! Groups Links

Milist = Arena jitu utk bersatu

Filed under: Opini Kita - Administrator @ 7:07 am

From: hijjau [mailto:hijjau@yahoo.com]

Betapa dasyat kekuatan milist2 yang ada di cyber, bila memang betul2
kita manfaatkan secara optimal dan terkendali.
Salah satu contohnya mungkin Cyber camp 2005 dan yg paling hot adalah
masalah MOGE.

Dalam hitungan waktu yg singkat permasalahan itu menyebar kemana-
mana, lebih efective bukan? Hingga hampir seluruh indonesia atau
bahkan luar negeri pun tahu permasalahnnya. Padahal masalah ini hanya
di publikasikan oleh orang biasa-biasa saja, bukan pejabat ataupun
konglomerat.

Bila kita bisa berkaca dan mengambil hikmah dari semua itu, harusnya
kita juga bisa berbuat yg lebih baik lagi dlm mengoptimalkan
komunitas kita yang mengatas-namakan petualang alam, pecinta alam
ataupun penikmat alam (apalah namanya yg pasti mungkin satu tujuan).
Dimana kita bisa memberikan kontribusi yang lebih positif dalam
rangka ikut memelihara lingkungan dan alam yg indah ini, serta bisa
juga menjadi kontrol dalam setiap usaha2 pemerintah ataupun orang2
yang semena-mena merusak alam ini.

Bayangkan bila semua bisa bergabung menyamakan misi dan visi yang
jelas dan meninggalkan ego-ego yang kadang lebih mengedepan. Saya
yakin pasti suara kita akan terasa lebih lantang dan lebih didengar
oleh mereka.

tapi…..bisakah????????

Panjat Tebing Hobi Unik Berusia Ribuan Tahun

Filed under: Umum - Administrator @ 7:03 am

Panjat Tebing
Hobi Unik Berusia Ribuan Tahun

Dalam sejarah, manusia selalu berusaha berinteraksi dengan alam untuk
survive. Begitu juga dengan panjat tebing, yang lahir dari usaha
manusia untuk bertahan hidup di alam bebas.

Mungkin kita sudah biasa atau justru ikut melakukan hobi wall climbing
yang sekarang populer. Baik dalam bentuk lomba maupun sekadar mengisi
waktu kosong, hobi ini memang cukup mengasyikkan. Apalagi kalau di
sekolah kita disediakan papan panjat. Tidak heran kalau dari hobi ini
sudah banyak teman-teman kita yang menjalani wall climbing bukan lagi
sekadar hobi, tetapi sudah dalam tingkat yang lebih lanjut. Apalagi
kalau bukan ikut dalam sebuah kejuaraan, malah menjuarainya.
 
Wall climbing tersebut (mungkin sudah banyak yang tahu ya) merupakan
modifikasi dari hobi panjat tebing. Dari namanya sudah ketahuan kalau
dua hal ini dibedakan dari medianya; yang satu berdasarkan papan
buatan, sedangkan yang lain beneran tebing dari sebuah gunung atau bukit.

Nah, panjat tebing tersebut merupakan subbagian dari mountaineering
(pendakian gunung), yaitu climbing yang dapat diartikan sebagai
pendakian pada tebing-tebing batu atau dinding karang yang membutuhkan
peralatan, teknik, dan metode-metode tertentu. Sebagai bagian dari
mountaineering atau mendaki gunung, panjat tebing tidak dapat
dipisahkan sejarahnya dari perjalanan panjat dan mendaki gunung.

Ribuan tahun

Kegiatan mendaki gunung ini mulai dilakukan manusia sejak berabad-abad
yang lalu. Dimulai sejak manusia harus melintasi bukit-bukit atau
pegunungan baik untuk melakukan peperangan atau pun ketika melakukan
tuntutan hidupnya. Sejarah yang dapat diketahui dari hal ini adalah
perjalanan Panglima Kerajaan Carthage, Hanibal, yang dilakukan di
pegunungan Alpen di tahun 500 SM. Juga petualangan yang dilakukan
Jenghis Khan yang melintasi pegunungan Karakoran dan Kaukasus untuk
menaklukan Asia Tengah. Atau pendakian Mount Argulle oleh para tentara
Perancis pada tahun 1442.
 
Dalam sejarah yang lebih maju, pendakian yang gemilang pertama kalinya
dilakukan pada tahun 1786, ketika Dr Paccard berhasil mencapai puncak
Mount Blanc (4087 m). Saat itu pendakian dan panjat tebing sudah
menjadi hobi atau olahraga.
 
Dalam babak selanjutnya, puncak-puncak Alpen mulai dijajaki para
penggemar olahraga alam bebas ini. Dan, memang puncak-puncak
pegunungan Alpen hanya bisa dipuncaki dengan mempergunakan
teknik-teknik memanjat tebing. Semakin populer ketika Sir Alfred
Willis pada tahun 1854 berhasil mencapai puncak Watterhorn (di Swiss,
3708 m). Pendakian ini menjadi batu loncatan terbentuknya perkumpulan
pendaki gunung tertua di dunia, British Alpine Club pada tahun 1857.

Sejak babak baru itu para pendaki semakin sering melakukan pendakian
menuju puncak-puncak gunung yang lebih tinggi dan mempunyai tingkat
tantangan yang lebih tinggi pula. Keberuntungan dan anugerah akhirnya
datang pada Edmunt Hillary dan Tenzing Norgay dalam suatu ekspedisi.
Ekspedisi yang dipimpin oleh John Hunt pada tahun 1953 tersebut
berhasil memuncaki Everest, sebuah puncak yang menjadi impian para
pendaki di dunia. Rangkaian-rangkaian ini merupakan titik temu bahwa
panjat tebing merupakan bagian dari kegiatan mendaki gunung. Karena
kegiatan memanjat tebing merupakan penunjang kegiatan mendaki gunung.

Olahraga berprestasi

Panjat tebing masuk ke Indonesia seiring dengan berkembangnya teknik
mendaki. Harry Suliztiarto, seorang mahasiswa Seni Rupa ITB,
memperkenalkan panjat tebing pada tahun 1976. Tepatnya ketika memanjat
tebing-tebing alam Citatah. Peristiwa ini kemudian menjadi tonggak
sejarah berdirinya organisasi kegiatan alam bebas yang mengkhususkan
pada kegiatan memanjat, dengan nama Skygers Amateur Rock Climbing Group.

Pada tahun 1980 kegiatan panjat tebing mulai memasuki babak baru, di
mana kegiatan ini bukan lagi bersifat petualangan tetapi telah menjadi
olahraga prestasi. Perkembangan ini dimulai ketika diadakannya lomba
panjat tebing alam di tebing pantai Jimbaran Bali pada tahun 1987.

Nah, di tahun 1988 diperkenalkan deh dinding panjat tebing buatan
(wall climbing) yang langsung diperkenalkan oleh empat pemanjat dari
Perancis. Sekaligus membentuk wadah sebagai tempat menyalurkan
aspirasi dan hobi serta memanajemen kegiatan panjat tebing agar
berjalan dengan baik dengan nama Federasi Panjat Tebing Indonesia
(FPTI). Pada tahun 1990, untuk pertama kalinya diadakan lomba panjat
dinding buatan dengan tinggi papan lima belas meter yang menjadi awal
sejarah dimulainya lomba panjat tebing buatan di Indonesia sampai saat
ini.

Dasar-dasar panjat tebing

Namanya juga hobi panjat tebing, tentu saja tebing merupakan prasarana
dalam kegiatan panjat tebing. Pengetahuan dasar tentang tebing yang
harus diketahui antara lain: Bentuk tebing, bagian tebing yang dilihat
secara keseluruhan mulai dasar sampai puncak. Bagian-bagiannya antara
lain blank (bentuk tebing yang mempunyai sudut 90 derajat atau biasa
disebut vertikal), overhang (bentuk tebing yang mempunyai sudut
kemiringan antara 10-80 derajat), roof (bentuk tebing yang mempunyai
sudut 0 atau 180 derajat, terletak menggantung), teras (bentuk tebing
yang mempunyai sudut 0 atau 180 derajat, terletak menjorok ke dalam
tebing), dan top (bagian tebing paling atas yang merupakan tujuan
akhir suatu pemanjatan).

Lalu ada soal permukaan tebing yang merupakan bagian dari tebing yang
nantinya akan digunakan untuk berpegang dan berpijak dalam suatu
pemanjatan. Bagian ini di kategorikan menjadi tiga bagian: face
(permukaan tebing yang mempunyai tonjolan), slap/friction (permukaan
tebing yang tidak mempunyai tonjolan atau celah, rata, dan mulus tidak
ada cacat batuan), dan fissure (permukaan tebing yang tidak mempunyai
celah/crack).

Dengan mengenali pengenalan dasar atas medan yang hendak ditempuh,
para pemanjat akan langsung bisa mempersiapkan teknik penaklukannya
dan mengurangi tingkat kesulitannya.
Untuk memudahkan estimasi tingkat kesulitan tersebut, biasanya
digunakan sistem desimal yang dimulai dari angka lima (mengacu pada
standar tingkat kesulitan yang dibuat oleh Amerika).

Tingkat kesulitan 5,7-5,8 adalah tingkat kesulitan pemanjatan yang
amat mudah. Lintasan pemanjatan untuk pegangan dan pijakan sangat
banyak, besar, dan mudah didapat. Sudut kemiringan tebing belum
mencapai 90 derajat.

Tingkat kesulitan 5,9. Tingkat kesulitan pemanjatan yang mulai agak
sulit karena jarak antara pegangan dan pijakan mulai berjauhan tetapi
masih banyak dan besar.

Tingkat kesulitan 5,10. Pada tingkat ini pemanjatan mulai sulit karena
komposisi pegangan dan pijakan sudah bervariasi besar dan kecil. Jarak
antar celah dan tonjolan mulai berjauhan. Terdapat dua tumpuan tangan
dan satu tumpuan kaki, faktor keseimbangan mulai dibutuhkan.

Tingkat kesulitan 5,11. Tingkat kesulitan ini lebih sulit lagi karena
letak antara pegangan yang satu dengan pegangan yang lainnya berjauhan
dan kecil-kecil yang hanya bisa dipegang oleh beberapa jari saja,
kedua tungkai melakukan gerakan melebar agar kaki dapat bertumpu pada
tumpuan berikutnya. Keseimbangan tubuh sangat berpengaruh, bentuk
tebing yang dilalui pada lintasan ini terdapat variasi antara tebing
gantung dan atap.

Tingkat kesulitan 5,13-5,14. Jalur lintasan ini bervariasi antara
tebing gantung dan atap dengan satu tumpuan kaki dan satu tumpuan
tangan. Pemanjat mulai melakukan gerakan gesek (friction) dan bertumpu
pada ujung jari (edginh) bahkan harus mengaitkan tumit pada pijakan
(hooking).

Selain kriteria kesulitan ini, Negara lain juga membuat tingkat
kesulitan sesuai dengan penilaian masing-masing, antara lain Jerman,
Perancis, UIAA (Union Internationale des Association Alpines).

Etika panjat tebing

Seperti hobi atau olahraga lain, panjat tebing juga mempunyai etika
atau aturan yang disepakati oleh para pelaku hobi ini. Ruang lingkup
etika dalam panjat tebing terdiri dari empat hal.

Pertama, masalah teknik pembuatan jalur. Secara umum terdapat dua cara
dalam pembuatan jalur, yaitu aliran tradisional dan aliran modern.
Pembuatan jalur secara tradisional prinsipnya adalah membuat jalur
sambil memanjat. Teknik ini cenderung bernilai petualangan karena
lintasan yang dilewati sama sekali baru, tanpa pengalaman, tanpa
dicoba terlebih dahulu. Sementara itu, pembuatan jalur secara modern
terdiri dari dua cara. Pertama dengan menggunakan teknik tali tetap
(fix rope technique). Pada teknik ini, pembuatan jalur dapat dilakukan
dengan cara rappeling bolting atau ascending bolting. Terlebih dahulu
pada fix rope yang telah terpasang, sedangkan cara kedua mirip dengan
cara pertama, tetapi tidak dengan tali tetapi melainkan dengan
menggunakan top rope.

Lalu ada tentang masalah penanaman jalur. Siapa yang berhak memberi
nama pada suatu jalur tidak ada kesepakatan jelas yang mengaturnya. Di
Indonesia nama jalur merupakan suatu kesepakatan dari seorang atau
sekelompok pembuat jalur.

Masalah keaslian jalur juga masuk dalam poin etika panjat tebing.
Masalah keaslian jalur ini biasanya dikaitkan dengan banyaknya jumlah
pengaman tetap yang ada pada jalur tersebut. Misalkan satu jalur
setinggi lima belas meter dapat dipanjat hanya dengan menggunakan tiga
pengaman tetap, maka selanjutnya pemanjat yang kemudian memanjat harus
tetap menggunakan tiga pengaman yang pertama, tanpa ditambah atau pun
dikurangi, siapapun dia, karena ini secara harfiah telah menjadi jalur
resmi dan menjadi paten untuk jalur tersebut.

Dan, yang terakhir soal pengubahan bentuk permukaan tebing. Untuk
masalah yang satu ini, hampir semua pemanjat sepakat bahwa hal ini
haram hukumnya untuk dilakukan meski untuk menambah kesulitan atau
membuat jalur tersebut menjadi mudah. Tetapi, sebagian kecil kawasan
pemanjatan menerima perubahan ini, namun hanya pada permukaan tebing
yang tanpa cacat sama sekali agar kesinambungan jalur sebelumnya dan
sesudah tetap terjaga.

Dengan mengetahui segi-segi dasar (baik soal teknik atau
peraturan/etika), diharapkan seseorang mulai bisa mengenali hobi yang
sekarang juga jadi cabang olahraga ini. Tentu saja juga diharapkan
bisa menjadi salah satu aktivitas populer di kalangan anak muda.

KHUMAIDI TOHAR Keluarga Mahasiswa Pencinta Alam Eka Citra Universitas
Negeri Jakarta

Pembelajaran dari mendaki gunung

Filed under: Umum - Administrator @ 7:02 am

Pembelajaran dari mendaki gunung

Mendaki gunung, apa enaknya, ….. apa hikmahnya
 
Enaknya …… menikmati pemandangan mengagumi kebesaran sang pencipta.
Dapat dibayangkan gunung yang begitu gagahnya serta menjulang dengan ketinggiannya … yang tersebar diseluruh dunia, dengan bermacam bentuk dan ukuran menandakan betapa dahsyat, betapa hebat, betapa maha …. Sang pencipta.

Manakala kita berada di puncak gunung, kecil kita ….. segala kesombongan, keangkuhan, keserakahan akan sirna, bagaikan debu di tiup angin …… hilang tanpa ada bekas.

Mendaki gunung memberikan hikmah yang begitu dahsyat ….
Disadari atau tidak kita dapat belajar segala hal dalam mendaki gunung, rasa persaudaran, persahabatan yang kian kental, kemandirian yang kita peroleh, tidak mudah menyerah, rasa ego yang kian menipis dalam diri, rasa syukur yang makin tebal.

Mungkin masih teringat dalam benak, disaat kita belum pernah mendaki gunung ….. emosi kita suka meluap, manakala pulang sekolah atau main dari rumah sahabat, perut lapar…. Dirumah hanya dihidangkan oleh ibunda tercinta nasi dengan lauk alakadarnya, kita marah, kita hilang selera melihat hidangan yang alakadarnya ……
Setelah mengalami hal yang mengharuskan kita bertahan hidup dalam pendakian …… makan apapun yang ada dialam, ataupun makan nasi yang masih kurang matang, atau lauk yang lebih apa adanya dibanding waktu dirumah di bagi dengan kawan sependakian. Tentunya menyesal kita telah menyia-nyiakan masakan ibunda tercinta yang sudah menyiapkan makan untuk anak nya tercinta dengan penuh kasih saying, hanya karena hidangan yang apaadanya.

Masih terlalu banyak pembelajaran dari mendaki gunung.
Terimakasih Allah engkau telah berikan pelajaran berharga, dari ciptaan Mu gunung yang begitu indah yang bukan hanya untuk dinikmati oleh mata tetapi harus dinikmati oleh hati nurani yang paling dalam serta menjaganya agar dapat memberikan pelajaran bagi generasi yang akan datang.

By Muchtar, Ahmad (ID - Jakarta) <amuchtar@deloitte.com> 

Seputar Lingkungan : Menneg LH: Kerusakan Akibat Freeport Parah

Filed under: Opini Kita - Administrator @ 6:46 am

Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar menyatakan
kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh PT Freeport saat ini telah
parah.    "Sudah parah kerusakan yang ditimbulkan akibat PT
Freeport, tapi datanya tidak saya bawa," kata Rachmat di sela-sela
lokakarya sosialisasi Clean Development Mechanism (CDM), di Jakarta,
Rabu (25/1).    Rachmat kembali mengatakan pihaknya telah membentuk
tim penilai untuk mengukur dan meneliti kerusakan lingkungan yang
disebabkan oleh PT Freeport. "Sekarang tim kita bisa melakukan
penelitian, setelah sejak dulu Freeport menolak diteliti, dan
sekarang tim masih bekerja," katanya.    Rachmat menegaskan,
penilaian KLH akan mengacu pada standar yang ada seperti penilaian
yang diterapkan pada perusahaan-perusahaan lainnya. "Lebih dari dua
orang, mungkin ada sampai enam atau tujuh orang dalam satu tim
penilai yang mengukur tingkat kerusakaan di Papua yang diakibatkan
PT Freeport," katanya.    Penelitian yang dilakukan KLH di antaranya
adanya dugaan perusakan dan pencemaran lingkungan di sepanjang
Sungai Ajkwa dari hulu sungai hingga mencapai pesisir laut. Limbah
yang ditumpahkan Freeport berupa pembuangan tailing limbah bahan
beracun berbahaya (B3) telah mencapai pesisir laut Arafura. Tailing
yang dibuang melampaui baku mutu total suspended solid (TSS) yang
diperbolehkan menurut hukum di Indonesia.    Sementara, audit
lingkungan yang dilakukan oleh Parametrix, menemukan bahwa tailing
dan batuan limbah Freeport merupakan bahan yang mampu menghasilkan
cairan asam yang berbahaya bagi kehidupan akuatik. Sejumlah spesies
akuatik sensitif di Sungai Ajkwa telah punah akibat tailing dan
batuan limbah Freeport.    Freeport adalah salah satu perusahaan
yang memiliki tambang emas terbesar di dunia. Di Provinsi Papua
Barat, Freeport mulai beroperasi sejak 1967 atas izin pemerintah
semasa Orde Baru.

By Hijjau 

Smilling Gede 3078 Mdpl 22-23 Mei ‘94

Filed under: Catatan Perjalanan - Administrator @ 6:45 am

Pendakian ke puncak Gunung Gede yang dimotori oleh MAPA (Mahasiswa
Pecinta Alam) GUNADARMA, merupakan pendakian resmi pertamaku yang
melelahkan. Gunung Gede pula yang merupakan gunung pertama yang Aku
daki. Pendakian ini Aku jadikan sebagai pelajaran pertama serta
pembangkit semangat untuk memantapkan diri dan sebagai motivasi yang
positif untuk melakukan petualangan sendiri.

Di sini Aku banyak mendapat pelajaran yang sangat berarti dan
pengalaman yang menarik serta membanggakan. Pendakian ini diikuti
sekitar 100 orang. Mereka terdiri dari anak-anak tingkat I, II,
maupun anak-anak yang lebih senior. Acara ini sebagai ajang
perkenalan bagi mahasiswa-mahasiswa baru dengan MAPA GUNADARMA.

Aku salah satu mahasiswa baru yang yang tertarik untuk ikut acara
tersebut. Maka Aku pun mengajak dua orang teman sekelasku (Doni dan
Ami). Kami pun mendaftarkan diri ke sekretariat MAPA GUNADARMA. Di
sana Aku bertemu dengan Endit (teman satu SMA) dan Ira.

Sore itu tanggal 22 Mei 1993 jam 17.00, tampak dua buah truk TNI
beriringan dari kampus GUNADARMA Pondok Cina menuju Cibodas
(Cianjur). Kedua truk melaju dengan cepat menelusuri jalan raya
puncak yang menyuguhkan pemandangan yang indah.

Malam itu jam 21.00, para peserta Smilling Gede tampak bergerak
menuju Pos Penjagaan untuk melapor. Satu jam berikutnya pendakian
Gunung Gede dimulai. Aku mendapat regu 11, sedang Ami, Doni, Endit
dan Ira bergabung dengan regu 9. Semua mendaki dengan santai sambil
bersenda gurau, membuat pendakian ini begitu menyenangkan. Setiap 1-
2 jam perjalanan kami selingi dengan istirahat. Selama perjalanan
banyak ditemui pos/selter yang sengaja didirikan untuk tempat
beristirahat para pendaki. Pos-pos itu diberi nama yang unik.
Ada ‘Kandang Badak’ ada ‘Pemandangan’, ada ‘Kandang Batu’ dll.
Selama pendakian Aku bergabung dengan regu Endit. Ketika sampai di
Kandang Badak, sebagian pendaki beristirahat untuk tidur atau masak,
tetapi ada juga yang terus mendaki. Di sini Aku terpisah dengan regu
Endit, Aku mencari kemana-mana tapi tak ku temui mereka.

  Aku berpikir mereka meneruskan pendakian tanpa terlihat olehku.
Maka Aku pun menyusulnya seorang diri. Aku berjalan dengan cepat,
harapanku dapat segera menyusul meraka. Tetapi setelah sekian lama
Aku berjalan, mereka tak kunjung terlihatt. Aku bingung…. dan tiba-
tiba Aku sadar bahwa Aku telah cukup jauh berjalan seorang diri.
Waktu itu sekitar jam 2.00 pagi, Aku begitu ketakutan. Aku mencoba
menunggu beberapa saat dengan harapan bertemu dengan regu lainnya.
Semakin lama Aku menunggu, semakin menjadi ketakutanku. Ingin
rasanya Aku berteriak dan menangis. Akhirnya dengan perasaan yang
tak menentu Aku putuskan untuk terus mendaki. Aku terus mendaki
dengan sejuta rasa takut yang terus menghantuiku. Selama perjalanan
sering kali Aku dibuat terkejut oleh binatang-binatang malam. Aku
terus berdoa semoga tidak akan terjadi sesuatu yang buruk yang
menimpaku.

Hari hampir menjelang pagi, akhirnya stelah sekian lama berjalan aku
bertemu dengan regu lain yang berada di depanku. Aku mengucapkan
syukur pada Allah SWT karena telah mempertemukan dengan regu lain.
Aku merasa lega, dan ternyata Puncak Gunung Gede semakin dekat.
Track atau jalur terakhir yang harus kulalui adalah jalur yang
paling menanjak. Track ini dinamakan ‘Tanjakan Setan’ atau ‘Tanjakan
Rante’ dengan kemiringan hampir 90 derajat. Dengan sisa-sisa tenaga
aku kuatkan untuk terus mandaki. Sampai
akhirnya…."Alhamdulillah…!!!", teriakku tak kala kugapai Puncak
Gunung Gede. Saat itu jam menunjukkan pukul 5.30 pagi. Aku begitu
terpesona melihat pemandangan yang ada disekelilingku. Ternyata saat
itu Sunrise di Gunung Gede sedang berlangsung. Warna awan yang
keemasan menyelimuti seluruh permukaan puncak Gunung Gede. Suatu
pemandangan yang menakjubkan yang belum pernah Aku lihat sebelumnya.
Aku bagaikan berada di Negeri Awan yang hanya ada di dongeng-dongeng
klasik. Ingin Aku mengabadikan kejadian yang mempesona itu, namun
Aku lupa kalau kamera dibawa oleh Endit.

Sekitar jam 7.00 barulah regu Endit sampai di puncak. Kami pun
berphoto bersama. Lalu aku bertanya kepada mereka mengapa mereka
terlambat sampai di puncak…?

By Hijjau  

Tgl 21 & 22 Januari dalam Sejarah Dunia

Filed under: Umum - Administrator @ 6:44 am

300 Ribu Warga Teluk Benggali Tewas Akibat Angin Topan
  21 Januari tahun 1737, sebuah topan dahsyat melanda Teluk Benggala. Akibatnya, 300 ribu warga setempat tewas seketika. Teluk Benggala adalah sebuah kawasan di selatan Benua Asia. Daerah itu memang sangat sering dilanda angin topan. Akan tetapi, angin topan yang terjadi tahun 1737 adalah bencana dahsyat dengan korban paling banyak sepanjang sejarah di kawasan tersebut.
  Raja Louis XVI Dihukum Pancung
  21 Januari tahun 1793, Raja Perancis Louis XVI dihukum pancung dengan menggunakan alat penjagal terkenal di Perancis waktu itu, yaitu guilllotine. Peristiwa tersebut terjadi empat tahun setelah berlangsungnya revolusi Perancis. Raja Louis XVI naik takhta kerajaan pada tahun 1773. Tahun 1789, rakyat Perancis bangkit melakukan revolusi yang dipicu oleh buruknya situasi ekonomi Perancis. Pada tahun itu juga, Tahun 1792, perjuangan rakyat Perancis berhasil menumbangkan sistem kerajaan Perancis. Raja Louis sendiri terguling dari kekuasaan. Akan tetapi, ia kemudian diketahui meminta bantuan dari pihak asing untuk mengembalikan kekuasaannya. Ia akhirnya dihukum pancung dengan tuduhan telah melakukan pengkhianatan kepada negara.
  
  Lenin Meninggal Dunia
  21 Januari tahun 1934 Vladimir Illych Ulyanov yang dikenal dengan nama Lenin meninggal dunia. Lenin yang dilahirkan tahun 1870 adalah pemimpin revolusi Sovyet. Sejak muda, Lenin telah aktif dalam gerakan Marxis yang bertujuan menggulingkan kekaisaran Rusia. Akibatnya, dia pernah dipenjara dan dibuang ke Siberia.  Setelah menjalani masa pembuangannya, Lenin pergi ke London dan di sana ia mendirikan Partai Buruh Sosial Demokratik Rusia.  Sejak awal, ada dua kubu yang berseteru dalam partai ini. Pertama, kubu Bolshevik yang cenderung pada militerisme di bawah pimpinan Lenin dan kedua, kubu Menshevik yang cenderung demokratis. Pada tahun 1912, Lenin mendirikan Partai Bolshevik.
  Setelah kemenangan revolusi Rusia 1905, Lenin kembali ke Rusia, namun pada tahun 1907 ia dibuang oleh Kaisar Nicholas II yang berkuasa saat itu. Pada tahun 1914, meletuslah Perang Dunia Pertama yang mengakibatkan tergulingnya Kaisar Nicholas II dan berakhirnya era kekaisaran di Rusia.
  Pada tahun 1917, Lenin memimpin pemberontakan Bolshevik di Rusia. Partai Bolshevik di bawah pimpinan Lenin menggulingkan pemerintah Rusia saat itu dan dalam dua hari, terbentuklah pemerintahan baru dengan Lenin sebagai pemimpinnya. Pemerintahan Bolshevik Rusia kemudian berganti nama dengan Republik Sosialis Uni Soviet dan merupakan negara Marxis pertama di dunia.
  
  Suasana Kemenangan Revolusi Islam Makin Terasa di Iran 
  21 Januari 1979, terjadi sejumlah peristiwa yang menandai semakin dekatnya kemenangan revolusi Islam Iran. Penjara-penjara politik sudah tidak terkontrol lagi sehingga banyak tahanan politik yang berhasil membebaskan diri dari sekapan penjara Rezim Syah. Pada hari itu juga, sejumlah perwira angkatan udara Iran melakukan aksi turun ke jalan menyatakan solidaritas mereka terhadap gerakan revolusi. Pada hari yang sama, berita-berita utama di koran-koran besar nasional secara serentak dipenuhi dengan laporan tentang akan kembalinya Imam Khomeini dari Paris ke Iran.
  
                    Francis Bacon Lahir
  Tanggal 22 Januari 1561, Francis Bacon, filsuf dan matematikawan asal Inggris terlahir ke dunia. Ia awalnya adalah seorang politisi. Akan tetapi, setelah terkena tuduhan melakukan korupsi, Bacon dipenjara. Di dalam tahanan itulah ia menunjukkan kejeniusannya. Di penjara, Bacon menulis sejumlah buku. Lewat buku-bukunya, Bacon memberikan sumbangan tak terhingga kepada kemajuan ilmu matematika dan filsafat Eropa. Di antara buku-bukunya yang terkenal adalah "The Logic of Sensation". Ia juga pernah menulis buku berisikan utopianya tentang pembangunan kota dan peradaban di bawah laut bernama "The New Atlantis".
  
  Ratu Victoria meninggal Dunia
  Tanggal 22 januari tahun 1901, Victoria, Ratu Inggris terkenal, meninggal dunia pada usia 82 tahun. Ia dilahirkan tahun 1819 di kota London. Pada usia yang masih sangat muda, yaitu 18 tahun, Victoria sudah menjadi penguasa kerajaan Inggris, menggantikan pamannya, Raja Wiliam IV, yang meninggal dunia. Ratu Victoria memerintah selama 63 tahun sehingga merupakan masa pemerintahan terlama dalam sejarah Inggris. Victoria berhasil mempertahankan keberadaan sistem monarkhi di Inggrsi dan menjadikannya sebagai institusi politik seremonial. Pada masa pemerintahannya itulah, aksi represi terhadap rakyat di kawasan-kawasan koloni Inggris meningkat  secara signifikan.
  Pada tahun 1839, sepupu Victoria, Albert, seorang pangeran dari Jerman, datang ke Inggris dan lima hari kemudian, ia dilamar oleh Ratu Victoria. Pangeran Albert menerimanya dan mereka menikah pada bulan Februari tahun 1840. Pasangan ini memiliki sembilan anak, di antaranya Raja Edward VII. Setelah kematian Victoria, kekuasaan Imperium Inggris di bawah kepemimpinan Raja Edward VII, semakin melemah. 
 
 
  Panitia Peyambutan Kepulangan Imam Khomeini Dibentuk
  Tanggal 22 Januari 1979, dalam rangka menyambut kepulangan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Imam Khomeini dari Paris, sebuah panitia penyambutan dibentuk oleh para ulama dan tokoh-tokoh masyarakat Teheran. Pembentukan panitia ini ternyata bukan hanya didukung oleh warga Teheran. Rakyat Iran dari berbagai pelosok negeri juga berdatangan ke Teheran untuk menyatakan dukungannya kepada pembentukan panitia tersebut. Mereka juga datang ke Teheran sekaligus untuk langsung terlibat dalam upacara sambutan atas kedatangan pemimpin agung mereka.
  
  Fisikawan Andrei Sakharov Ditangkap
  Tanggal 22 Januari 1980, Andrei Sakharov, ilmuwan nuklir Soviet, ditangkap oleh pemerintah Kremlin karena protes kerasnya atas invasi tentara merah Uni Soviet ke Afghanistan. Sakharov dilahirkan tahun 1921. Pada tahun, 1948, setelah menyelesaikan masa belajarnya di jurusan Fisika Universitas Moskow, Sakharov direkrut oleh Badan Nuklir Uni Soviet untuk dilibatkan dalam proyek pembuatan bom hidrogen. Sakharov adalah tokoh utama di balik kesuksesan tim Uni Soviet dalam merakit bom hidrogen pertama di dunia yang dibuat pada tanggal 22 November 1955.
  Pada tahun 1957, ia mulai tertarik kepada masalah-masalah yang terkait dengan dampak negatif proyek-proyek senjata nuklir terhadap lingkungan dan keamanan dunia. Akan tetapi, berbagai kritikannya terhadap masalah dampak proyek nuklir itu masih disebut sangat lunak. Barulah pada tahun 1969, ia menulis sebuah essay di Koran New York Times. Pada essay-nya itu, ia menyerukan demokrasi, pluralisme, dan pembebasan masyarakat Soviet dari intoleransi dan dogmatisme. Ia juga menyeru masyarakat dunia agar peduli dengan masa depan.
  Pada tahun 1975, Sakharov mendapatkan hadiah Nobel di bidang perdamaian. Ia menjadi orang Soviet pertama yang memperoleh penghargaan tersebut. Akhirnya, menyusul kritikannya yang sangat keras atas aksi invasi Soviet ke Afghanistan, Sakharov ditangkap dan diasingkan ke Gorky. Di tempat pengasingannya itu, Sakharov menjalani hari-hari kehidupannya dengan sangat berat. Pada tahun 1986, saat pemimpin reformis Soviet Mikhail Gorbacfhev berkuasa, Sakharov dibebaskan dan diperbolehkan kembali ke Moskow.

http://www.anakabah.blogspot.com/

Hey…hey….siapa dia ??

Filed under: Catatan Perjalanan - Administrator @ 6:40 am

Hey…hey….siapa dia ?? kaya lagu yang biasa dinyanyiin waktu saat
kuis siapa dia, kami berdua terus mencoba untuk terus bertanya……….
Pagi ini, casio baru hadiah ulang tahun kemaren terlihat angka 6.30 WIB,
21 Juli 1994. Kaki-kaki masih terasa agak bengkak setelah sebelumnya
dihajar beberapa bukit dan beberapa kali nyasar menembus kaki-kaki
Merbabu. Udara Selo pagi itu cerah dan dingin sekali maklum memang lagi
hot-hotnya musim kemarau dan saat itu gw paksakan untuk bangkit dari
kantung yang anget itu. Weks si Bravo, satu-satunye temen gw ini masih
kenceng banget ngoroknye laksana habis macul tanah berhektar-hektar tapi
ga digaji …….jadi bisa ngebalesnye lewat tidur doangan.
Mmmhhhh segar bener nih udara ngebantu menyegarkan betis yang dari tadi
malem mo mledak aje, ya…malam itu kita bedua nginep dirumah pak
Ruslan….salah seorang warga yang kebetulan ketemu kita kemaren siang
waktu mo nyari tempat istirahat emang dasar rezeki ada aja jalannya
selain tempat nginep juga dikasih makan n minuman hangat pula (matur
nuwun sanget pak).
Pagi ini rencananya kita mo jalan-jalan seputaran selo dan nanti malam
baru berangkat ke Merapi, setelah sarapan tumis kangkung plus tempe
menjes yang suueweger ala Ibu Ruslan, kita berdua berjalan-jalan bak
Juragan ama Mandor tanah yang lagi ngecek Aktiva Tetapnya. Rencananya
kita mo daftar buat pendakian nanti malam, buset dah daftar dimane nih??
Kok kaga ada pos sama sekali..?? "mo mendaki merapi ya mas ??" tiba-tiba
ada suara lembut yang ternyata seorang gadis desa, "
hheehhee……..biar masih banyak jigong klo dah ketemu yang beginian
mah semua pasang aksi "tapi emang gw akuin lo hebat kawan" batin gw
sambil berpaling ke temen gw itu yang udah ngobrol bak temen lama
……….tinggal gw aja yang slanang-slonong nyari orang buat nanya
dimana klo daftar………jawaban yang gw dapet selalu langsung naik aja
mas asal hati-hati…..weks….asyikk….
Setelah gw yakin beneran tinggal naek aja, kembalilah gw menuju sebuah
rumah dipinggir jalan arah ke jalur merapi via selo dimana Si Bravo
masih ngobrol sama gades yang terakhir gw kenal namanya Ayu…yah se ayu
orangya memang. Setelah puas ngalor ngidul ngobrol tibalah satu kalimat
kunci dari si Ayu " Emang ga takut Cuma berduaan doang ??" "ahhh kamu
bisa aja, nanti juga banyak temen" kilah gw. " loh mas, nanti malam kan
malam jumat ……….mana ada yang mo naek merapi??" gubraxxx,
seumur-umur yang namanya jumat cuman gw tau di kalenderan eyang kakung
gw tapi ga pernah geder klo ngadapinnye tapi yang ini kenape terasa
banget yak ??? dalam hati …setelah kenyang angin gara2 ngobrol kita
pun pamit balik ke tempat pak Ruslan yang justru "Aneh" karena dia
katanya ga kenal……..alamakkkk……..
Sore ini udara cukup anyep, kita bedua sepakat klo naek sore aja karena
Cuma punya buku sebagai referensi dan guide…..maklum
rookie……..tepat pukul 16.00 kita berangkat.
Jalan makadam menuju jalur tanah merapi memang lebih dekat dibandingkan
dengan merbabu, tetapi dengan terus-menerus naik bikin betis cepet
banget mekar kaya jagung yang dijadiin pop corn………..hampir +/- 20
Menit sampe juga disebuah pos kanan jalur batas tanah dengan bebatuan,
cepet2 ambil posisi nyaman buat nyandarkan badan ini. Setelah beberapa
lama datang beberapa penduduk sekitar dari ladang
mereka….."alhamdullilah"…akhirnya kita berbicara mengenai jalur yang
akan dihadapi lumayan buat pegangan. Setelah cukup kita pun pamit
berangkat dengan sebuah pesan yang cukup bikin kuping ini panas "
hati-hati ya dijalan…..ini malam jumat lohh"……..shit !! kenapa sih
???
Jam menunjukan pukul 18.00 dan kumandang adzan dari radio muntilan pun
terdengar lantang, terpaksa perjalanan kita hentikan disebuah belokan
penuh batu yang cukup besar. Sengaja kita memilih berlindung dibelakang
sebuah batu besar dari serangan angin yang sore menjelang malam itu
bikin gemeteran tangan. Lepas sholat maghrib, tiba2 gw ngeliat sebuah
sosok "sepertinya" wanita duduk diatas batu yang disender si
Bravo……….alaammmaakkkkk……….apaan tuhhhhhh…..baju putih
panjang rambut terurai kebawah dengan sedikit senyuman dan lingkaran
mata agak menghitam………….buset kena terrorist lagi nih
gw……..!! buru2 gw ajak bravo buat jalan lagi saat itu n jalan
terus…….jalan terus…..sampe nafas bener2 ambrol….minum dikit n
jalan lagi…….pokoke gw ga mao diikutin apa lagi diisengin ama
"mereka" bisa-bisa suwe nih !! sampe akhirnya disebuah tanah lapang
banyak batu dengan sebuah susunan batu didepannya sekitar jam
9an………ohh ini mungkin pasar bubrah …..
Setelah nyari yang tempat buat ngedom, baru dah bikin makan n minum
sambil ngobrol sana-sini sampe suatu saat ada bayangan lewat dibelakang
tenda….kamprett !! die ngikutin kayanye nih………huh …antara
berani dan takut belom lagi mitos kerajaan jin dll dah….bikin ngeper
juga nihh…..sial mana bener2 ga ada Pendaki laen lagi………
Aahh cuekin aja dah…….sampe selesai makan n minum si Bravo ngajak
keluar kandang nikmatin bintang yang malam itu memang lagi saling
nunjukin cahaya masing2. gw tolak ajakannye dengan alasan badan
pegel-pegel n jaga stamina buat ke Lawu besoknya…kami pun akhirnya
tertidur setelah Djarum Super terakhir habis.
Badan ini kok rasanya bergerak …….kenapa yak ?? cepet2 gw bangun
dari kantong dan coba ambil sentolop buat ngeliat kondisi diluar
…….masyaallah……..ternyata kita udah pindah sejauh 2 meter dari
tempat kita menancapkan jangkar doom…..wah kayanye udah ga bener
nih…..ahh sa bodo teuing …….turu maneh wae…….setelah membaca
sedikit amalan dari H. Idris tetangga rumah gw kembali ke kantong dan
pulas hingga subuh……….
Shubuh udah berlalu dan perut dah terisi yang hangat2 tapi kita belum
juga berani melangkah karena keadaan masih gelap sedangkan jalur belum
juga terlihatR